Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Fadli Zulfadli

Menulis apa adanya tentang sesuatu yang ada apa-apanya. Pernah aktif menjadi blogger tahun 2007-2008 kemudian selengkapnya

Dendam NU-PKB Kepada Masyumi-PBB

REP | 13 March 2013 | 01:38 Dibaca: 2544   Komentar: 25   0

Hanya ada satu partai Islam/berbasis Islam di parlemen yang menanggapi positif soal diloloskannya PBB oleh PT TUN sebagai parpol peserta pemilu 2014. Partai itu adalah PKS.

Dua partai yakni PPP dan PKB secara terang2an menunjukkan sikap tidak suka, sedangkan PAN tidak berbesar hati menerima.

Ada apa? Mari kita analisa.

Akar permasalahan sesungguhnya ada pada tahun 1955, nyaris 58 tahun lalu. Ketika itu NU mengkhianati Masjumi yg sebelumnya mengayomi kalangan Islam modernis dan tradisional sekaligus. Praktis hanya Muhammadiyah yg berkuasa di Masjumi sepeninggal NU.

Ora Orde Baru semua kekuatan politik Islam dipaksa bergabung dalam PPP, namun pasca reformasi mereka kembali berpisah.
Muncul PAN sebagai corong Muhammadiyah, PKB sebagai corong NU, dan PBB sebagai titisan Masjumi.
Ada pula PKS yg dilahirkan Lembaga Dakwah Kampus hasil binaan Muhammad Natsir, tokoh besar Masjumi.
Jadi PBB dan PKS sebetulnya saudara kandung.

Namun kondisi perpolitikan sekarang tidak memberikan ruang bagi segmen Islam yg berafiliasi dgn Muhammadiyah.

PPP dan PKB dikuasai NU dgn para habib dan kyainya. PPP hanya sarang keropos yg mengaku-ngaku rumah besar dgn simbol Ka’bah untuk menarik ummat Islam non-NU.

Suara Muhammadiyah terseret ke PAN dan PKS, namun kedua partai kini menyatakan diri sebagai partai terbuka.
PAN sudah tidak jelas ideologinya, mirip2 dgn Golkar, Demokrat dan Hanura. Muhammadiyah hanya jadi label di PAN.
Sedangkan PKS lebih kental warna Ikhwanul Muslimin nya sehingga tidak semua warga Muhammadiyah cocok dgn model kaderisasi PKS.

Hanya PBB yang menyediakan ruang bagi kalangan Muhammadiyah pro Islam sebagaimana yg dilakukan Masjumi dulu. Selain itu PBB masih konsisten dgn ide pembumian syariat islam nya.

Pantaslah PPP merasa terancam, karena dia hanya macan ompong.
PKB merasa musuh lama bangkit kembali. PAN takut ditinggalkan konstituennya.

Dan tentu saja hanya PKS yang menyambut dgn tangan terbuka.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Basuri Tjahaja Purnama: 20 tahun Mendatang …

Olive Bendon | | 01 October 2014 | 06:58

Penumpang KA Minim Empati …

Agung Han | | 01 October 2014 | 04:25

Cerita Dibalik Sekeping Emas Cabang Wushu …

Choirul Huda | | 01 October 2014 | 02:11

Menulis Cerpen Itu Gampang, Mencari Peminat …

Sugiyanto Hadi | | 01 October 2014 | 03:16

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 3 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 5 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 6 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

[DAFTAR ONLINE] Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | 7 jam lalu

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | 7 jam lalu

A Hok: “ DPRD Sebagai Calo yang Tidak …

Ibnu Dawam Aziz | 7 jam lalu

Mantan Teknisi NASA AS Ajari Pelajar …

Mohammad Yazed Arro... | 7 jam lalu

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: