Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Boby H.

Independen, Mengembalikan pemikiran pada Kemurnian , Anti Pragmatis

PKS Bukan Islam

OPINI | 17 March 2013 | 15:49 Dibaca: 979   Komentar: 0   0

PENGANTAR :

Ada suatu hal yang perlu dipahami sebelum masuk ke Topik Utama adalah, Apakah Benar Ada Partai Islam di Negri ini

Jawabnya adalah TIDAK ADA..!

Lalu bagaimana dengan PKS yang masih memakai label Islam dalam Asas partai nya. Label Islam di partai jangan disamakan dengan pemahaman Islam sebagai Agama atau Keimanan yang memang sudah menjadi keyakinan mayoritas pendududuk negeri ini.

ISLAM adalah Agama (Dienul Islam) yang dianut oleh Mayoritas penduduk Negri ini. Sedangkan PKS adalah PARTAI POLITIK.

Pemahaman ini merujuk pada Institusi PARTAI bukan orang per orang yang ada dalam partai.

Jadi jangan Rancu dalam memaknai ISLAM dengan PKS, Dua hal yang berbeda karena ISLAM adalah Agama yang sudah ada sejak jaman Nabi2 terdahulu.

ISLAM tidak butuh PKS, tapi PKS butuh ISLAM. Ada atau tidak ada nya PKS tidak ada pengaruhnya bagi ISLAM.

Sekarang apakah PKS yang melabelkan partai nya sebagai Partai Islam sudah sesuai dengan ajaran2 Islam atau malah menyimpang dari Manhaj Islam itu sendiri.

Bila memang ternyata tidak sesuai dengan Manhaj dan kaidah-kaidah nilai Ke-Islaman dalam menjalankan Politik nya, maka jangan mencantumkan Label Islam dalam Partai nya. Nyatakan saja sebagai Partai terbuka seperti partai-partai lain.

Jangan berkedok label Islam tapi tidak mau dan antipati menjalankan syariah Islam. Prilaku seperti itu justru menunjukan adanya Kemunafikan di Partai ini yang cuma mau mencari keuntungan dan memanfaatkan umat.

Karena kalau hanya beracuan pada label Islam di partai, pemahaman nya menjadi beda dan tidak sama. Sebagai contoh partai-partai lain seperti Golkar, Demokrat, PAN, PKB, Gerindra, Hanura dan partai lain nya, mereka tidak berlabel asas Islam tapi tetap saja sebagian besar orang2 di partai tersebut adalah orang2 Islam. Bahkan sebaliknya partai yang memakai label Islam seperti PKS sekalipun malah mengadobsi juga kader dan aleg non muslim dibeberapa daerah yg mayoritas massa nya non muslim.

Kesimpulan nya adalah Jangan tertipu dengan melihat asas Partai. Semua partai sama saja dalam menjalankan fungsi dan kegiatan nya hanya untuk mencari pengikut atau penyumbang suara yang sebesar-besarnya untuk bisa meraih kekuasaan dan kemenangan.

Sebagian besar partai yang ada sekarang terang-terangan menyatakan sebagai partai yang terbuka (inklusif), dengan memakai asas Nasionalis, atau Nasionalis Religius.

Beda dengan PKS yang bermain di wilayah abu-abu meski masih memakai embel2 label Islam karena takut kehilangan pengaruh dari basis masa tradisional nya, tapi bermain juga dengan jargon2 terbuka , nasionalis dan pluralis untuk mencari simpati masyarakat umum yang memang menjadi mayoritas pada setiap pemilihan.

Arah dan tujuan dari ideologi partai ini juga menjadi semakin tidak jelas, bahkan cenderung selalu bersikap pragmatis dan mengambil keuntungan dari setiap momen2 politik untuk kemashlahatan kelompok dan golongan.

Alih-alih meng-implimentasi nilai2 Islami dalam berpolitik, tapi justru malah mencoreng Islam itu sendiri dengan menjadi bagian dari partai-partai yang ikut Terlibat Korupsi, sementara label partai Islam masih melekat di partai mereka . Seharus nya klo memang tujuan nya hanya mau menikmati Demokrasi , sebaiknya tidak usah menyandang label Islam. Apalagi gaya politik yang dipertunjukan PKS cenderung selalu Pragmatis hanya untuk mengejar kekuasaan dan jabatan.

Untuk menilai suatu organisasi/partai politik termasuk sekuler atau tidak, tidak bisa hanya berdasar parameter seperti: konsep, platform, slogan, ciri komunitas, kemasan, janji-janji politik, dll. Sekuler tidaknya sebuah partai, bisa dilihat dari KEBIJAKAN POLITIK partai itu sendiri, dari waktu ke waktu.

Analoginya begini : Kalau mau tahu jenis sebuah mesin, lihatlah Output akhir yang dihasilkan oleh mesin itu. Meskipun bentuknya seperti mesin fotokopi, kalau yang dihasilkan adalah pisang goreng, maka ia disebut mesin pisang goreng. Meskipun bentuknya seperti mesin cuci, tetapi kalau hasil yang keluar dari mesin itu permen loli, maka ia diklaim sebagai mesin permen loli. Meskipun bentuknya seperti alat cukur rambut, kalau ia dipakai untuk mengiris kentang, maka tetap disebut alat iris kentang. Begitulah logikanya.

Kaidah dasar dalam Islam ialah: menilai segala sesuatu berdasarkan hakikat-nya, bukan lafadz. Soal lafadz (cover atau label) bisa bermacam-macam, tetapi kalau hakikatnya tidak sesuai dengan lafadz, ia tidak bisa diterima. Contoh, istilah Ahmadiyyah, Qiyadah Islamiyyah, NII, LDII, dll. Dari sisi istilah semua itu tampak baik. Tetapi dari sisi hakikat, disana ada kemunafikan atau penyimpangan manhaj.

Khaliafah Umar bin Khattab Ra pernah mengatakan, “Dulu di masa hidup Rasulullah Saw, orang-orang disikapi berdasarkan Wahyu. Namun kini Wahyu telah putus (tidak turun lagi). Dan kini kami menyikapi Anda semua sesuai yang tampak dari amal-amal Anda. Siapa yang tampak baik di mata kami, kami percayai dia dan kami berdekat-dekat dengannya. Dan kami tidak mencampuri urusan kerahasiaan hati dia sedikit pun. Allah yang berhak menghitung dan membalas kerahasiaan hatinya. Dan siapa yang tampak buruk di mata kami, kami tidak mempercayainya dan tidak berkawan dengannya. Meskipun dia mengklaim, bahwa hatinya baik.” (HR. Bukhari, diriwayatkan dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud Ra).


Melawan PoLiTik pRraGmaTis..!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 7 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 7 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 11 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 14 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 7 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 8 jam lalu

V2 a.k.a Voynich Virus (part 19) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Meninjau Konsistensi kehalalan Produk …

Donny Achmadi | 9 jam lalu

Gojlokan Dian Kelana, Membuatku Kecanduan …

Seneng Utami | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: