Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Amrullah Aviv

Berusaha untuk bisa lebih dewasa dalam melihat fenomena kehidupan.

Kepemimpinan dan Partai Politik

OPINI | 15 March 2013 | 09:47 Dibaca: 465   Komentar: 0   0

Definisi tentang kepe­mimpinan sangatlah banyak kita temukan, hampir seba­nyak jumlah orang yang mendefinisikan konsep tersebut. Ada beberapa literatur yang definisinya menurut penulis cukup mewakili. Henihill dan Coons menyatakan kepemimpinan adalah suatu perilaku dari seorang indi­vidu yang memimpin aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama. Adapun Rauch dan Behling menyatakan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas suatu kelompok yang diorganisasikan ke arah pencapaian tujuan.

Rhenald Kasali dalam bukunya “Re-Code Your Change DNA, Membebaskan Belenggu-Belenggu Untuk Meraih Keberanian dan Keberhasilan Dalam Pembaharuan” menyatakan : Pemimpin, bukan anak buah. Dialah yang bertanggung jawab. Dalam situasi yang sulit ia bukan sekadar pemangku jabatan, melainkan seseorang yang menimbulkan gerakan dengan kekuatan pengaruhnya. Maka di zaman sulit, namanya bisa menjelma menjadi motivator, coach, penerjemah, nabi, dai, guru, paus, jenderal, atau panglima. Beda benar dengan sebutan-sebut­an formal yang tertera pada surat keputusan pemangku jabatan: pres­iden, direktur, dirjen, sekjen, menteri, kabag, kasie, kapolres, kacab, dan sebagainya.

Lihatlah Gambar di atas, dan renungkanlah di mana Anda berada. Pemangku jabatan hanyalah pemimpin level 1, yaitu pemimpin yang berada pada lapisan terendah dengan daya pikat/daya pengaruh yang nyaris tak berbunyi. Lumpuhnya organisasi-organisasi usaha dan pemerintahan di Indonesia, begitu banyak orang yang sudah merasa menjadi pemimpin dengan hanya mengantongi surat keputusan (pemimpin level 1).

Tentu saja ada banyak sebab mengapa kebanyak­an pemimpin pada suatu kerangka budaya (bang­sa) terperangkap pada level 1. Sekolah yang terlalu mengandalkan prestasi akademis (bukan kepemim­pinan), kecenderungan formalitas, serta atasan-atasan yang rata-rata juga pemimpin level 1 punya kecenderungan memilih orang yang sama seperti mereka. Pepatah Amerika mengatakan, bird of a feather flock together (burung-burung yang bulumya sama, membentuk kelompok yang sama). Orang­-orang bermental “manajer” bahkan punya kecenderungan “takut” dengan mereka yang punya kecenderungan menjadi pemimpin. Mereka akan mengontrol orang­orang bebas-merdeka, kreatif dan berani itu agar tetap berada di bawah kendali­nya. Manajer tidak menghasilkan atau menciptakan pemimpin, melainkan hanya bawahan atau pengikut.

Dengan demikian, jelaslah, negeri ini membutuhkan pe­mimpin, bukan sekadar mana­jer. Manajer bisa diperoleh dari sekolah-sekolah (kampus-kam­pus), sedangkan pemimpin di­uji dalam “pasar”. Ia diuji oleh masyarakat, klien, perusahaan dan sebagaimana diterima, oleh “pasar” karena nilai-nilai (values) yang mereka miliki dan manfaat (benefit) yang mereka berikan.

Bagaimana dengan aspek kepemimpinan yang terjadi pada partai politik di Indonesia? Sejarah partai politik di Indonesia diawali dari pengumuman Wakil Presiden Hatta pada 3 November 1946 tentang seruan untuk mendirikan partai politik. Sebagai negara yang meng­anut sistem demokrasi maka keberadaan partai politik di Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Dalam perja­lanan panjang sejarah demokrasi yang dibangun di negara ini, tidak bisa dipungkiri bahwa peran strategis partai politik adalah untuk melahirkan para pemimpin bangsa. Kontribusi yang demikian besar ini akan menjadi lebih bermakna manakala para pemimpin partai yang diamanati rakyat untuk memimpin bangsa ini mampu berperan optimal untuk membawa kehidupan bangsa ini lebih adil dan sejahtera.

Pemimpin merupakan faktor penting untuk membawa pcrubahan dan perkembangan suatu bangsa. Kita lihat hahwa kondisi wajah bangsa Indonesia saat ini, dalam situasi ketidakmenentuan, merupakan hasil karya para pemimpin yang telah berkuasa selama ini. Melalui partai politik yang ada, sering kita saksikan para pernimpin bang­sa telah secara akrobatik menunjukkan dirinya pada rak­yat bahwa mereka bukanlah orang yang murni untuk memperjuangkan nasib rakyat dan membawa bangsa ke depan pintu gerbang keterpurukan dan kesengsaraan. Pa­ra pemimpin yang dilahirkan oleh partai politik telah gagal untuk membawa bangsa ini menuju pada kondisi yang lebih baik sesuai dengan cita-cita bangsa.

Kegagalan partai politik untuk melahirkan para pemimpin bangsa yang berkualitas telah dicatat oleh sejarah. Kenyataannya, parpol hanya sibuk demi meraih kekuasa­an tanpa diimbangi penyiapan kader partai yang matang. Mereka nyaris tidak memandang perlu untuk terus me­ningkatkan kualitas para kader dan pemimpin-pemimpin yang mereka miliki. Pola kaderisasi yang masih setengah hati, serampangan, dan miskin konsep seolah menjadi identitas yang tepat bagi keseriusan pembangunan SDM dalam sebuah parpol. Kenyataannya lagi menunjukkan bahwa kondisi parpol semakin parah manakala ia hanya berorientasi utama mendulang suara sebanyak mungkin dengan tanpa dibarengi dengan upaya peningkatan kualitas ka­daernya. Kader-kader partai yang muncul akhirnya adalah pemimpin-pemimpin karbitan. Kualitas para pemim­pin yang dihasilkan oleh partai terasa memprihatinkan.

Bangunan Sistem Kepemimpinan yang kokoh juga membuat barisan organisasi menjadi kokoh, solid dan tak mudah tergoyang. Dengan beberapa standar analisa ini maka setidaknya secara kasat mata kita bisa menilai tentang kaderisasi kepemimpinan dalam partai politik, maka  PKS  menjadi partai terdepan dalam mencetak pemimpin dari nol, dikader dan dibentuk dan selanjutnya dijadikan pemimpin.

Dengan stock kader yang banyak, militan dan disiplin ditunjang proses kaderisasi yang mapan maka PKS sangat layak dijadikan sekolah Kepemimpinan, seperti yang dikatakan Anis Matta bahwa : Sistem politik kita skrg memastikan bhw sumber kepemimpinan lokal dan nasional adalah partai. Dan  ingin berkontribusi dalam mencetak Pemimpin Bangsa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Simpang-Siur Makna “Politikus” …

Nararya | | 30 July 2014 | 00:56

Di Timor-NTT, Perlu Tiga Hingga Empat Malam …

Blasius Mengkaka | | 30 July 2014 | 07:18

Jalan-jalan di Belakangpadang …

Cucum Suminar | | 30 July 2014 | 12:46

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: