Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Fajar Muhammad Hasan

Petualang yang mencari kebenaran *twitter @fajarmhasan

PKS Pemenang Pemilu 2014?

HL | 11 March 2013 | 21:03 Dibaca: 4269   Komentar: 77   7

Litbang Kompas (Kompas terbitan Selasa, 24/7/2012) melakukan jajak pendapat pada 16-19 Juli 2012 di 33 ibu kota provinsi. Jumlah responden 1.008 dengan sampling error 3,1 persen.

Kompas menyebutkan ada dua pertanyaan yang diajukan kepada responden:

1. Partai apa yang Anda pilih dalam pemilu 2009 lalu?

2. Jika pemilu diadakan saat ini, partai apakah yang akan Anda pilih?

Hasilnya adalah seperti berikut ini:

Hasil Survey Litbang Kompas

Hasil Survey Litbang Kompas

Lho PKS hanya dapat 2.5% bagaimana judulnya bisa menjadi pemenang ? sedang Melawak ? mencari sensasi ? atau menyindir ? Jelas tidak. Kalau kita cermati data diatas jangan hanya melihat dari 2.5% nya saja tapi lihatlah grafik sebelah kiri dan kanan secara bersamaan. Saya harus minta izin kepada Mas Salman yang lulusan Statistika IPB karena menggunakan ilmunya untuk membaca hasil survey Litbang Kompas.

Hasil Litbang Kompas bisa ditabelkan dan disandingkan dengan data pemilu 2009 yang bersumber dari KPU di http://www.kpu.go.id/dmdocuments/saku_h.pdf sehingga hasilnya bisa ditampilkan sebagai berikut :

Tabel Hasil Survey Kompas, Data KPU 2009 dan penyesuaian data

Tabel Hasil Survey Kompas, Data KPU 2009 dan penyesuaian data

Marilah kita sama2 membaca tabel dengan benar.

Jumlah Pemilih yang sudah menentukan Partai

Jumlah pemilih partai sesungguhnya hanyalah jumlah responden yang menjawab dengan jelas partai apa yang akan dipilih pada 2012. Jadi jumlahnya adalah 12.8+9.1+6.9+…..+1+0.2 = 46.4% saja. Untuk jawaban Rahasia biasanya kita anggap tersebar secara proporsional. Jadi angka 46.4+7.3=53.7% ini adalah persentase pemilih yang sudah menentukan akan memilih partai apa. Selebihnya 46.1% adalah Golput dan Belum memilih.

Proporsionalitas Responden

Kalau data dari KPU ditabelkan bersamaan dengan hasil survey kompas (kolom KPU2009) maka terlihat bahwa Demokrat mendapat 20.81% sedangkan yang menjadi responden adalah 44.2%. Artinya jumlah responden (obyek survey) dari Demokrat terlalu banyak, lebih dari 2x lipat yang diperlukan. Akhirnya hasil survey akan cenderung menguntungkan Demokrat. Ini bukan salah desain survey, Kompas atau siapapun. Ini masalah kebetulan saja. Dan saya justru salut dengan Litbang Kompas yang menampilkan data secara apa adanya sehingga bisa dibaca dengan benar. Untuk memotret dengan benar pemilih Demokrat maka bisa dihitung secara sederhana: 20.81 / 44.2 X 12.8 = 6. Jadi sebenarnya yang memilih Demokrat pada pertengahan 2012 hanya 6%. Kita hitung PKS, Menurut KPU setelah semua perselisihan di MK diputuskan mendapat suara 7,89% padahal yang disurvey hanya 3% jadi seharusnya pemilih PKS itu 7,89 / 3 X 2.5 = 6.6%. Wow, ternyata sudah melampaui pemilih Demokrat !!. Semua perhitungan sudah diselesaikan pada tabel diatas. Jika pembaca ingin mencoba sendiri dipersilakan.

Khusus Nasdem karena tidak punya sejarah, kita anggap saja survey mendapatkan responden secara proporsional jadi kita tetapkan angka seperti semula, 4.5%. Jadi hasil perhitungan seperti di kolom Rasionalisasi1.

Rasionalisasi

Dengan menggunakan cara ini ternyata jumlah responden lebih dari 100%. Ini bukan akal-akalan. Kita masih ingat, persentase yang sudah menentukan pilihannya hanyalah 53.7%, artinya angka2 di kolom Rasionalisasi1 itu harus kita sesuaikan secara proporsional. Kalikan masing-masing perolehan partai dengan angka 53.7% hasilnya di kolom Rasionalisasi2.

Di kolom ini tentu saja suara pemilih lainnya dihitung dari total partai lain2 (18.3%) dikurangi Nasdem (4.5%) karena Nasdem belum ikut pada pemilu 2009. Sedangkan yang menjawab Rahasia sudah dimasukkan secara proporsional kepada pemilih partai2.

Setelah dihitung, eh ternyata totalnya 93.6%. Itu hal biasa, sesuaikan agar total 100% (lihat survey Kompas yang totalnya juga tidak 100%). Jadi bagi masing2 angka dikolom Rasionalisasi2 dengan totalnya (93.6%) dalam bentuk persen. Jadilah seperti tabel berikut :

Penyesuaian

Penyesuaian

Tabel diatas sudah diurutkan perolehan suara dari terbesar sampai terkecil agar lebih enak membacanya.

Ternyata, sang juara adalah Gerindra yang sudah diminati oleh sekitar 10.9% diikuti oleh Golkar, PDIP, Hanura dan PKS ternyata turun ke nomor 5 dengan perolehan suara 3.8%.

Pemilih yang belum menentukan partai apa yang akan dipilih masih cukup besar yaitu sekitar 32.9% (atau kira2 33%)

Keadaan Sekarang

Setelah gonjang-ganjing kasus yang menimpa partai2 ternyata ketahanan partai terhadap isu itu berbeda2. PKS sendiri dengan adanya kasus LHI turun 0.2%  atau hanya 5% dari total suara PKS (lihat survey LSI). Bandingkan Demokrat yang turun hingga 30% dari suara yang dimiliki. Kalau hitung2an PKS masih punya 3.6% suara.

Dari sini seharusnya partai2 belajar, jika ingin menggunakan strategi black campaign, hanya cocok jika diterapkan kepada partai2 dengan suara yang besar (Gerindra, Golkar dan PDIP). Bukannya saya menganjurkan, tetapi black campaign kepada partai dengan suara kecil tidak akan banyak manfaatnya. Hanya menghabis2kan dana saja.

Undang-undang Pemilu memihak PKS

Ibarat genderang perang sudah ditabuh KPU mulai awal tahun ini, kampanye diperbolehkan dengan syarat2 tertentu. Ternyata syaratnya menguntungkan PKS. Mengapa ? karena kekuatan partai2 itu berbeda2 (baca ini: http://politik.kompasiana.com/2013/02/24/peta-kekuatan-partai-2014-531686.html) jika kekuatan partai pada uang, buat apa uang jika tidak boleh pasang iklan ? jika kekuatan itu pada Media Massa seperti TV dan Koran, kan gak boleh tayang iklan dan sosialisasi secara massif. Kalau mau black campaign model Metro TV dan TV one, aduh orang Indonesia sudah pada cerdas. Dan terbukti juga di survey, gak banyak pengaruh. Lebih banyak manfaatnya merebut suara yang belum menentukan pilihan daripada black campaign.

Suara yang belum menentukan akan memilih partai apa, jumlahnya sangat besar, 33% ! Siapa yang bisa merebut itulah sang pemenang.

Dari Undang2 Pemilu, jika diibaratkan perang, PKS satu2nya partai yang senjatanya boleh dipakai. Karena yang lain tidak memenuhi spesifikasi. Ibarat balapan F1, semua spesifikasi mobil memenuhi syarat sedangkan mobil lain sedang bongkar pasang.

Kader boleh ngomong dengan siapa saja. Boleh nulis opini apa saja. Boleh berteman dengan siapa saja. Boleh merekrut siapa saja. UU menganggap tindakan itu legal.

Dengan diuntungkannya PKS oleh Undang-undang, saya melihat pertarungan ini tidak adil. PKS terlalu diuntungkan. masalahnya apakah kader2 PKS sadar bahwa mereka diuntungkan ?

Pertarungan sudah dimulai dan PKS satu2nya yang boleh menggunakan perlengkapannya. Apakah ini merupakan tanda-tanda kemenangan PKS 2014 ?

Saya hanya ingin bertanya kepada seluruh kader PKS di seluruh dunia. Apakah anda siap memPKSkan suara yang 33% ? Saya berharap kader2 PKS berdiri dengan gagah dan mengepalkan tangan kanan dan mengacungkan keatas seraya bersuara lantang: SIAP !!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gubernur Jateng Tolak Kartu Flazz Kriko …

Syukri Muhammad Syu... | | 22 November 2014 | 23:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


HIGHLIGHT

Rebutan Selfie Dengan Ahok Di Kompasianival …

Maulana Zam | 8 jam lalu

M.Ridwan Kartu Mati, Merugikan Timnas …

Manly Villa | 8 jam lalu

Muslimat HTI Harus Berterima Kasih Kepada …

Aluska | 9 jam lalu

Mengenal Macam Gangguan Parafilia …

Alif Fiadi Fuazhim | 9 jam lalu

Seperti Ini, Saya Sudah Abnormal …

Imroatul Khoyroh | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: