Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Bahtiar Ali Rambangeng

Pendidikan dasar saya dibentuk dari keluarga, kemudian di KOSKAR akar tumbuhnya pandangan dunia, KOSKAR komunitas selengkapnya

Penagasan Visi Misi dan Efektifitas Team Pemenangan DPR-RI

OPINI | 01 March 2013 | 21:23 Dibaca: 728   Komentar: 0   0

Menjelang penentuan nomor urut calon anggota DPR-RI april 2013 semua kandidat yang menjagokan diri akan maju sudah mulai melakukan langkah-langkah politik. Ada yang sudah jalan timnya di gress root untuk menata dukungan, ada yang baru jalan bahkan ada yang baru membauat rancangan dengan melakukan hitungan-hitungan politik, pemetaan lokasi suara partai, suara individu dan mengidentifikasi basis-basis dukungan nantinya. Sambil melakukan konsolidasi dukungan namun banyak juga yang justru menata kekuatan elit untuk memperoleh posisi nomor urut 1.

Meski nomor 1 bukan penentu sekarang sebab sistem pemilu saat ini terbuka dan berbasis suara terbanyak, mereka yang memiliki suara terbanyak meski nomor urut buncit akan tetap memperoleh kemenangan nantinya. Meski demikian tetapi fakta politik menunjukkan untuk kasus DPR-RI yang terpilih 60% diantaranya adalah nomor urut 1, 20% diantaranya nomor urut 2 dan 20% lainnya nomor selainnya, apalagi jika itu PKS 100% nomor urut sebagai pemenang karena partai ini sistem kekaderannya jalan dan penentuan nomor urut satu akan menjadi penentuan pilihan para kadernya.

PKS akan mendorong seluruh kadernya di daerah untuk memilih calon nomor urut satu pada konteks DPR_RI dan ini cukup efektif dari hasil penelusuran penulis semua yang terpilih adalah nomor urut 1. Yang bisa berbeda bagi PKS hanya di DPRD Kabupaten Kota, karena kondisi basis sangat dekat dengan calon, kader tidak akan terlalu berfungsi dalam mengerahkan kemenangan di Partai karena alasan nomor urut justru yang terpilih adalah nomor yang memiliki basis dukungan langsung dari masyarakat.

Konteks kedepan tentu saja sudah mulai berubah, nomor urut tidak bisa sepenuhnya menjadi barometer tetapi tetap saja memilikin dampak psikologis bahkan keuangan partai akan banyak digunakan oleh yang mempucai nomor urut 1 sehingga proses politikm akan sangat menguntungkan kandidat nomor urut 1. Meskipun ada perubahan dari presentase keterpilihan nomor urut 1,2 dan selainnya namun prediksinya tidak akan terlalu jauh, hanya orang terkenal, artis dan sudah membasislah yang bisa memperoleh kemenangan untuk melaju menjadi anggota DPR-RI meski bukan nomor urut satu sebab potensinya kuat, basis keuangan dan sosialnya jelas kalau orang baru hampir mustahil meraih kemenangan apalagi jika bukan anak si Anu.

Penegasan Visi Misi Upaya Menata Politik Etis

Tidak semua anggota DPR-RI yang sudah terpilih punya visi misi, hal ini ditandai dengan banyaknya peristiwa-peristiwa yang bertentangan dengan kehendak rakyat yang dilakukan oleh DPR-RI, ada juga memang bergabung di DPR hanya karena ingin populer, ada karena terlalu banyak duitnya hanya karena soal ambisi saja untuk dipenuhi minimal mengamankan hasrat berkuasa dengan menduduki penting di negeri ini.  Mungkin kita akan menemukan anggota DPR-RI mempunyai visi saat maju namun, sesungguhnya visi itu hanya dirakit oleh orang lain sekalian cari dukungan moral dan politik. Ada juga memang tak ada jelas visinya selain kamapanye dan piti kana-kanai, ngomong apa saja yang terlintas dipikirannya alias omongan tanpa dasar pahaman memadai.

Orang yang punya visi adalah mereka yang sukses setengah langkah sebelum melangkah, sebab visi akan mengikat seluruh gerakan, masterplan dan roadmap akan terbentuk dengan sendirinya dengan adanya visi misi. Penegasan visi misi akan mengarahkan seluruh tim bergerak sesuai kerangka acuan yang ada tentu ini akan potensial menciptakan dukungan positif bagi calon.

Penegasan lainnya, bahwa menjadi seorang anggota DPR-RI atau calon visioner tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mereka yang punya visi sudah terbentuk nalar, insting oleh tradisi yang kuat dari proses sosial yang dibangunnya. Visi misi yang diemban terbentuk sejak dini, membuatnya banyak mengabdikan diri pada bangsa dan masyarakat sekitar, sehingga sama sekali menjadi visioner bukanlah pekerjaan sehari, dua hari, sebulan bahkan setahun tetapi sebuah proses yang terbentuk dari kehidupan sosial dari sang figur.

Seorang aktivis anti korupsi mana bisa terjadi tanpa proses, dia harus memiliki lembaga, dan langkah-langkah terukur sebagai landasanya sebab itulah pembuktian objetif sebab visi bukan hanya soal cerdas tetapi hal lainnya karena ada penjiwaan sejarah sebelum lahirnya gagasan tersebut. Visi misi itu adalah rekasaya langsung pada kehidupan sosial dan menjadi kepribadian, terus ditata dan terkonsolidasi seluruh gagasannya menjadi semakin kokoh dengan adanya kekuatan penyokong baik lingkungan sosial, sistem, figur yang berkorelasi maupun kebiasaan yang terjiwai dalam kerangka visi tersebut.

Asumsi di atas menegaskan pentingnya visi misi calon anggota DPR-RI dan konsolidasi visi itu terjiwai dari proses sejarah sesuai latar belakang pengabdian sosial. Jika tidak punya latar maka akan terjadi balance antara kenyataan, visi dan perilaku, ketiganya akan saling mengacaukan tiada henti. Disinilah pentingtnya peenguatan visi yang telah dibangun sebelumnya bukan memulainya dari awal lagi.

Visi sebagai calon anggota DPR_RI misalnya ‘ Bersih, Merakyat dan Profesional’. Merakyat menegaskan si empunya visi akan melakukan langkah-langkah memperjuangkan kepentingan rakyat baik dari perilaku maupun saat melakukan perumusan kebijakan akan melihat kepentingan rakyat. Tetapi untuk tidak menjadi omongan kosong visi misi kerakyatan tersebut harus di dukung pemahaman potensi, permasalahan dan model kebijakan selama ini yang jadi rujukan di daerah basis konstituen. Nanti data potensi tersebut akan menjadi ujung tombak melangkah dan menegaskan seluruh aktifitas saat menjadi anggota DPR-RI.

Sementara bersih menegaskan yang bersangkutan tidak bermasalah soal kasus korupsi, tidak punya desain korupsi dan memperjuangkan anti korupsi. Orang yang bersihlah yang bisa memperjuangkan pembersihan dari birokrasi yang bermasalah untuk menguji itu tentu akan di uji melalui pemahaman track record calon bersangkutan sebab track record itu menjadi dasar penilain konstituen. Pemilih tentu saja tidak mengetahui secara pasti bagaimana calon DPR-RI sehingga ini akan menjadi masalah tersendiri dalam menentukan pilihannya. Kebanyakan pemilih hanya memilih secara buta, hanya kenal nama, pernah ketemu dan tau dari kerabat sehingga memilih calon bersangkutan padahal ini sudah jelas tidak mendidik secara politik.

Disinilah pentingnya inisiatif calon bersangkutan membuat biografi yang bisa dipertanggungjawabkan serta pernyataan visi misi yang efektif dan efisien. Biografi tersebut menjadi acuan mengenal calon dan latar belakanganya seperti apa sehingga ada benang merah penghubung kedunya. Namun, kenyataan akan biografi calon bersangkutan tidak sepenuhnya bisa dipertanggungjawabkan sehingga disinilah peran media

Tags: politik

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Rembug Provinsi, Ajang Dialog Menata Jakarta …

Nur Terbit | | 26 November 2014 | 15:41

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Minta Maaf Saja Tidak Cukup, PSSI! …

Achmad Suwefi | | 26 November 2014 | 11:53

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 4 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Teror Putih Pemecah Partai Politik …

Andi Taufan Tiro | 9 jam lalu

Pak JK Kerja Saja, Jangan Ikutan Main di …

Hanny Setiawan | 10 jam lalu

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Jangankan Mundur Malah Pengurus PSSI …

Manly Villa | 7 jam lalu

Ini Dia Calon Penulis Hebat dari Perbatasan …

Dodi Mawardi | 8 jam lalu

Mengenal Autisme Lebih Dalam …

Nur Hidayati | 8 jam lalu

AKSES: Jangan Merasa Tenang Karena Anak …

Rahman Hanifan | 8 jam lalu

Cerita Kuliah Lapangan: Pengalaman Ngajar …

Siti Madiniah | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: