Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Yuyun Iriyanti

Belajar untuk memahami

MKRI Berharap Kudeta Manfaatkan HMI

OPINI | 18 March 2013 | 18:27 Dibaca: 1059   Komentar: 0   0

13636059992084783016

Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) rencanaya akan mengelar aksi bersamaan di seluruh indonesia dan focus aksi di depan istana negara. pada 25 Maret 2013 melakukan Aksi Damai bersama rakyat di wilayah masing-masing, serempak, bersama-sama dan terus menerus, memprotes pemerintahan SBY. Seruan ini disampaikan MKRI Pusat melalui Ketua Presidium MKRI, Ratna Sarumpaet, dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu (10/3/2013).

Beberpa alasan yang menjadi alasan mereka menlakukan kudeta dengan demo damai yakni, adanya semua peristiwa akhir-akhir ini, Sarumpaet menganggapn SBY-Boediono memang sudah harus mundur. Serunn mundur ini didasari atas terjadinya masalah akibat ketidak beresan pemimpin di negeri ini. Yakni, konflik TNI-Polres di Sumsel; Pembakaran mobil pada pelantikan Gubernur Sultra; Wartawati dianiaya aparat dan keguguran: Penganiayaan Direktur Walhi Palembang dan mahasiwa Jambi, Persoalan Papua yang ber-larut larut; Menegpora yg Korupsi; Konflik Partai Demokrat yang menguak dugaan keluarga SBY dan Partai Demokrat terlibat korupsi Century, manipulasi IT KPU dan lain-lain, menunjukkan betapa tdk ada lagi kekuasaan/sistem yg legitimated yg patut didengar, dihormati dan dipatuhi Rakyat. SBY-Boediono juga gagal melindungi uang negara, kekayaaan alam, batas batas wilayah; Gagal lindungi Rakyat dari ketidak-adilan, kemiskinan, kekerasan, Pemerintahan SBY mendorong kita ke puncak ketidak percayaan pd Negara dan mengkharusan Rakyat merapatkan barisan mengatasinya.

Beberapa tokoh yang berencana melakukan kudeta massal terhadap NKRI diantaranya seperti Rizal Ramli dari kalangan politisi dan pakar ekonomi, Azyumardi Azra dari kalangan akademisi, Ratna Sarumpaet selaku Ketua Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia, dan banyak tokoh pakar lainnya. Sepuluh lebih tokoh oposisi yang menjadi nara sumber pada kesempatan itu menyatakan kesepakatannya bahwa kedaulatan sudah tidak dimiliki oleh bangsa Indonesia disebabkan oleh penguasaan asing terhadap semua sumber daya milik Indonesia. Semuanya sepakat untuk melanjutkan wacana oposisi mereka ke tahap aksi.

Menjadi pertanyaan hari ini adalah apa yang di kumandangkan oleh mereka sebagai kudeta dengan mempertanyakan beberapa permasalahan permasalahan tidak masuk akal. Konflik kewilayan lebih banyak disebabkan oleh pengusa daerah yang memang tidak bisa mengedepankan kepentingan rakyatnya, hamper kita ketahui beberapa pemimpin wilayah di Indonesia berasal dari partai partai yang ada di Indonesia seperti Golkar, PDIP dan lain sebagainya. Membicarakan ekonomi yang lemah, justru hari ini ekonomi kita bisa dianggka stabil walau hanya 6%, bila dibandingkan dengan krisis di eropa yang menghantam beberapa Negara eropa seperti yunani dan yang lain, Indonesia masih terbilang mampu bertahan bahkan mempertahankan perekonomian tanah air.

Keberadaan Persiapan aksi kudeta menjadi lucu lagi di saat para tokoh yang mengaku anti pemerintah, kita semua mengetahui mereka tidak memiliki massa yang kongkrit sebut saja Rizal Ramli yang terbiasa membiayai aksi aksi demontrasi di beberapa demo di tanah air. Kekuatan uang rizal ramli memang tidak terbendung, akan menjadi sia sia jika mereka memanfaatkan uangnya untuk menghancurkan Negara tercinta kita ini. Ratna Sarumpaet dan Azyumardi Azra adalah dua tokoh yang menentang islam dan perkembanganya, saat ini mereka di sebut aktivis ompong karena bercuap cuap minta dukungan massa tanpa memiliki massa kongkrit. Hari ini mereka berdua yang anti islam berusaha menggaet HMI sebagai kekuatan massa dalam demo tanggal 25 maret nanti. Mereka sudah memahami bahwa HMI pada tanggal 15 sampai dengan 23 maret sedang melakukan hajatan 2 tahunan yakni kongres HMI, Bukan hanya hanya 2 atau 7 wilayah dalam kongres HMI semua mahasiswa seindonesia dari semua plosok di tanah air hadir di Jakarta dalam kongres tersebut.

Memanfaatkan HMI adalah sebuah tindakan bodoh, HMI adalah organisasi Islam Mahasiswa yang KeIndependenanya terjaga dalam Ranah marwah organisasi. Tidak semudah untuk menmanfaatkan kader HMI dalam ranah kepentingan politik praktis mereka, bila masyarakat biasa mungkin bisa dengan uang yang mereka miliki (Rizal cs) akan tetapi HMI adalah mahasiswa yang identik berintelektual aktif dan tidak mudah terprovokasi. Beberapa pecan yang lalu sempat terberitakan oleh media terkait pernyataan PB HMI yang menyatakan PB HMI tidak ingin Presiden sebagai kepala negara  dan simbol negara terlecehkan. Kedua adalah, HMI sebagai organisasi yang independen ingin menjaga silaturahmi dalam keluarga besar HMI.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 13 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 15 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: