Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Jejep Falahul Alam

Aku adalah seorang yang hobi mencari sesuatu yang baru. Dan selalu berusaha menjadi cahaya dalam selengkapnya

Membaca Peta Kekuatan Pilkada Majalengka

OPINI | 02 March 2013 | 00:55 Dibaca: 882   Komentar: 3   0

Membaca Peta Kekuatan Pilkada Majalengka

Gonjang-ganjing pasca pelaksanaan Pilgub Jabar di Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat belum juga berakhir. Rangkaian kisah ini berkaitan erat dengan pesta demokrasi lima tahunan yang bakal ditabuh dalam rentang waktu kurang lebih tujuh bulan lagi. (Minggu, 15 September 2013).

Kemenangan mutlak berdasarkan rekapitulasi KPU Majalengka atas cagub dan cawagub, Rieke Diyah Pitaloka-Teten Masduki (Paten) di Kab Majalengka dengan suara mencapai 50 persen, terasa memukul mundur psykologis para calon bupati untuk berpikir ulang bertarung dalam memperebutkan kursi singgasana pendopo setempat.

Walaupun disisi lain, kemenangan Paten bukanlah menjadi barometer, tapi  secara tidak langsung ini harus dijadikan peringatan kepada para penantangnya agar tak memandang sebelah mata kekuatan Bupati Sutrisno saat ini. Apalagi pesona dan kharisma politisi asal Kec. Ligung ini harus diakui memiliki pengaruh yang luar biasa. Hal ini bisa ditandai dengan semua kebijakan strategis, pada ujung-ujungnya ada di bawah kendali remot suami dari Hj. Imas Sutrisno ini.

Kekuatan yang telah dibangun selama lima tahun berkuasa, menjadi modal berharga bagi mantan Wakil Ketua DPRD Majalengka dalam rangka mempertahankan jabatannya. Paling tidak, ia sudah mampu unjuk gigi serta menakar kekuatan maupun kelemahan para lawan politiknya, yang bakal merongrong kursi empuknya.

Kemenangan Paten
Sebagai uji coba kekuatan partai berlambang banteng moncong putih dalam menghadapi pertempuran pra pemilukada, partai dibawah nahkoda H. Sutrisno menjadikan pasangan Paten sebagai tolok ukurnya. Hasilnya, begitu mengejutkan Paten menguasai  25 dari 26 kecamatan se-Kab.Majalengka. Tragisnya lagi, kekalahan 1 kecamatan itu hanya terpaut angka 1 persen dari rivalnya nomor urut empat, Ahmad Heriyawan-Deddy Mizwar.

Keberhasilan ini tentunya menjadi ajang pembuktian bagi siapapun terutama para kompetitornya, bila bangunan sistem yang telah diprogram selama ini telah berhasil dan bekerja sesuai dengan fungsinya. Meski disisi lain, melesatnya suara Paten di Pilgub Jabar banyak dipengaruhui banyak faktor. Tapi di Kab. Majalengka keunggulan hal itu tidak terlepas dari sosok Ketua DPC PDIP yang merangkap sebagai bupati pertama yang dipilih rakyat.

Sebagai pimpinan parpol tentunya Sutrisno sendiri ingin menyulap Kab. Majalengka menjadi lautan merah (PDIP). Apakah hal itu akan mampu terwujud? kita lihat pembuktiaanya pada Pemilu 2014 mendatang, dengan terlebih dahulu harus mengibarkan bendera kemenangan pada Pemilukada Majalengka untuk kedua kalinya. Ini penting guna memuluskan jalan yang terjal dalam memainkan percaturan politik yang keras dan penuh intrik ini.

Dalam Pemilukada Majalengka yang sudah di depan mata itu sendiri, tentunya para kandidat harus mengukur peta kekuatannya, dan tidak boleh gegabah dalam menyodorkan nama penantang Sutrisno bila tidak ingin pulang dengan kepala tertunduk.  Atau lebih baik mengibarkan bendera putih daripada berperang tanpa disusupi dengan strategi dan taktik yang jitu.

Sekilas berkaca pada pengalaman Pemilukada Majalengka tahun 2008 lalu, duet Sutrisno-Karna “SUKA” terbilang luar biasa dengan tampil sebagai pemenang dengan satu putaran. Ia merupakan bupati pertama pilihan rakyat yang mampu menumbangkan pesaingnya dengan jumlah relatif banyak.  Kendati saat itu “SUKA” tidak memegang kendali para birokrat di pemerintahannya. Kini gerbong itu ia telah taklukan, dengan memiliki jaringan hingga tingkat RT dan RW se-Kabupaten Majalengka.

Disandingkannya H. Karna Sobahi sebagai pendampingnya kala itu, merupakan pilihan yang sangat tepat. Sebab mantan Kadisdik Majalengka ibarat “gadis cantik” yang menjadi rebutan para calon lain yang ingin melamarnya menjadi tambatan hatinya (wabup). Disamping kekuatan mesin partai yang bekerja secara maksimal menjadikan “SUKA” tampil sebagai pemenang. Kini di Pemilukada Majalengka 2013 ini, keduanya membulatkan tekad untuk menyatukan kembali dalam bingkai “SUKA Jilid II”. Apakah jalinan asmara ini akan berjalan mulus atau tidakan kita lihat saja nanti saat waktu pemilihan tiba.

Bersatu Lawan Incumbent.
Mengutip penyataan salah satu anggota DPRD di Majalengka, bahwa untuk mengalahkan petahana saat ini harus mengumpulkan kekuatan penuh dengan menyatukan sejumlah fraksi di DPRD tanpa melibatkan fraksi PDIP. Setelah itu, munculkan nama yang memiliki nilai jual di masyarakat untuk “diduelkan” secara berhadapan dengan “SUKA” itu sendiri. Dengan pertarungan dua nama itu akan terjadi perang secara terbuka serta habis-habisan dalam memperebutkan hati rakyat. Begitulah kesimpulannya saran dan masukannya.

Tapi ingat, menurut hemat penulis itupun akan terasa sia-sia, bila tak diimbangi dengan kekuatan baik di darat maupun serangan di udara (media). Penempatan tim sukses yang profesional dan memiliki jiwa petarung, serta mampu menyebaran isu yang massif melalui  penerapan strategi dan taktik yang jitu menjadi kunci utama dalam memperebutkan kekuasaan. Siapa yang mampu memainkan peranan itu maka dialah sebagai pemenangnya.

Kandidat juga tidak hanya cukup menampilkan pencitraan yang dibuat-buat melalui media massa dan lain-lain. Tapi harus mampu “kukurusukan” alias asruk-asrukan menyatu dan bercengkrema dengan rakyat. Semua ini harus dilakukan dengan ikhlas, bukan hanya tebar pesona saat pemilihan berlangsung, melainkan harus tercipta jauh sebelum hiruk-pikuk pemilukada digelar.

Jangan sampai seperti saat ini terbilang memalukan, karena Pemilukada sudah di depan mata. Namun para penantangnya hingga kini belum berani melakukan perlawanan secara terang-terangan. Sehingga masyarakat beranggapan tidak ada lagi calon yang bakal mampu menundukan SUKA yang kini sudah pasang kuda-kuda.

Tapi perlu diingat, meski “SUKA” secara itung-itungan di atas kertas diunggulkan dalam berbagai hal, tapi itu bukan menjadi sebuah jaminan. Karena politik itu sangat dinamis dan tidak seperti dalam perhitungan matematika. Yang pasti, siapa yang mampu memaikan kartu meski ia incumbent (petahana) bisa saja tumbang walau memiliki modal yang melimpah. Lihat kemenangan Jokowi versus Foke di Pilgub DKI Jakarta dan Pilgub Jabar, Aher yang menang tipis. Ini harus menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun dan jangan merasa jumawa (takabur). Karena pada hakekatnya bila Allah SWT tidak meridhoi sekuat dan sekeras usaha yang dilakukan manusia  tidak akan terwujud. Contoh, aneh tapi nyata dalam pada Pilgub Jabar, pasangan Dede-Lex dalam perhitungan lembaga survei diunggulkan. Tapi faktanya, Aher-Deddy yang menang. Itulah kekuasaan tuhan, manusia hanya mampu merencanakan dan menduga-duga tapi hasilnya tuhan yang menentukan.

Rakyat pun harus cerdas dan benar-benar menggali informasi yang akurat dalam menentukan pilihan pemimpinya jangan sampai memilih kucing dalam karung. Agar masyarakat tidak rugi selama lima tahun dan kesejahteraan yang selama ini dielu-elukan hanya sebatas ungkapan kata-kata.Semoga dengan membaca sekilas peta kekuatan pemilukada Majalengka kita sebagai masyarakat bisa berpartisipasi aktif dengan memposisikan bukan sebagai obyek tapi subyek politik demi terciptanya pendidikan dan tatanan kehidupan yang demokratis. Semoga***

13621604151832382590

Bupati Majalengka, H. Sutrisno bersama Wakilnya, H. Karna Sobahi. Kini ia akan bersatu kembali mencoba peruntungannya dalam Pemilukada 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 12 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 13 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: