Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Jokowi Jurkam Tak Laku di Sumut, PKS Menang

HL | 05 March 2013 | 07:07 Dibaca: 7437   Komentar: 0   13

1362448205841161010

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

Joko Widodo yang fenomenal itu dijual lagi sebagai juru kampanye PDIP. Setelah kegagalan total di Jawa Barat dengan kekalahan Rieke Diah Pitaloka, kini tanpa merasa kapok PDIP mendorong Joko Widodo sebagai juru kampanye. Joko Widodo sesungguhnya bukan seorang juru kampanye yang berapi-api mampu membakar semangat pemilih. Jokowi adalah kepribadiannya. Jokowi adalah dirinya. Lalu apakah dengan diutusnya utusan khusus PDIP Joko Widodo menjadi Jurkam di Sumatera Utara akan membantu memenangkan Effendy Simbolon ?

Rekam jejak berbagai pasangan gubernur memecah suara. Suara pemilih muslim dan non-muslim di berbagai wilayah terpecah. Persatuan antara calon gubernur dan wagub Kristen-Islam yang zaman dulu dianggap hal yang baik untuk keberagaman dan persatuan Indonesia, kini berubah. Kampanye segregasi yang dilancarkan oleh paham mono-religi seperti PKS di Jawa Barat yang mendorong pengalihan suara dukungan terhadap calon perempuan seperti di Jawa Barat tidak terjadi di Sumut. Namun tak-tik politik kotor primordialisme yang dilakukan oleh PKS pasti akan memenangi kejuaraan Pilgub Sumut ini.

Demografi penduduk yang terkotak-kotak, marga yang mengoyak setiap calon, coba dijembatani dengan membuat warna calon dari agama dan suku yang berbeda-beda. Namun justru pewarnaan majemuk itu tak akan memberikan kekuatan absolute dan terdapat perbedaan mencolok. Maka kehadiran pasangan calon Ganteng membuat pasangan ini sebagai pasangan paling berbeda. Dan, dalam kampanyenya PKS jelas melakukan kampanye seperti biasa. Wajib, dosa, pahala, surga dan neraka, amal, amar makruf nahi mungkar yang sangat efektif untuk masyarakat dan umat yang masih jumud seperti di Jawa Barat daan jelas Sumatera Utara.

Para kandidat cagub lain tidak mampu berjuang sama dengan cara pasangan Ganteng yang mono-religi. Terpecahnya calon dan daerah asal menjadi penyebab berkumpulnya suara kepada pasangan Ganteng itu.

Melihat demografi dan pasangan calon serta strategi kampanye PKS dan partai-partai lain, maka kehadiran Jokowi ke Sumut ibarat menggarami angkasa luar. Pribadi Jokowi sendiri tidak sangat spektakuler untuk menjadi jurkam bagi orang lain. Jokowi berkampanye dengan prestasi dan kepribadiannya untuk diri sendiri. Namun, jika Jokowi harus berkampanye justru yang dielukan oleh massa adalah Jokowi sendiri. Jokowi tak akan mampu melakukan endorsement dan dorongan-sugestif untuk mendongkrak dan menarik pemilih agar mendukung Effendy Simbolon.

Penyebabnya adalah Effendy Simbolon berbeda karakter dan prestasi dengan Joko Widodo. Peristiwa de javu sebenarnya telah terjadi di Jawa Barat, ketika Rieke-Teten dibantai di Pilgub Jawa Barat - meski Jokowi turun gunung menjadi jurkam calon PDIP yang bahkan menjiplak baju Jokowi-Ahok pun tetap gagal. Penyebab kekalahan Rieke adalah kampanye primordialis secara massif untuk melarang dan mengharamkan pemimpin dari kalangan perempuan oleh jurkam PKS. Kampanye primordialisme dan segregatif PKS di Sumut tak jauh dari halal, haram, dosa, pahala dan neraka yang memang diinginkan dan dibutuhkan oleh warga Sumut. Dan itu sah dalam demokrasi jahiliah dan purba seperti di Indonesia.

Dengan demikian, kehadiran Jokowi di Sumut tak akan memberikan dampak apapun juga selain nama Jokowi tercoreng sebagai jurkam gagal di Jawa Barat dan Sumut. Kali ini yang menang sebagai jurkam adalah Ustadz Hidayat Nur Wahid dari PKS. Jokowi tak laku sebagai jurkam PDIP, dan PKS yang menang dalam Pilgub Sumatera Utara.

Salam bahagia ala saya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 8 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 12 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 11 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Irvan Hidayat | 11 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 12 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: