Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Zulfahmi Fahmi

www.opinimeter.com follow @opinimeter Peneliti survei sejak Pemilu 1999. Bukan pecahan dari lembaga survei manapun. Profil kami download selengkapnya

Mengapa Quick Count (Selalu) Akurat, Survei Elektabilitas (Sering) Meleset?

OPINI | 18 March 2013 | 04:41 Dibaca: 1222   Komentar: 0   0

13635560551051725255

www.opinimeter.com

Analisis ini sudah diposting di timeline @opinimeter

Bbrp pertanyaan diajukan pada @opinimeter kenapa berbagai hasil survei pilkada DKI dan pilkada Jabar dan daerah lainnya berbeda antar lembaga survei?. Berikut ini penjelasannya

1. Cek dulu apakah survei-survei tersebut pada durasi waktu yang sama/hampir samaSurvei adalah snapshot opini publikmestinya hasil sama jika berbarengan

2. Cek apakah ada klaim lembaga survei bahwa responden dipilih secara acak (random). Jika responden dipilih secara acakbisa dibandingkan dengan survei yang acak juga

3. Karena survei dengan pemilihan responden tidak secara acak hasilnya pasti akan bedasehingga tidak bisa dibandingkan dengan survei yang respondennya dipilih secara acak pula

4. Lalu cek berapa besaran error yg diumumkan pada masing2 surveibandingkan apakah kedua hasil survei berada pada rentang yg berhimpit atau tidak?

5. Misal pada survei lembaga X, elektabilitas si A 30% dengan error +/- 5%. Artinya elektabilitas siberada pada satu titik antara 25% hingga 35%

6. Pada survei lembaga Y, elektabilitas si A 36% dengan error +/- 3%. Artinya elektabilitas siberada pada satu titik antara 33% hingga 39%

7. Kalau kedua survei dibandingkanmasih ada titik yang berhimpit pada angka 33%-35%. Artinya kedua survei pada dasarnya punya hasil yang sama secara statistik

8. Pada survei lembaga Z, elektabilitas si A 20% dengan error +/- 3%. Artinya elektabilitas si A  berada pada satu titik antara 17% hingga 23%

9. Hasil survei lembagaini berbeda dengan lembagadan Y, karena rentang hasil surveitidak berhimpit dengan hasil X & Y. Tapi belum tentu lembaga Z yang keliru !

10. Bisa saja survei lembagadan Y yang keliru memperkirakan elektabilitas si A. Karena apaadanya faktor penting yaitu non-sampling error (NSE)

11. Besaran error yg kerap disebut-sebut oleh lembaga survei (yaitu Margin of Error) hanya mengacu pada Sampling Error. non-Sampling Error diklaim 0 (nihil)

12. Jadi memakai istilah Margin of Error (MoEkelirukarena seharusnya kita menyebutnya dengan Sampling Error. MoE = Sampling Error + non-Sampling Error

13. Sampling error adalah tingkat kesalahan yg dimungkinkan secara statistik karena penarikan sampel (sampling). Ini bisa diperkirakanada rumus statistiknya

14. Bagaimana hitung sampling error (SE) dalam surveiRumus: 100% dibagi akar dari jumlah respondenJika responden=400 orangakar 400=20, maka SE adalah 100%/20=5%

15. Apa saja non-sampling error? Kualitas pelatihan pewawancarakontrol atas kegiatan lapanganbunyipanjang kuesionerindependensi, Quality Control, analisis dan lain-lain

16. Bagaimana menghitung non-sampling error (NSE) ? Tidak bisa. NSE berbeda-beda tiap lembaga survei karena tergantung pada “jam terbang“ para penelitinya

17. Ada dua survei berbarengan dan teknik samplingnya tepat tapi hasilnya berbeda secara statistikpasti sumber masalahnya pada non-sampling error

18. Jika hasil keduanya berbedapasti salah satu atau kedua survei tersebut mengandung non-sampling error yg besarsehingga hasilnya jadi berbeda

19. Dua survei berbarengan dengan metode sampling yang tepatdisertai kontrol yang ketat untuk menihilkan non-sampling error, seharusnya hasilnya akan sama

20. Dua lembaga yang punya hasil survei bedabisa jadi sama-sama kurang ketat dalam mengontrol non-sampling Error, sehingga hasil survei keduanya sama2 keliru

21. Jadi jika dua lembaga survei rilis hasil yang berbeda padahal berbarenganresponden dipilih secara acakbisa salah satunya keliru atau keduanya keliru

22. Karena itu tidak heransemua lembaga survei keliru memrediksi JokowiKarena survei2 tersebut memiliki non-sampling error yang cukup besar pada saat itu

23. Bukan Jokowi yang “tancap gas” saat masa tenangtetapi lembaga-lembaga survei yang kurang piawai melakukan pengukuran elektabilitas Jokowi

24. Namun tdk satupun lembaga survei mengaku gagal dalammengatasi” non-sampling error. Alasan klisenya terjadi perubahan signifikan pada masa tenang

25. Sekarang lembaga survei bak jamur,banyak yg cukup mahir dalam sampling tapi belum tentu mahir menihilkan non-sampling error. Tergantung jam terbang peneliti

26. Karena itu publik hendaknya menyadari banyaknya versi hasil survei opini publik adalah bagian dari proses belajar para pollster di Indonesia

27. Survei sebagai alat ukur dalam politik mulai dikembangkan 1997 dipelopori LP3ES. Kami di @opinimeter termasuk salah satu penelitinya era itu

28. LP3ES juga menggelar pelatihan gratis metode polling untuk wartawanlitbang media massaaktifis LSM tahun 1999-2002 dalam puluhan gelombang

29. Namun survei politik makin menarik perhatian publik sejak era pemilihan langsung presiden mulai 2004 dan pilkada langsung mulai 2005

30. Lembaga-lembaga survei yang populer baru berdiri 2003, tujuh tahun setelah LP3ES rutin merilis hasil survei politiknya di sebuah majalah nasional

31. Sebagian politisi awalnya tidak percaya hasil Quick Count LP3ES pada pileg dan pilpres 2004, karena diprediksi partainya kalahcapresnya kalah

32. Masyarakat makin yakin akurasi statistik dalam survei dan quick count. Kini masyarakat menanti-nanti hasil survei & Quick Count tiap pemilupilkada

33. Dengan banyaknya versi hasil survei yang berbeda-bedamasyarakat makin faham membedakan mana lembaga survei abal-abal dan mana lembaga survei kredibel

34. Akan terbukti lembaga survei yang kredibel yang bertahanLembaga survei kualitasjamur“ akan hilang dengan sendirinyasetelah musimnya berlalu

35. Untuk memrediksi elektabilitas tidak cukup diwakili dengan pertanyaan: “jika pilkada hari inipilih siapa?“. Pengukuran elektabilitas cukup kompleks

36. Ada beberapa dimensi yang harus digunakan dalam melakukan pengukuran aspek krusial seperti elektabilitasTidak sesederhana pertanyaan kuesioner tadi

37. Kredibilitas survei tergantung jam terbang penelitinya dalam hal non-Sampling Error. Tidak cukup hanya menguasai cara penarikan sampel acak

38. Semua pakai metode sampling yg samatapi instrumen kuesionermanajemen lapangan, quality control & analisis tergantung jam terbang penelitinya

39. Diharapkan publik pemerhati survei-survei politik mendapat sedikit pencerahanJika ada pertanyaan silahkan follow atau mention@opinimeter

Download Company profile OPINIMETER INDONESIA klik www.opinimeter.com/op.pdf

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 9 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: