Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Achmad Subchan

Jurnalistik Design Graphic Politikus

Islam “Sarungan” Vs PKS, Siapa Takut!!!

REP | 15 March 2013 | 00:29 Dibaca: 912   Komentar: 28   4

Tahta masyi’atillah (Dibawah kehendak Allah) bahwa Indonesia diciptakan sebagai bangsa dan negara yang bhineka, mengingkari keragaman Indonesia berarti juga mengingkari identitas diri menjadi orang Indonesia, mengingkari leluhur dan asal usul kita, mengingkari para pejuang dan father founding NKRI dan termasuk juga Kufur al-ni`mah (mengingkari nikmat) yang diberikan Allah SWT atas karunia negara dan bangsa yang “gemah ripah loh jinawi” dalam keberagaman dan termasuk juga Kufur al-juhud (mengingkari sesuatu) dimana kita mengetahui bahwa bangsa ini dari zaman Majapahit hingga zaman “korupsi menjadi tradisi” adalah negara yang bhineka dan diintegrasikan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ingkar yang dalam bahasa arab adalah Kuffar/Kaffir secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran, “seseorang yang bersembunyi atau menutup diri”. Sebagai lawan kata dari Kaffir/kuffar adalah kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur.

Kemajuan teknologi informasi adalah sebuah keniscayaan dan memeberikan aksesbilitas informasi komunikasi melintasi ruang dan waktu tanpa batas. Proses transaksi informasi bisa dilaksanakan dimana dan kapan saja dengan pilihan media komunikasi yang mudah dan cepat sehingga tidak ada tempat lagi bagi kelompok atau golongan atau individu yang lepas dari cengkraman situasi serba terbuka ini.

Apapun dampak positif dan negatif dari kemajuan IT tetap diperlukan sikap dan langkah preventif yang cerdas. Pertukaran Ideologi, budaya dan life style imporan telah meracuni sedikit demi sedikit generasi era terbuka sehingga melahirkan sebuah gerakan masif yang menghancurkan tradisi, budaya dan gaya hidup ala orang Indonesia yang sangat membahayakan integrasi Bangsa Indonesia. Sopan santun, etika bermasyarakat hingga jiwa-jiwa nasionalis terancam punah dan digantikan dengan hidonisme, Individualisme, liberalisme, Khilafaisme, konsumerisme dan isme-isme yang lain sehingga ciri khas (identitas) kita sebagai bangsa Indonesia hilang atau bisa dikatakan telah terjadi krisis identitas. Krisis identitas inilah yang melahirkan sifat-sifat kuffar terhadap kebhinekaan Indonesia.

Demonstrasi, seminar, simposium sampai kegiatan mengaji ditingkat pelajar dan mahasiswa juga digunakan sebagai media transformasi untuk membahas dan membumikan ideologi imporan terebut. Dalam praktik membumikan isme-isme untuk generasi Indonesia adalah ada sekelompok golongan yang mempertentangkan dan membenturkan antara kebangsaan dan keagamaan, khubbul waton dengan khubbud ad-din, Dimana hal-hal seperti ini tidak perlu dibenturkan karena satu dengan yang lainnya saling melengkapi dalam harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara.Bukankah cinta tanah air sebagian dari iman? Bukankah Negara  Aman Beribadah Juga Tenang?

Kita ambil contoh tentang transformasi ideologi Ikhwanul Muslimin. Ciri khas ideologi impor dari Mesir ini adalah merebut kekuasaan (berpolitik) untuk menegakkan Khilafah Islamiyah. Bahaya dari Ideologi Ikhwanul Muslimin ini bagi bangsa Indonesia adalah membentuk generasi Indonesia yang kufur terhadap tanah airnya, ingkar terhadap saudara setanah airnya, dan lupa akan nenek moyangnya, pertanyaannya seandainya semua rakyat Indonesia sepakat untuk mengikuti ideologi Ikhwanul Muslimin bagaimana nasib keberagaman yang menjadi instrumen dan fondasi kehidupan bangsa ini? Dimana kebhinekaan ini akan menempati ruang keadilan? Dan bagaimana pertanggungjawaban kita sebagai khalifah fi Indonesia dihadapan Allah SWT?.

Kemajuan PKS sebagai kendaraan politik dari kelompok Ikhwanul Muslimin untuk merebut kekuasaan didalam sistem politik Indonesia telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perolehan PKS dalam pemilu 2009 dan kemenangan PKS di pemilukada Jabar ataupun Sumut wajib dijadikan sebuah bahan renungan dan bahan evaluasi bagi kelompok Religius - Nasionalis Asli Pribumi.Sebuah indikasi akan lahirnya radikalisme ala timur tengah seandainya kelompokReligius - Nasionalis Asli Pribumi tidak merumuskan dan memformulasikan bahkan kalau perlu menafsirkan ulang kembali cara-cara yang bisa menghentikan hegemoni para Ikhwan & Akhwat  menggoyang NKRI dan keberagaman bangsa Indonesia melalui kekuasaan yang diraihnya.

Dan jangan salahkan ketika kader-kader PKS yang memang dibekali, dibentuk dan dirancang untuk mengkudeta Indonesia dengan cara yang legal melalui sistem demokrasi (Pemilu) JIKA kita para pejuang, simpatisan apalagi elite religius nasionalis pribumi sampai hari ini masih terlelap dalam euforia history sementara mereka sibuk mengaji dan mengkaji serta selalu belajar untuk lebih baik dari waktu ke waktu melalui sistem kaderisasi yang solid dan rapi, Maka tidak ada satu kalimat yang tepat selain SADAR, LAWAN DAN AMALKAN!!! Kita sambut mereka dengan semangat fastabikhul khoirot (berlomba-lomba dalam hal kebaikan) untuk menyelamatkan  bangsa Indonesia dari pengkhianatan IDENTITAS DIRI. Kita NASIONALISASIKAN PKS dan kita kembalikan para kadernya untuk belajar bangga dan mencintai Indonesia dengan segala keberagaman dan sejarahnya.

Kita tidak kalah pintarnya dari mereka, bahkan kita jauh lebih pintar dari mereka”. Mereka hanya terbiasa dan mau belajar, yang kita butuhkan hari ini adalah membudayakan kebiasaan dan mau belajar untuk lebih baik dari waktu ke waktu. Danbiarlah Allah SWT yang menilai dan menempatkan kita dengan hisab dan ketentuanNya. Waallahu ‘alam bis showab!!!

Dan Akhirnya mari kita nyanyikan sebuah lagu, lagu untuk negeri ini :

Indonesia tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Selalu di puja – puja bangsa

Disana tempat lahir beta

Dibuai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Hingga akhir menutup mata

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Jalan, Super Admin Kompasiana! …

Nurul | | 27 August 2014 | 11:44

Menyambut Baik Undang-undang Panas Bumi …

Ikhsan Harahap | | 27 August 2014 | 10:03

Jokowi: Rekonsiliasi Itu Apa? …

Armin Mustamin Topu... | | 27 August 2014 | 05:58

Mengapa Turis Tiongkok Tidak Suka ke …

Leo Kusima | | 27 August 2014 | 11:46

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Buka Hubungan Diplomatik dengan …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Persaingan Para Istri Bersuamikan WNA …

Usi Saba Kota | 7 jam lalu

“Tuhan, Mengapa Saya Kaya?” …

Enny Soepardjono | 8 jam lalu

DPRD Jakarta Belum Keluar Keringat, tapi …

Febrialdi | 8 jam lalu

“Kelompok Busuk Menolak Ahok” …

Pakfigo Saja | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: