Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rullysyah

Mantan Anak Band. Pernah jadi Guru Matematika dan Guru Komputer. Pernah Kuliah Ekonomi, aktif di selengkapnya

Cakrawala Politik Indonesia Tahun 2013

HL | 03 March 2013 | 04:50 Dibaca: 870   Komentar: 0   0

13622798671923754272

Ilustrasi/Admin (KOMPAS/ASWIN RIZAL HARAHAP)

Kurang dari satu setengah tahun lagi negeri ini akan melakukan Pesta Demokrasi lagi untuk memilih Wakil-wakil di Parlemen dan Pemimpin Nasional. Ya betul, Pemilu 2014 sudah di ambang pintu dan langit politik kita sudah berubah menjadi rona kemerahan.

Pertanyaan pertama : Siapkah masyarakat negeri ini untuk melaksanakan Pesta Demokrasi? Pertanyaan berikutnya : Siapkah Partai-partai Politik yang ada ikut dalam geliat demokrasi tanah air dan mendapatkan sedikit kepercayaan dari masyarakat?

Dan jawaban untuk kedua pertanyaan diatas sebenarnya bisa langsung dijawab bahwa masyarakat negeri ini selalu siap untuk berdemokrasi, masyarakat kita selalu siap untuk memilih pemimpin-pemimpinnya. Yang menjadi masalah dan problemanya adalah ketidak-tersediaannya pemimpin-pemimpin yang mampu dan dipercaya untuk dipilih rakyat kita. Kenapa demikian karena memang faktanya sampai dengan saat ini tidak ada satupun Partai Politik yang bisa dipercaya. Dan juga bisa dikatakan hampir tidak ada tokoh/politisi yang benar-benar dipercaya dan diharapkan rakyat agar dapat memimpin negeri ini untuk mengatasi keterpurukan yang melanda belasan tahun belakang ini.

Mari kita lihat dan tinjau sekilas saja tentang partai-partai yang ada saat ini dan telah lolos verifikasi pemilu 2014 oleh KPU. Kita tidak bicara tentang peta kekuatan mesin parpolnya tetapi kita lihat apa pandangan masyarakat terhadap partai-partai ini.

1.Partai Demokrat.

Pertai pemenang pemilu yang lalu ini pada tahun 2009 menjadi satu-satunya partai yang diharapkan Rakyat Indonesia secara umum. Demokrat berkerangka Nasionalis jadi lebih fleksibel untuk lintas agama dan lintas golongan. Demokrat memiliki SBY salah satu Pemimpin kita saat itu yang Cerdas, Berpengalaman, Tidak Korupsi,dan Berlatar-belakang Militer. Para kadernya juga pada saat itu bisa dibilang nyaris belum ada yang bersentuhan dengan Kasus Korupsi. Dan dengan berbekal hal-hal tersebut Partai Demokrat secara gemilang memenangkan Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden.

Tetapi… akhirnya tibalah pada tahun 2011 dimana terkuak sudah bahwa beberapa kader penting dari partai ini ternyata bergelimangan dengan kasus korupsi. Beberapa Kader-kader penting partai ini sudah membohongi rakyat dan memakan uang rakyat. Disisi lain SBY yang sudah dua kali dipercaya rakyat untuk memimpin negeri ini dan diharapkan akan membawa masyarakat menjauh dari keterpurukan bangsa ternyata belum mampu dan belum sanggup membuat perubahan berarti.

SBY mungkin masih konsisten dengan tidak terkontaminasi dengan korupsi, SBY memang mampu mengawal negeri ini dalam kondisi aman tapi menurut rakyat SBY terlalu lamban bekerja sehingga rakyat negeri ini tidak bisa sedikit terangkat kehidupannya dalam beberapa tahun terakhir. Rakyat butuh pemimpin yang lebih banyak bisa berbuat. Rakyat menghendaki pemimpin yang lebih baik dari SBY.

Dan saat ini partai inipun sedang dilanda masalah yang sangat krusial. Kasus korupsi dan kekisruhan kepemimpinan internal melanda partai berjubah biru ini. Kelihatannya bila Demokrat tetap kisruh dan tidak dapat membersihkan namanya hingga awal tahun 2014, partai ini hanya akan menjadi Partai Tengah saja. Partai ini akan melorot jauh perolehan suaranya pada Pemilu Legislatif dan tidak akan dapat berbuat banyak untuk Pemilihan Presiden 2014.

2. Partai Golkar

Partai Golkar adalah partai yang paling senior di blantika politik tanah air saat ini. Partai yang terkuat di zaman Soeharto ini dulunya selalu memenangkan pemilu-pemilu yang dilangsungkan pada zaman kepemimpinan nasional Soeharto. Dalam partai ini tersedia puluhan hingga ratusan Politisi Handal dan berpengalaman. Mungkin kader-kader poltik partai ini paling berpengalaman dari partai-partai yang ada saat ini.

Pasca tumbangnya kekuasaan Soeharto (Zaman Reformasi) partai ini seolah-olah akan runtuh dan diambang kehancuran. Tetapi karena handalnya para politisi yang ada didalamnya dan kuatnya organisasinya partai ini tidak hancur. Akbar Tanjung sebagai Ketuanya memang berhasil mempertahankan nama partai meski akhirnya nama pribadinya juga hancur gara-gara korupsi Rp.40 Milyar yang entah bagaimana kelanjutan proses hukumnya.

Partai ini juga bisa bertahan pada era Reformasi karena masih banyak para kader-kadernya yang berada dalam internal pemerintahan pusat dan daerah. Mereka mampu mempertahankan posisi jabatannya sehingga mampu mempertahankan pula massa dari partainya.

Setelah era kepemimpinan Megawati yang oleh kebanyakan orang dianggap tidak mampu mengelola negeri ini partai Golkar kembali dilirik oleh masyarakat karena dinilai lebih stabil dalam keorganisasiannya. Golkar saat itu sebenarnya punya peluang untuk menjadi kuat lagi. Tetapi akhirnya pada tahun 2004 terlalu banyak intrik-intrik mewarnai politisi elitenya. Bagaimana terjadi perebutan posisi Ketua Umum, bagaimana Jusuf Kalla berbelak-belok dalam partai tersebut dan akhirnya bagaimana Ketua Umum bisa dipegang oleh Aburizal Bakrie menyiratkan bahwa partai ini dikendalikan oleh managemen kekuasaan. Bukan kader terbaik yang memimpin partai ini melainkan siapa yang paling kuat kekuasaannya dan siapa yang paling banyak uangnya yang akan memimpin partai ini hingga beberapa saat kedepan.

Lihatlah pencalonan Aburizal sebagai Capres 2014. Bagaimana penolakan keras sebelumnya yang terjadi dari kader- kadernya. Elektabilitas Aburizal tidak akan meningkat sampai kedepan karena kasus Lumpur Lapindo tetap menjadi cap buruk buat dirinya. Partai ini sebenarnya punya masalah krisis internal kepemimpinannya dalam tahun-tahun terakhir tetapi mereka para kader-kadernya mampu menutupinya dari media sehingga tidak terekspos ke masyarakat.

Secara umum partai Golkar cukup stabil. Kemampuan kader-kadernya menghimpun massa akan membawa partai ini tetap di posisi tiga besar dalam Pemilu Legislatif 2014 nanti tetapi partai ini akan anjok dalam Pemilihan Presiden.

3.Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)

Partai Wong Cilik itulah sebutan partai ini dari era berdirinya hingga saat ini dan hingga sampai beberapa saat kedepan. Selama partai ini masih dipimpin oleh Megawati (sebagai anak dari Soekarno) selama itu pula partai ini akan bisa sinkron dengan istilah Wong Cilik. Hal itu disebabkan karena kekuatan partai ini masih terikat dengan kharisma Soekarno. Soekarno adalah Raja terakhir dari negeri ini. (istilah Raja dipakai karena zaman Soekarno adalah zaman peralihan dari zaman Feodal ke zaman Republik dimana sebelumnya rakyat negeri ini hanya mengenal kekuasaan kerajaan).

Kedekatan hati rakyat pada PDIP selain karena kharisma dari Soekarno juga tetap diperkuat oleh arah kebijakan-kebijakan politik yang diambil oleh Megawati. Meski tidak pintar Megawati selalu ingin membela kepentingan rakyat jelata. Itulah kesan yang bisa dibaca pada partai ini.

Secara kualitas kader partai, PDIP tadinya jauh dibawah partai Golkar tapi untuk saat ini bisa dikatakan hampir berimbang kualitas dari kader-kader partai ini dengan kader-kader partai manapun. Secara keorganisasian dengan Megawati sebagai sentral kekuatan partai kelihatannya PDIP cukup solid dan jauh dari ribut-ribut di internal partai.

Yang terbaik dari partai ini dalam 5 tahun terakhir adalah Partai ini Konsisten. Memposisikan dirinya sebagai pihak Oposisi sehingga membuat partai ini sangat kuat dalam bersuara baik di parlemen maupun di publik. Dan kalau melihat dari posisinya diluar pemerintahan partai ini akan mendapatkan kepercayaan lebih besar dari sebelumnya. PDIP bisa dianggap lebih bersih dari partai Demokrat maupun PKS.

Satu point terbaik dari PDIP dalam setahun terakhir ini adalah PDIP memilik kader dengan nama Jokowi. Tokoh yang satu ini sangat berprestasi dan kekuatan Elektabilitasnya semakin lama semakin menguat di Masyarakat kita.

Untuk 2014 mendatang kemungkinan besar PDIP akan berada posisinya di dua besar pemenang Pemilu Legislatif. Sedangkan pada Pilpres nanti bila saja PDIP mendorong Jokowi untuk maju ke RI 2 atau RI1 kemungkinan PDIP akan mendulang sukses. Secara pribadi bila saya menjadi Megawati dan Jokowi bisa stabil dalam kariernya sebagai Gubernur DKI hingga akhir tahun ini, saya akan mencalonkan Jokowi sebagai calon RI 1 dan akan memenangkan Pilpres 2014.

Dan akhirnya mohon maaf pemirsa, ngobrol-ngobrol politiknya dilanjutkan pada tulisan berikutnya karena cukup capek ngetiknya. Salam…

Catatan :

Tulisan berikut tentang sekilas tinjauan PKS, Gerindra, Hanura dan lainnya. Juga tentang tulisan : apa sebenarnya alasan seseorang untuk memilih suatu partai.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Suasana Jalan Thamrin Jakarta Pagi Ini …

Teberatu | | 20 October 2014 | 08:00

Eks Petinggi GAM Soal Pemerintahan Jokowi …

Zulfikar Akbar | | 20 October 2014 | 07:46

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Harapan kepada SBY Lebih Besar Dibanding …

Eddy Mesakh | | 20 October 2014 | 09:48

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 4 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Ucapan “Makasih SBY “Jadi …

Febrialdi | 11 jam lalu

Jokowi (Berusaha) Melepaskan Diri dari …

Thamrin Dahlan | 18 jam lalu

Lebih Awal Satu Menit Tak Boleh Masuk Ruang …

Gaganawati | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Antara Sinetron dan Novelnya …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Keheningan Ceruk Airmata Ratu Ibu Bangkalan …

Husni Anshori | 7 jam lalu

[Cermin] Tentang Keimanan …

Taswin Munier | 7 jam lalu

Jokowi dan Tukul Arwana: Muka Ndeso Rejeki …

Herulono Murtopo | 8 jam lalu

Mengunjungi Candi Sukuh dan Candi Cetho di …

G T | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: