Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Jefri Hidayat

domisili di Sumbar, lajang, 30 tahun. Twitter @jefrineger

Politik Kotor ala PDIP dan Loyalitas Rustriningsih

REP | 07 March 2013 | 20:16 Dibaca: 3222   Komentar: 35   3

Demokrasi yang menjadi jualan Partai DemokrasiĀ  Indonesia Perjuangan (PDIP) sudah menjadi otoritariat. Bahkan, nilai-nilai dasar demokrasi beberapa tahun terakhir yang didengungkan oleh PDIP telah dikesampingkan oleh sang empunya partai. PDIP sekarang ini bukan lagi sebuah wadah organisasi dalam corong demokrasi, dimana Partai politik merupakan menjadi salah satu alat dalam menyampaikan aspirasi masyarakat.

Jika ditengok pada dua pemilihan kepala daerah (Pilkada) Sumatera Utara yang telah berlangsung tadi pagi dan Pilgub Jawa Tengah mendatang, sikap elite partai PDIP tak ubahnya seperti Direktur dalam menentukan kebijakan dan arah perusahaan.

Sebagaimana diketahui dalam menentukan pasangan yang akan bertarung pada pilkada Sumut lalu. PDIP melakukan tindakan yang tidak terpuji, menciderai demokrasi dan membohongi public. Yang membuat PDIP dicemooh oleh banyak kalangan, partai berlambang moncong putih ini juga menabrak mekanisme yang telah diatur oleh partai bersangkutan.

Seperti dikutip dari berbagai media. Sebanyak enam nama mengikuti proses seleksi di PDIP yakni Benny Pasaribu, RE Nainggolan, Gus Irawan, AY Nasution, T Erry Nuriadi, dan Bintatar Hutabarat (adik ipar Effendi Simbolon). Diantara enam nama tersebut, hanya Benny Pasaribu yang berasal dari kader PDIP.

Namun partai besutan putrid Bung Karno itu mengusung Efendi Simbolon berpasangan dengan Jumiran Abdi, walaupun anggota DPRRi itu tidak pernah mengikuti proses seleksi Cagub sebagaimana yang telah ditetapkan oleh PDIP.

Walaupun dikritik oleh berbagai pihak soal perekrutan calon kepala daerah di Sumut lalu, tapi tidak membuat PDIP intropeksi, dan mengubah caranya tersebut untuk menghadapi Pilgub Jawa Tengah. Malahan partai Megawati itu bertindak zalim terhadap kadernya sendiri yakni Wakil Gubernur sekarang, Rustriningsih.

Kata Detik PDIP mengandangkan Rustriningsih. Padahal kader yang telah mengabdi kepada PDIP ini sudah 27 tahun, 10 tahun atau dua priode diantaranya menjadi Bupati kebumen. Pada pilgub 2008 lalu ia dipasangkan menjadi Wakilnya Bibit Waluyo dan keluar menjadi pemenang pada saat itu.

Menurut cerita Detik. Com. Rustriningsih sudah mendaftar menjadi Cagub dari bulan September. Tapi PDIP belum memberikan ketegasan soal siapa yang akan diusung partai tersebut menjadi Gubernur Jateng.

Sayangnya, pada malam terakhir pendaftaran calon di KPUD Jateng, nama Rustri dicoret dari kandidat cagub Jateng. PDIP akhirnya memasangkan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko untuk Pilgub Jateng. Rustri pun harus gigit jari, menerima kenyataan, dirinya telah dikandangkan. Semakin menyakitkan karena PDIP memilih cagub di saat terakhir, tidak memungkinkan Rustri mencari dukungan ke partai lain.

Betapa kejamnya politik yang sedang dimainkan oleh Megawati. Walaupun terhadap kadernya sendiri. Jika memang tidak mengusung Rsutriningsih baiknya dikomunikasikan dari awal, bukannya di saat detik-detik terakhir.

Keputusan elite PDIP ini tidak hanya menggagalkan Rustriningsih menjadi Cagub lewat PDIP. Tapi secara tak langsung juga membunuh karir politik wanita 46 tahun ini di Provinsi Jateng. Sebuah contoh buruk yang telah dipertotonkan oleh Megawati. Apalagi, mereka berdua sama-sama wanita.

Walaupun telah dizalimi oleh partainya sendiri. Rustriningsih tetap loyal dan patuh terhadap keputusan partainya tersebut. Loyalitasnya dibuktikan dengan menolak tawaran partai-partai lain yang ingin mengusungnya menjadi Gubernur pada Pulgub Jateng nanti.chayoo bu..

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 8 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 9 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 10 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 12 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: