
Dibaca:
3136
Komentar: 0
4 aktual
Bukan rahasia lagi bahwa tingkah polah kader dan PKS sebagai sebuah partai kemarin sore (PKS juga), sungguh mengecewakan banyak pihak. Karena itulah, PKS dianggap nyeleneh dan asing, so’-so’an dan menempuh rutenya sendiri sesuai izin trayek yang diberikan konstituennya. Harapan halayak bahwa kader PKS yang ada diparlemen maupun dibirokrasi akan melakukan tindakan semisal korupsi, asusila, narkoba, dan hal-hal terpuji lainnya, hingga sekarang justru jauh panggang dari api. Bukan hanya pihak kiri yang doyan pada nilai2 Islam (sampai2 jadi alergi, hehe) seperti JIL, kebanyakan LSM, serta pegiat2 kebebasan tanpa batas dan norma, tetapi juga pihak kanan yang menyukai demokrasi sebagai barang bid’ah, warisan Barat, dll. Saking kecewanya, mereka sampai mengumpat; “RASAIN LOE PKS“, “MAKAN TUH DAGING SAPI”, “EMANG ENAK DIPENJARAIN KPK”, hingga ungkapan2 sedap lainnya yg datang dari pikiran dan hati yang sungguh bersih dan tulus. Pokoke, PKS gak bisa diharap, mengecewakan.
Jika kita mengutip 2 kasus mutakhir yg menimpa PKS yakni kasus LHI (nasional) dan kasus Gubernur Sumatera Barat, IP (daerah dimana saya berkecimpung), kita akan melihat siapa saja pihak yang dikecewakan secara detail dan kasat mata oleh PKS. Berikut kira2 rinciannya.
Kasus Proposal Dana Safari Dakwah
Kasus ini menimpa Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, dengan tuduhan memberikan dana sebesar 1,9 M untuk kegiatan Safari Dakwah DPP PKS. Lucunya (ha ha ha), kasus ini justru ditemukan sendiri oleh Sang Gubernur (yg memperoleh penghargaan kearsipan dari ANRI) dari laporan staffnya. Ada dana yg dianggarkan pada 2013 untuk kegiatan safari dakwah DPP PKS, tetapi beliau dan juga Sekdaprov tidak pernah mengetahui apalagi menandatanganinya… hmm mengecewakan. Usut punya usut, ternyata terungkap bahwa dana tsb dimasukkan oleh salah seorang staff yg telah dinon-jobkan (pake salah nge-poskan anggaran lagi) berdasarkan sebuah proposal yg tidak jelas pengirim dan kepada siapanya… maklum, Sumbar itu memang tempatnya pakar2 politik, kaum cerdik pandai. Alhasil, selain dana tersebut belum diapa2kan, skenario orang kecewa dan lawan politik PKS juga masih perlu belajar banyak ke Hanung Bramantyo, supaya layak tayang.
Nah lho, siapa yg kecewa pd kasus ini?? Wakil Gubernur yg amat nafsu jadi gubernur? Golkar dkk yg tidak terima status quonya tercemar? Demokrat yg sedang limbung? Atau banyak lagi yg dikecewakan. Hmmmm, kalian yg amat rakus akan harta, tahta, permata, walau hanya banyak ota, bersiap siagalah untuk kecewa, lalu berkata “apa mau dikata”. Ternyata, Irwan itu memang jujur, baik hati, shabar, santun, pengabdiannya tulus, meski namanya seperti wong jawi. Saya sarankan, bagi hamba2 yg jauh dari Tuhan, ambillah cermin, tatap wajahmu yg jarang kena air wudhu’. Meski engkau poles dengan dandanan atau image enhancement software, rakyat jelata seperti saya, tetap akan melihat aura kerakusanmu akan kuasa. Your eyes can not lie, brother.
Kasus Suap Quota Impor, LHI
LHI, sudah lebih sebulan menginap dihotel prodeo KPK. Tuduhannya, terjerat operasi tangkap tangan KPK, pada suatu malam dihotel Le Meridien (tidak) bersama Ahmad Olong Fathanah yg cerdas, dan gadis manis bernama Maharani, maha yg tidak dimiliki Tuhan. Gebrakan KPK yg prestisius ini telah melelapkan kader2 macan PKS, seraya menggelorakan semangat manusia pihak kanan dan kiri. Bukankah KPK itu adalah Tuhan baru yg titah dan firmannya adalah kebenaran sejati?? Yang lain boleh salah, KPK?? Gak mungkin, mustahil, mosok firman Tuhan keliru?? Hal ini diakui Anis Matta sendiri, sehingga beliau mendukung KPK untuk terus melaksanakan pemberantasan korupsi, meskipun, sebagai rekan LHI, dalam hati Anis Matta berkata; “KPK, maafkan kami karena akan mengecewakanmu“.
Oiya, tadi pagi di tivi, saya menyaksikan Bapak Johan Budi menyampaikan bahwa Ahmad Cerdas Fathanah, orang dekat LHI yg tidak begitu dikenal kader2 PKS, telah disangkakan dengan pasal TPPU. Pertanyaannya, ini sangkaan tambahan yg baru, atau bagaimana boss? Yg dulu (ketangkep tangan itu) bagaimana?? Hanyuuuut??
Mengapa PKS akan mengecewakan KPK dan orang2 alergi lainnya? Bandingkan saja fakta2 berikut.
Yaaa, sudahlah. Ini sudah ranah hukum, tidak lagi domain opini, wacana, atau inspirasi artikel para kompasianer yang pintar2, termasuk saya, hehe. PKS sudah terlanjur dibenci oleh para kadernya, bahkan yg sudah tidak pernah ikut pengajiannya PKS sekalipun. Semakin kasus ini mengambang, kian laris pulalah Tempo yg selalu menjadikan Yusuf Supendi dan anonim sebagai rujukan informasi akurat, bahkan mendahului kejadiannya. Secepatnya saja digelar ke meja hijau TIPIKOR, agar firman2 KPK masih tetap bertuah, khususnya kepada Anas Urbaningrum, Andi A Mallarangeng, IBAS, dll. Kalau perlu, beri mereka ini penghargaan karena sudah patuh dan mau ditahan oleh KPK, serta tidak akan pernah berniat menghilangkan barang bukti atau kabur keluar jagad.
Kita tunggu saja, PKS dan KPK adu bersih.
Wallahu a’lam bis-shawwab.
-