Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dimasmul Prajekan

anak desa mencari makna hidup

Palu Godam untuk PKS

OPINI | 10 March 2013 | 23:09 Dibaca: 189   Komentar: 0   0

Palu Godam untuk PKS

PKS adalah partainya anak muda yang mulai beranjak dewasa. Dan kini beranjak menjadi orang tua. Begitulah kira –kira kalimat yang tepat kita alamatkan pada Partai Bulan Sabit Kembar itu. Partai yang dihuni oleh anak –anak muda memang berawal dari anak –anak muda. Jauh –jauh hari sebelum reformasi itu lahir, partai ini telah banyak berkontribusi dalam dakwah kampus. Satu persatu kader bergabung dan kian hari kian bertambah melalui pembinaan yang intensif.

Melalui perjalanan nan panjang PKS tumbuh menjadi partai kader. Maksudnya seorang kader yang sudah menyatakan bergabung dengan PKS tak berhenti sampai disitu. Mereka akan terus dibina menjadi pribadi yang kuat, pemahaman keagamaan yang cukup, penanaman sikap moderat yang memadai, penguatan amal –amal kolektif, dan memasukkan nilai –nilai moral yang yang aplikatif, serta militansi sorang kader yang tak boleh diragukan.Melalui kegiatan yang rutin dan berkelanjutan kader yang semula tidak memiliki apa –apa menjadi terisi spiritualnya, tergugah semangat berkorbannya, dan pada akhirnya memiliki cinta dan loyalitas kepada organisasi. Inilah kelebihan PKS dibanding partai lain.

Partai semodern partai Golkar, Partai Demokrat, dan kini Nasdem tak kan mampu menandingi militansi kader –kader PKS. Nasdem salah satu contohnya akan menjadi besar bukan karena mereka melalui proses kaderisasi yang evolutif.Akan tetapi kader –kader mereka didapat di Pasar bebas .Comot sana comot sini. Maka sangat maklum jika ada persinggungan yang cukup menghangat di internal partai bisa –bisa sang kader begitu mudahnya hengkang dari rumah politiknya. Rumah yang selama ini membesarkannya dianggap tidak cocok lagi dengan aspirasinya. Sangat beda dengan para kader yang memiliki frame ideology yang jelas seperti PKS, dia tidak mudah putus asa karena tidak terpilih sebagai ketua ditingkat ranting misalnya.

Diantara plus dan minus PKS, partai ini telah banyak memberikan kontribusi terhadap tumbuh kembangnya negeri ini. Bahkan diawal –awal berdirinya banyak orang menaruh takjub memberikan teladan dan kesantunan dalam berdemonstrasi misalnya. Kepedulian dan kesigapan terhadap bencana tak dapat dipungkiri lagi , PKS sudah mengambil posisi yang kontributif.

Kini dalam perjalanannya ,tak diduga ada kasus –kasus penangkapan LHI. Sebagai proses hukum sejatinya kita harus kita munculkan praduga tak bersalah terhadap LHI. Tapi publik sudah menghakimi lebih dulu sebelum LHI duduk dikursi pesakitan. Dan……… PKS sebagai institusi menjadi tertuduh . PKS dianggap sebagai partai terkorup. Caci maki, olok –olok dan kata –kata kasarpun dialamatkan kepada partai ini.Pemberitaan media yang massif terhadap terhadap kasus LHI mau tidak mau PKS menjadi sasaran tembak yang empuk. PKS seperti sedang dan akan mendapatkan palu godam yang keras sekali.PKS dihantam kanan kiri .Dan menurut para analis PKS yang dipukul knock out akan takluk sebelum pertandingan berakhir. PKS akan collaps.

Benarkah kasus LHI akan menjadikan kader –kader ciut nyalinya lantas bersembunyi dibalik batu, mundur dari perjuangan yang memang membutuhkan pengorbanan ? Ternyata tidak. Pengamat ternyata salah besar. Lihatlah kegiatan –kegiatan kepartaian dari pusat, wilayah ( propinsi ), kabupaten, kecamatan hingga ranting, tak sepi dari kegiatan.Kegiatan berjalan normal –normal saja sesuai dengan renstra organisasi yang telah dicanangkan. Kajian –kajian keagamaan yang menjadi ciri khas PKS tak ada yang diliburkan. Ketika Anis Matta sang Presiden Partai berkunjung sesuatu wilayah, para kader dan simpasitan yang ada diakar rumput saling berebut untuk ikut mendengarkan orasinya.

PKS memang sedang dihantam. Tetapi ibarat kita memukul paku dengan palu godam, semakin keras kita memukulnya, sang paku bukan semakin goyah menancap di pohon, akan tetapi paku semakin kuat. Pukulan ternyata tak dibalas dengan pukulan juga akan tetapi ditunjukkan dengan amal dan amal. Seorang kader PKS yang bertemu dengan penulis pernah berucap “ jadilah sebatang pohon, jika orang melempar dengan batu balaslah dengan buah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 6 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 9 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 11 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 11 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Senja di Stasiun …

Ikhlash Hasan | 7 jam lalu

Aturan Main di Booth Kispray …

Ghumi | 7 jam lalu

Perempuan Berkabut Musim …

Budhi Wiryawan | 7 jam lalu

Kado Berwarna Biru Dari Alex …

Agustina | 7 jam lalu

Cerita dari Kotamobagu, Kota Terkecil di …

Ferdinand Mokodompi... | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: