Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Fauzi Nahdi

ciming namaku karena aku sejak kecil kurus dan kecil

Mengukur Kepemimpinan Kharismatik Presiden PKS, Anis Matta

OPINI | 15 March 2013 | 09:30 Dibaca: 1455   Komentar: 0   0

Mengukur Kepemimpinan Kharismatik Anis Matta (Presiden PKS)

Seperti kebanyakan mahasiswa lainnya baru sibuk kalau tugas dari dosen sudah mepet waktunya,begitupun kami yang harus menerjemahkan kurang lebih 30 halaman bagian buku berbahasa Inggeris yang berjudul “Leadership in Organization: Charismatic and Transformational Leadership”.

Setelah menganalisis teori-teori dan contoh aplikasinya setebal 40 halaman lebih, barulah kami dihadapkan dengan model pemimpin karismatik yang ada di Indonesia secara kekinian. Masalahnya siapakah yang akan menjadi model kepemimpinan kharismatik?. Gonjang-ganjing kasus LHI membuat kami melirik artikel-artikel PKS satu-satu persatu kami amati. Penulusuran berakhir pada sebuah tulisan di islamedia.web.id tentang Anis Matta.

Saya mencoba menganalisis secara sederhana tentang kepemimpinan Kharismatik Anis Matta sesuai dengan teori yang ada pada buku “Leadership in organization” tersebut. Namun agar pembaca lebih faham baiknya kita lihat dulu artikel di islamamedia.web.id.

“Pahlawan Muda…ditangan merekalah, Indonesia akan mengambil gilirannya, bukan hanya dalam mensejahterakan negerinya, tapi juga dalam memimpin dunia yang mulai terseok-seok!”, kalimat itu ia teriakan ditengah ribuan pendengar. Semua sepi, semua hening, dan nafas-nafas tertahankan di dada hanya untuk mendengarkan setiap butir kata, yang ia ucapkan penuh makna. Kata-katanya menjadi inspirasi, menyentuh pribadi, bagi trainer, bagi guru, bagi penceramah, dan bagi seluruh pemuda di penjuru negeri dengan semangat berapi-api. Empat puluh pemuda Aceh berbondong-bondong bergabung menjadi anggota baru PKSnya , seorang PNS berani melepaskan baju PNS nya untuk menjadi anggota barunya, seorang Kiyai rivalnya menangis setelah mendengar orasinya dan bersedia bergabung, bahkan warga keturunan Thionghoa di Semarang menangis mendengar orasinya karena menyentuh hati nurani mereka yang non muslim, belum lagi para kader-kader PKS ini diseluruh negeri yang bersemangat bangkit dari tidur, (http://www.youtube.com/watch?v=fgl9gYGYRbI). Iapun rela melepas jabatan sebagai wakil DPR RI demi menyelamatkan PKSnya dari Tsunami politik dan rekayasa penuh intrik dari orang-orang yang tidak menyukai visi dan misi PKSnya dalam membangun kedewasaan dalam pemberantasan korupsi di negara ini.

Ialah H. Muhammad Anis Matta, Lc. Seorang lelaki kelahiran makassar Masa mudanya tak ia habiskan berhura-hura, namun penuh gelora berjuang dan membaca. Prestasi SD nya jelek tak seberapa, tapi di Pesantren (Darul Arqam) Gombara, posisinya kukuh tak bergeser dari kursi juara, dari tahun 80 hingga 86.

Organisasi dikenalnya sejak kecil, dan kelas satu SMA sudah bukan lagi anggota biasa, tapi sudah mampu menjadi instruktur IPM lalu kelas dua menjadi sekretaris cabang Muhammadiyyah. Namun tumpukan prestasi masa muda tak membuat ia berbangga. Ia rasakan kepedihan batin, keresahan membuncah-buncah, juga panggilan nurani untuk tak henti mengasah diri. LIPIA Jakartalah jamuan sejarah baginya walau kesempatan kuliah di Fikom UNHAS juga terbuka.

Ia lahap dua belas jam sehari buku-bukunya saat liburan, dan lima jam di luar diktat saat masa kuliahan. Bahkan dosen LIPIA nya berkata “jika saja ada nilai lebih dari mumtaz, Anis Matta pasti kan mampu melibas“, maka dari itu tak pernah sekalipun ia terkalahkan sebagai orang tercerdas juga tergigih, dalam nilai kuliah akhir ataupun ratusan buku mutakhir, dari Psikologi terapan, teori-teori belajar, pengembangan diri, konsep-konsep Politik, negara, pergerakan, bisnis, dan sastra-sastra tingkat dunia.

Setuntasnya dari kuliah, ia menumpahkan semangat mudanya dalam pergerakan. Membina dan berorganisasi, berceramah dan menulis, hingga tahun 1998 dipercaya menjadi Sekretaris Jendral, dan usianya barulah 30 tahun. Kinerja dan karya nyatanya ia sempurnakan dengan gilang-gemilang, sampai-sampai tahun 2000 ia berkesempatan mengikuti program American Young Council for Young Politician Leader (ACYPL) di Amerika. Tak kurang bergengsinya, setelah ia menamatkan Kursus Singkat Angkatan (KSA) Lemhanas, ia kemudian menjadi instukturnya, tak kepalang tanggung, jendral-jendral ia latih disana.

Sekarang ia berjuang dalam posisinya sebagai presiden PKS dan melepas jabatan wakil ketua DPR RI. Bakat masa kecilnya sebetulnya cerpen dan puisi. Keduanya lalu tenggelam dan terkubur beberapa lama, tapi kembali menyeruak di masa-masa kini, membuat tulisan-tulisan ilmiahnya kuat, berisi, dan sastrawi. “cerdas bermetafora, puitis disini sana” Taufiq Ismail Sang Penyair mengomentari, juga fasihun, balighun, muatsirun finnafs sesuai balaghoh sejati. Semua keindahan tulisan, dan kejelian analisis itu terkumpul dalam ‘Konsep Seni dalam Islam‘ (1995), ‘Wawasan Islam dan Ekonomi’ (1997), ‘Sepanjang Hari Bersama Allah: Seni Berdo’a’ (1997), ‘Biar kuncupnya mekar menjadi bunga’ (2000), ‘Membangun karakter muslim’ (2002), ‘Model Manusia Muslim Abad 21′ (2002), ‘Menikmati Demokrasi’ (2003), ‘Dari Gerakan ke Negara’ (2006), ‘Serial Cinta’  (2006). Dan gaya tulisannya bisa dikatakan bermuatan berat seberat Malik bin Nabi namun indah seindah Mustafa Sadek Arrafi’i.

Ia pernah beberapa kali menjadi penerjemah khusus jika Syaikh Yusuf Qardawi berkunjung ke Indonesia. Dan ketika Yusuf Qardawi, dalam sebuah ceramah, mempersilakan Anis Matta untuk menterjemahkan kata-katanya setiap sepuluh menit, dengan percaya diri Anis Matta mempersilakan Yusuf Qardawi melanjutkan ceramahnya, dan ia terjemahkan setelahnya ke dalam bahasa Indonesia sepanjang aslinya, hebatnya lagi dengan terjemahan tekstual, bukan tafsiran.

Anis sering didaulat mengisi bermacam ceramah, seminar, taushiah, di berbagai komunitas: komunitas remaja, orang kantoran, pejabat, aktivis, mahasiswa, ibu-ibu, juga kalangan jet set yang jika ditawari ‘amplop’ ceramah puluhan juta, ditolaknya dengan halus, karena selain ia ingin menyebar nilai Islam di berbagai lapisan masyarakat, ia ingin pula membangun persahabatan dengan beragam lapisan itu tanpa imbalan. Ia tak hanya berda’wah di dalam negeri, suaranya melengking hingga menembus negara-negara asing, benua Amerika, puluhan negara Eropa, jepang, Australia, dan negera-negara Timur Tengah tentunya. Sehingga ia mengokohkan dirinya sebagai seorang da’i, pemikir muslim, ilmuan, berlevel internasional, ini dari satu sisi.

Sedang dari sisi lain, ia sedang tumbuh menjadi negarawan baru bangsa. Ceramahnya yang dulu bertempo lambat, sering terbata-bata dan salah kata, telah ditambal dan di sulam. Ia sekarang mampu beretorika dalam debat-debat nasional, dengan argumen logis, sistematis, puitis, dan berbekal data-data empiris. Sehingga misalnya dalam dialog-dialog besar yang menghadirkan para doktor politik dan sosial, aura mereka tenggelam dalam bangunan keilmuan Anis yang tinggi menjulang, luas membentang, hanya bermodalkan Lc pula. Ia adalah satu-satunya debator yang ditakuti Ulil Abshar Abdalla Sang Kordinator JIL yang kesohor itu, sehingga ia ciut tidak berani menghadapi Anis dalam debat publik.

Lebih jauh lagi, Anis telah mengembangkan kemampuan baru retorikanya: orasi. Walau belum lagi sempurna, namun ia sedang berjalan memenuhi kualifikasi seorang negarawan yang dibutuhkan Indonesia sebagaimana dalam tulisannya, ‘bukan karena kita menang pemilu saja maka kita memimpin’ , ia melihat bahwa basic competent seorang pemimpin negara adalah Narrative Intelligent, yang terwujud dalam orasi dan tulisan yang tajam. Sehingga Anis berkukuh bahwa seorang pemimpin besar haruslah orator ulung dan penulis yang memukau, mutlak, jika tidak, ia tidak akan abadi. Dan ketika ditanyakan bangunan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang negarawan, ia mengurutkan “…sejarah, sastra, dan kebudayaan, baru ke Psikologi, Sosiologi, Ekonomi, Hukum, dan ilmu politik. Selain itu basis bahasa dan ilmu komunikasi, negarawan adalah pemikir strategis dan pelaku kepemimpinan, designing and leading“. Dan Anis dalam perjalanan mencapainya, di usianya yang baru akan mencapai 44 tahun pada 7 Desember nanti.

Gagasan-gagasan iklan TV Anis, dikenal kontroversial, namun seorang pakar hipnotis asal Bandung, Muhammad Isman Richmarch Hakim, mengatakan bahwa iklan-iklan itu justru iklan Politik tercerdas yang pernah ada karena selain muatannya berisi pesan bijak kepahlawanan, juga karena sekali-dua kali beriklan saja namun meraup simpati massa meruah-ruah tak terkira, sebuah tambahan lagi bagi prestasinya, karena ialah sang panglima TPPN (Tim Pemenangan Pemilu Nasional) PKS saat pemilu 2009.

Bagi Anis, “.kerja belum selesai, belum apa-apa” sebagaimana syair Chairil yang dikutipnya di tulisan ‘O, Pahlawan Negeriku ‘, ia berkeyakinan bahwa orang besar adalah orang yang berorientasi pada kerja-kerja besar, cita-cita besar dan melupakan semua kerja-kerja kecil yang pernah diraih. Orang besar diukur oleh kontribusi pada kemanusiaan, sehingga ia pernah berseru-seru dalam puisinya agungnya, Nyanyian Pahlawan, “Katakan padaku wahai hari, apa yang dapat kuberikan pada sejarah hari ini, katakan padaku wahai malam, berapa bintang kau perlukan untuk menerangi langitmu“. Sehingga wajar saja bagi PKS yang meyakini kesepakatan tak tertulis bahwa jika ada agenda-agenda raksasa yang mustahil, serahkan saja pada Anis Matta.

Dan standar cita-cita bagi Anis, ketika saatnya PKS memimpin dan membangun negara Indonesia, semua itu bukanlah akhir, tapi awal sebuah peradaban dunia. Sehingga yang tersisa adalah ungkapan pemikir Syiria, Syakib Arslan ‘Ma a’dzama hadza diin lau kana lahu rijal ‘ [alangkah besar agama ini kalau saja ia memiliki tokoh-tokoh besar]. Lelaki itu telah ada, dan telah lahir. Sudah meraup bermacam ilmu serta berkeras tekad sejak dahulu. Indonesia sedang menunggunya naik gelanggang. Indonesia sedang menyaksikan seorang anak kampung Bone Sulawesi Selatan tumbuh untuk mengguncang bangsa. Dimana dia berada? Anak kampung itu melantangkan lagi puisinya “Wahai Umat wahai bangsa, Aku selalu ada disini, saat darah saat air mata, Aku datang mengantar umat, pada gerbang sejarah baru”

Pada model kasus di atas, kita dalam melihat satu sisi kepemimpinan, Anis lebih mengarah kepada kepemimpinan kharismatik karena seorang pemimpin kharismatik akan lahir pada saat kritis. Anis tampil memimpin PKS ketika diterjang badai politik, pada saat PKS ada pada titik kritis maka Anis membangun kedewasaan menghadapi musibah kepada pengikutnya dengan orasi semangat penuh optimisme.

Bila kita hubungkan dengan ciri Pemimpin kharismatik pada buku “Leadership in Organization” maka Anis mempunyai ciri-ciri pemimpin yang kharismatik yang diantaranya adalah :

1) Menyampaikan sebuah visi yang menarik, maka Anis sampaikan bahwa PKS tidak akan bergeming dengan tuduhan buruk dan tetap pada visi PKS dan bangsa yaitu menuntaskan korupsi.

2) Menggunakan bentuk komunikasi yang kuat dan ekspresif saat menyampaikan visi, Anis menggunakan kata-kata yang meluap-luap dan penuh ekspresif ketika mengungkapkan visi PKS dan ini berpengaruh bukan hanya kepada kader internal tapi orang-orang diluar kader PKS yang mendengar orasinya.( http://www.islamedia.web.id/2013/02/dan-merekapun-menyatakan-diri-bergabung.html).

3) Mengambil resiko pribadi dan membuat pengorbanan diri untuk mencapai visi, Anis berani mengambil resiko mengundurkan diri dari jabatan Wakil DPR RI demi mencapai visi PKS, padahal hampir semua anggota-anggota PKS politik semisalnya berebut untuk menduduki jabatan tersebut.

4) Menyampaikan harapan yang tinggi, Anis memberikan harapan tinggi bagi bangsa ini bahwa masih ada sekumpulan orang yang mempunyai kehendak dalam organisasi untuk mewujudkan kemuliaan Negara bukan hanya sekedar untuk PKS saja.

5) Memperlihatkan keyakinan akan pengikut, Anis berpendapat ia berkeyakinan bahwa orang besar adalah orang yang berorientasi pada kerja-kerja besar, cita-cita besar dan melupakan semua kerja-kerja kecil yang pernah diraih. Orang besar diukur oleh kontribusi pada kemanusiaan, sehingga ia pernah berseru-seru dalam puisinya agungnya, Nyanyian Pahlawan, “Katakan padaku wahai hari, apa yang dapat kuberikan pada sejarah hari ini, katakan padaku wahai malam, berapa bintang kau perlukan untuk menerangi langitmu“

6) Pembuatan model peran dari perilaku yang konsisten dengan visi, Menurut Anis standar cita-cita bagi Anis, ketika saatnya PKS memimpin dan membangun negara Indonesia, semua itu bukanlah akhir, tapi awal sebuah peradaban dunia. Sehingga yang tersisa adalah ungkapan pemikir Syiria, Syakib Arslan ‘Ma a’dzama hadza diin lau kana lahu rijal ‘ [alangkah besar agama ini kalau saja ia memiliki tokoh-tokoh besar].

7) Mengelola kesan pengikut akan pemimpin, bahwa basic competent seorang pemimpin negara adalah Narrative Intelligent, yang terwujud dalam orasi dan tulisan yang tajam. Sehingga Anis berkukuh bahwa seorang pemimpin besar haruslah orator ulung dan penulis yang memukau, mutlak, jika tidak, ia tidak akan abadi. Dan ketika ditanyakan bangunan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang negarawan, ia mengurutkan “…sejarah, sastra, dan kebudayaan, baru ke Psikologi, Sosiologi, Ekonomi, Hukum, dan ilmu politik. Selain itu basis bahasa dan ilmu komunikasi, negarawan adalah pemikir strategis dan pelaku kepemimpinan, designing and leading

8) membangun identifikasi dengan kelompok atau organisasi, Setelah ia di daulat menjadi pemimpin di PKS kemudian ia berkonsolidasi internal dan membangun kembali komunikasi dan semangat para kadernya, terbukti dengan kemenangan pilgub di Jabar dan Sumut yang bahasa Anis “Kemenangan ditengah badai” juga dengan organisasi atau partai lainnya.

9) Memberikan kewenangan kepada pengikut, Anis memberikan kewenangan kepada pengikutnya untuk bersama bekerja untuk bangsa walaupun harus merelakan waktu tidur. (http://www.youtube.com/watch?v=fgl9gYGYRbI).

Seorang pemimpin akan lahir pada saat kritis, mungkin ini sesuai dengan filosofis para pelaut Bugis,” bahwa pelaut ulung tidak lahir di laut yang tenang, tapi pelaut ulung lahir di laut yang penuh ombak dan badai”. Begitupun para pemimpin kharismatik mereka lahir dalam gelombang badai yang besar sehingga mereka menjadi makna dari berbagai kesulitan para pengikutnya.

Model kepemimpinan Kharismatik Anis merupakan unsur kepemimpinan transformasional, namun tulisan ini memang terbatasi pada kepemimpinan Kharismatik karena penyesuaian kepemimpinan Tranfornasional untuk Anis belum mencukupi untuk menjelaskan proses tranformasional. Sehingga tahapan analisis lebih lanjut harus melihat bagaimana kepemimpinan Anis dalam mengelola organisasi PKS lebih dalam lagi.

Mampukah Sukarno Kecil dari Makassar ini membangun kharisma untuk kepentingan bangsa secara menyeluruh bukan hanya pada internal partainya saja?, mari kita tunggu.

1363314316645493766

Fauzi Nahdi, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Pakuan Bogor.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 11 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 11 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 12 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: