Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Fadli Zulfadli

Menulis apa adanya tentang sesuatu yang ada apa-apanya. Pernah aktif menjadi blogger tahun 2007-2008 kemudian selengkapnya

Dendam NU-PKB Kepada Masyumi-PBB

REP | 13 March 2013 | 01:38 Dibaca: 2567   Komentar: 25   0

Hanya ada satu partai Islam/berbasis Islam di parlemen yang menanggapi positif soal diloloskannya PBB oleh PT TUN sebagai parpol peserta pemilu 2014. Partai itu adalah PKS.

Dua partai yakni PPP dan PKB secara terang2an menunjukkan sikap tidak suka, sedangkan PAN tidak berbesar hati menerima.

Ada apa? Mari kita analisa.

Akar permasalahan sesungguhnya ada pada tahun 1955, nyaris 58 tahun lalu. Ketika itu NU mengkhianati Masjumi yg sebelumnya mengayomi kalangan Islam modernis dan tradisional sekaligus. Praktis hanya Muhammadiyah yg berkuasa di Masjumi sepeninggal NU.

Ora Orde Baru semua kekuatan politik Islam dipaksa bergabung dalam PPP, namun pasca reformasi mereka kembali berpisah.
Muncul PAN sebagai corong Muhammadiyah, PKB sebagai corong NU, dan PBB sebagai titisan Masjumi.
Ada pula PKS yg dilahirkan Lembaga Dakwah Kampus hasil binaan Muhammad Natsir, tokoh besar Masjumi.
Jadi PBB dan PKS sebetulnya saudara kandung.

Namun kondisi perpolitikan sekarang tidak memberikan ruang bagi segmen Islam yg berafiliasi dgn Muhammadiyah.

PPP dan PKB dikuasai NU dgn para habib dan kyainya. PPP hanya sarang keropos yg mengaku-ngaku rumah besar dgn simbol Ka’bah untuk menarik ummat Islam non-NU.

Suara Muhammadiyah terseret ke PAN dan PKS, namun kedua partai kini menyatakan diri sebagai partai terbuka.
PAN sudah tidak jelas ideologinya, mirip2 dgn Golkar, Demokrat dan Hanura. Muhammadiyah hanya jadi label di PAN.
Sedangkan PKS lebih kental warna Ikhwanul Muslimin nya sehingga tidak semua warga Muhammadiyah cocok dgn model kaderisasi PKS.

Hanya PBB yang menyediakan ruang bagi kalangan Muhammadiyah pro Islam sebagaimana yg dilakukan Masjumi dulu. Selain itu PBB masih konsisten dgn ide pembumian syariat islam nya.

Pantaslah PPP merasa terancam, karena dia hanya macan ompong.
PKB merasa musuh lama bangkit kembali. PAN takut ditinggalkan konstituennya.

Dan tentu saja hanya PKS yang menyambut dgn tangan terbuka.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 4 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 4 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 5 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Tipe-tipe Tamu Undangan Pernikahan …

Hanindya Wardhani | 8 jam lalu

Maraknya Pelecahan Seksual Terhadap Anak di …

Widia Wati | 8 jam lalu

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | 8 jam lalu

So-SIAL Media: Interaksi tanpa Intonasi …

Zulkifli Taher | 8 jam lalu

Inovasi, Kunci Indonesia Jaya …

Anugrah Balwa | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: