Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Bahaudin Abdullah

Penikmat budaya, sosial dan dinamina politik

Menakar Peluang Tiga Pasang Kandidat Pilgub Jateng

OPINI | 16 March 2013 | 21:11 Dibaca: 891   Komentar: 0   0

Menakar Peluang Tiga Pasang Kandidat Pilgub Jateng

Jakarta  - Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jawa Tengah secara resmi telah menutup pendaftaran  pasangan calon Gubernur dan wakil gubernur Jateng  pada tanggal 6 Maret 2013 lalu. Sesuai jadwal pemilukada Jateng akan dilaksanakan pada tanggal 26 Mei mendatang.  Ada tiga pasangan calon yang telah mendaftar.

Pasangan pertama yang mendaftar adalah Bibit Waluto – Sudijono Sastroatmojo (Bibit – Sudijono). Bibit adalah cagub petahanan yang berpasangan dengan Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes). Pasangan pertama ini didukung oleh koalisi tiga partai politik, Partai Demokrat (PD),  Golongan Karya (Golkar) dan Partai Amanat Nasional (PAN), dengan total 37 kursi di DPRD Jateng.


Pasangan kedua adalah Ganjar Pranowo – Heru Sudjatmoko (ganjar – Heru) . Ganjar adalah anggota  komisi II DPR RI, sedangkan wakilnya adalah Bupati Purbalingga. Pasangan ini diusung oleh satu partai, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dengan total 23 kursi di parlemen Jateng.


Sedangkan pasangan yang terakhir adalah Hadi Prabowo – Don Murdono (HP – Don). Hadi adalah tokoh puncak dalam tataran pemerintahan-birokrasi di Jateng, ia adalah seorang Sekretaris Daera, sedangkan Don adalah Bupati Sumedang. Pasangan ini didukung oleh koalisi enam partai politik, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) serta Partai Kebangkitan Nahdatul Ulama (PKNU), dengan total 40 kursi di parlemen.


Berdasarkan kalkulasi diatas kertas, maka pasangan Hadi Prabowo – Don Murdono (HP – Don) adalah pasangan terkuat dengan total 40 kursi. Namun, peta parlemen diatas adalah hasil pemilu tahun 2009, yang sangat mungkin mengalami pergeseran saat ini. Terlebih masalah figuritas dan  penguasaan atas basis pemilih jauh lebih penting ketimbang koalisi dengan partai.

“Peta parlemen dalam tataran elit sangat mungkin berubah, tapi hal yang harus menjadi acuan sekarang di pilkada itu sesungguhnya ada di perubahan perilaku pemilih. Karena kerapkali penguasaan atas basis pemilih jauh lebih penting dari sekedar koalisi itu sendiri, “ ujar Gun-Gun Heryanto, Pengamat Politik UIN, di Jakarta, Sabtu (16/3).

Gun-Gun menjelaskan, saat ini telah terjadi pergeseran cara pandang pemilih terhadap ajang pemilukada di daerah-daerah. Saat ini, yang terjadi adalah rendahnya kepercayaan public atas politisi. Anggapan semacam itu, akan terlihat jelas dalam Pemilukada Sumut. Gubernur terpilh hanya mengantongi suara sebesar 36, 6 persen. Sedangkan sisanya lebih memilih tak menggunakan hak suaranya.

Fenomena Sumut, tentu saja tak bisa diterapkan mentah-mentah dalam Pemilukada Jateng. Secara budaya, Jateng mempunyai segmen politik tradisional yang sangat jelas, dan mengarah ke salah satu partai politik tertentu. Namunm dari segi figuritas ketiga tokoh diatas mempunyai popularitas yang sejajar.

Pasangan Bibit – Sudijono merupakan pasangan petahana yang mempunyai kans besar untuk terpilih kembali. Calon petahanan diuntungkan dengan penguasaan atas hierarki birokrasi, anggaran, serta keberhasilan pembangunan sarana-infrastruktur di Jawa Tengah selama lima tahun terakhir. Rekam jejak pembanguan inilah yang bisa dimobilisasi untuk menarik suara. Namun,  kondisi  menjadi terbalik tatkala pembangunan yang dicanangkan oleh Bibit berdampak buruk.

Untuk pasangan kedua, yakni Ganjar – Heru adalah satu-satunya pasangan yang berada diluar struktur birokrasi. Meskipun begitu, pasangan ini didukung oleh PDIP. Seperti diketahui,  Jawa Tengah merupakan basis loyal pendukung partai berlambang Banteng dengan moncong putih. Pasangan ini mempunyai kans cukup besar, terlebih segmen pemilih tradisional PDIP di Jateng dipastikan  akan mendukung pasangan dan memilih pasangan ini.  Namun, PDIP harus berhati-hati dan mengantisipasi ancaman golput oleh para loyalis Rustriningsih.

Bagaimanapun  Rustriningsih adalah kader militan  PDIP, yang telah mendedikasikan hidupnya selama 27 tahun lebih  bergabung dengan partai ini. Namun, keputusan resmi fungsionaris PDIP lebih memilih Ganjar ketimbang Rustrinigsih. Faktor kekecewaan inilah, yang memungkinkan Rustri dan para relawannya yang tersebar di 35 Kabupaten di Jawa Tengah, berpotensi melakukan penggembosan dalam tubuh partai.

“Karena bagaimanapun Rustriningsih mempunyai basis di Jateng. Popularitas dan elektabilitasnya tak bisa dianggap remeh. Saat PDIP meninggalkan dirinya, maka biasa aja muncul kekecewaan bukan hanya di Rustri namun juga di basis pemilih loyal nya, “ Ujar Gun- Gun.

Kemudian calon yang terakhir adalah HP – Don. Pasangan yang didukung enam parpol ini juga mempunyai peluang cukup besar.  Meskipun bangunan koalisinya sangat rapuh, namun rekam jejak keduanya dalam politik sudah teruji.  HP adalah seorang birokrat sejati yang mengawali karir betul-betul dari bawah, sedangkan Don adalah Bupati Sumedang selama dua periode berturut-turut.

Pasangan ini juga didukung kuat oleh PKS, bahkan Presiden PKS, Anis Matta turun langsung menggembleng kader-kader PKS yang berada di Jateng. Kemenangan PKS dalam Pilkada Jabar dan Sumut tentu saja menjadi modal dan pengalaman berharga dalam menyusun taktik dan strategi pemenangan di Jateng.

Secara garis besar, ketiga pasang kandidat mempunyai peluang yang sama untuk menang. Diprediksi pemilukada hanya berlangsung satu putaran, dengan hasil yang tidak terlampau jauh. Karena, secara ketokohan ketiga kandidat dianggap seimbang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Serunya Dalang Bocah di Museum BI Jakarta …

Azis Nizar | | 28 November 2014 | 08:50

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Bos Arus Liar Bicara Bisnis Arung Jeram …

Tuan Yuda | 7 jam lalu

Fenomena Penipuan Berkedok Bisnis Online …

Alan Budiman | 7 jam lalu

5 Artis Ibukota Tes HIV Diam-diam di …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

Uji Kompetensi Keperawatan Nasional Luar …

Rinta Wulandari | 8 jam lalu

Hidup Sederhana, Gak Punya Apa-apa tapi …

Natalia Karyawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: