Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Heni Akhwat Damanik

Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya selengkapnya

Analisis Video Kecurangan Pilkada Sumut yang Menjadi Bukti ESJA Gugat ke MK

REP | 17 March 2013 | 12:50 Dibaca: 3006   Komentar: 15   0

Hari ini  saya akan mengulas Video yang dijadikan Tim ESJA untuk menggugat hasil pengumuman KPU Sumut atas kemenangan GANTENG. Dan kemarin beberapa media TV Nasional menayangkannya diantaranya :
1. Metro TV Sabtu ini 16/3/2013
- Metro Malam hari ini pukul 00.00
- Metro Pagi Sabtu 05.00
http://www.youtube.com/watch?v=JJzkcoV58qo
2. SCTV Sabtu ini 16/3/2013
- Liputan 6 Siang Pukul 12.00
- Liputan 6 Sore Pukul 17.20
http://www.youtube.com/watch?v=Q7IlaBu8ae4
3. TV One Sabtu ini 16/3/2013
- Kabar Siang Pukul 12.00
- Kabar Petang (mengenai kecurangan pilkada Sumut) Pukul 17.20

4. RCTI Sabtu ini 16/3/2013
Rencana Sindo Siang dan Sore Pukul 12.00 dan 16.30
Jika saya melihat video itu maka begitu banyak kejanggalan. Dan saya  akan mengambil ulasan Bpk Ari Usman (Dosen STT Harapan Medan, Jurusan Teknik Informatika Spesialisasi Multimedia) yakni

“Ketika saya melihat video  pemungutan suara PILGUBSU. Tampak kesengajaan yang dibuat, karena video yang pertama dilihat yang dicoblos pasangan yang di sebelah kiri kemungkinan pasangan nomor satu atau nomor dua. Tetapi video berikutnya direkam dengan HP yang sangat jelas pasangan nomor 5. Kalau dianalisis pembuatan video disengaja bukan candid camera atau direkam dengan tersembunyi. Jika pun memang direkan dengan tersembunyi mengapa yang merekam tidak merekam wajah dan area tempat pelecehan video tersbut. Berarti kesengajaan dalam perekaman video tersebut.

Sumber video ini banyak yang diedarkan oleh Tim ESJA dan mereka ngotot untuk pilkada ulang padahal videonya berjudul di Nias Selatan. Pertanyaannya yang mengherankan mengapa mereka minta pilkada ulang seluruhnya.  Padahal kita ketahui bahwa berapa uang negara yang akan digunakan untuk Pilkada ulang. Kejanggalan terjadi ketika video itu tersiar. TIM ESJA minta dihitung ulang. Akhirnya penggelembungan suara dari perhitungan awal. Jadi menurut pengamatan video itu sengaja dibuat untuk menjatuhkan pasangan nomor lima yang sudah diumumkan KPUD SUMUT menang.

Analisis ini diberikan untuk masukan bagi MK mengambil keputusan akan aksi-aksi yang tidak baik dalam PILGUBSU kali ini.

Menurut survey dari beberapa TPS jarang sekali saksi dari tim ESJA ada di sana. Anehnya mengapa tim ESJA mengadakan konferensi pers bahwa kemenangan PILGUBSU kali ini diraih pasangan nomor 2 (ESJA) dengan perolehan suara 32 persen, tetapi tidak tahu (lupa) siapa diurutan ketiga, keempat dan kelima. Referensi : http://news.detik.com/read/2013/03/09/175841/2190408/10/pdi-perjuangan-klaim-menangi-pilgub-sumut?9911012″

Saya juga akan menampilkan video aslinya http://www.youtube.com/watch?v=Eh7b_N5H1fw&feature=share dan akun Fb si pembuat video kedalam http://www.facebook.com/ipay6?fref=ts. Dan jika ulasan saya video ini seperti disengaja dibuat dan ada beberapa kejanggalan yang terlihat diantaranya:

1. Video ini tidak jelas di daerah Nias bagian mana diambil atau TPS berapa
2. Pelakunya tidak terlihat (oknum)
3. Siapa saja bisa buat seperti itu, karena katidak jelasan dari hasil pengambilan gambar.
4. Waktunya juga tidak tau kapan, bisa saja di buat setelah pemilu, karena melihat ganteng menang quick qount.
Dan dua opsi yang di ajukan pasangan ESJA atas pelanggaran yang di lakukan oleh pasangan GANTENG yg meraih suara terbanyak dengan “RIBUAN” kecurangan FATAL, dan MAHKAMA KOSTITUSI akan menyetujuinnya :

1. Diadakan PILKADA Ulang yang di ikuti hanya 4 pasangan, semantara pasangan GANTENG di KUALIFIKASI ( batal Total )
2. Jika tidak dengan OPSI yang pertama, maka secara hukum sah di angkat pasangan terbanyak nomor 2 (ESJA) jadi pemenang PILGUBSU 2013-2018.

Inilah pandangan saya melihat beberapa pemberitaan di media terkait Pilkada di Sumatera Utara. Semoga kita sebagai masyarakat  Indonesia dapat melihat dengan benar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 8 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 9 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 15 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak …

Wahyu Indra Sukma | 8 jam lalu

Gerakan Desa Membangun: Sebuah Paradigma …

Yulio Victory | 8 jam lalu

Berbagai Pandangan “Era Baru Polri Dibawah …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: