Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dedi Setiawan

Bergiat di bidang inovasi, teknologi, dan literasi | http://dhedhi.wordpress.com/about/

Jangan Sampai PKS Menang di Sumut

OPINI | 01 March 2013 | 09:05 Dibaca: 3544   Komentar: 0   0

13621031541268145146

Pasca ditetapkannya LHI sebagai tersangka, banyak pihak memprediksi itulah awal keruntuhan PKS. Bayangkan, partai yang anggotanya tidak pernah tersangkut kasus korupsi, ternyata ketuanya “ditembak” sebagai tersangka. Bahkan, LHI langsung ditahan KPK. Jadi terkesan LHI itu koruptor kelas kakap dan berbahaya, kan?

Itulah yang menimbulkan kehebohan. Semua stasiun TV beramai-ramai meliput kasus itu siang dan malam. Di media sosial (social media), kader PKS juga di-bully. Semua media, cetak maupun elektronik, juga beramai-ramai menjadikan bencana PKS sebagai berkah berita. Bad news is good news, betul?

Tapi, prediksi bahwa PKS akan hancur ternyata salah. PKS bermain cerdik dan cepat. Dalam waktu 2×24 jam, LHI langsung diganti dengan Anis Matta. Pidato perdana Anis sebagai ketua diliput oleh semua media, bahkan ada yang menyiarkannya secara langsung. Ternyata pidato tersebut menumbuhkan kepercayaan diri kader-kader PKS di seluruh Indonesia.

Meski media mainstream tidak mengungkap gejala itu, media sosial menunjukkannya. Terlihat jelas usaha kader-kader PKS memenangkan isu dan perdebatan di dunia maya. Saya yakin awalnya mereka tidak terorganisir. Tapi karena jumlah mereka banyak, melek informasi, dan gadgeter, jadilah mereka leading di Twitter dan Facebook.

PKS dan Pilgub Jabar

Kasus LHI digadang-gadang di pilgub Jawa Barat (Jabar). Tujuannya jelas, supaya calon yang diusung PKS kalah telak. Dalam hal ini, lawan-lawan PKS sangat terbantu dengan Majalah Tempo yang semangat mengangkat kasus PKS. Siapa yang meragukan kredibilitas media sebesar Tempo?

13621033521017601910

Aher-Demiz, jagoan PKS di Pilgub Jabar

Diserang melalui media mainstream, kader PKS melawan melalui media sosial. Kader PKS jadi sangat aktif di Twitter dan Facebook. Tidak sekadar mempertahankan diri, ternyata kader PKS menyerang balik. Kader dan simpatisan PKS yang bergiat di dunia jurnalisme, mengungkap bahwa Tempo menggunakan sumber yang tidak kredibel dalam memberitakan kasus LHI. Keragu-raguan terhadap kredibilitas Tempo mulai merebak.

Serangan terhadap PKS terus dilakukan. Kali ini sasarannya Kang Aher, petahana yang kembali diusung PKS di pilkada Jabar. Aher disangka telah ikut campur dalam urusan dapur Bank Jabar Banten (Bank BJB). Lagi-lagi, isu ini di-blow-up oleh Tempo. Dan lagi-lagi, kader dan simpatisan PKS melawan di media sosial. Dan lagi-lagi (lagi?) keraguan terhadap Tempo makin meluas.

Sebenarnya masih banyak serangan lainnya, seperti fitnah poligami terhadap Aher, dan lain sebagainya. Sengaja tidak saya bahas panjang-lebar, karena saya anggap itu isu yang tidak berhasil. Lagi pula, terlalu mudah untuk dibantah.

Pilgub Jabar pun berlangsung. Versi quic count semua lembaga survey sepakat memenangkan Aher. Pengumuman resminya tentu masih harus menunggu versi KPU.

PKS dan Pilgub Sumut

Orasi Anis Matta, isu di media sosial yang bisa dikendalikan, dan kemenangan Aher di Jabar (versi quick count), jelas merupakan rentetan peristiwa yang memperkuat PKS. Kepercayaan diri kader PKS meningkat, soliditas mereka makin kuat, dan kepatuhan terhadap pemimpin makin menebal. Ini seperti panas seharian yang dihapus oleh hujan sejam.

Setelah pilgub Jabar, akan berlangsung pilgub Sumatera Utara (Sumut). PKS lagi-lagi menurunkan salah satu kader terbaiknya, Gatot Pujo Nugroho, untuk memenangkan pilgub Sumut. Simpati masyarakat tinggi dan peluang menangnya besar. Setidaknya itulah yang terbaca melalui survey berbagai lembaga.

Kalau PKS bisa menang di Sumut, tentu ini tanda bahaya bagi lawan-lawan PKS. Kepercayaan diri kader PKS makin meningkat. Mental pemenang akan tersemat kuat di dada mereka. Dan tentu, cap sebagai “partai pemenang di daerah strategis” akan diraih PKS.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Di akhir tulisan ini saya ingin berpesan. Supaya adil, pesan ini saya tujukan kepada lawan-lawan PKS dan kader-kader PKS. Untuk lawan-lawan PKS, kalau tidak mau melihat kemenangan PKS, maka berusalah untuk mengalahkan PKS. Untuk kelompok-kelompok yang merasa terancam dengan kehadiran PKS, berusahalah untuk melumpuhkan PKS. Caranya adalah dengan… Oh, iya, hampir lupa, saya bukan konsultan politik, jadi tidak perlu repot-repot memikirkan cara mengalahkan PKS di Sumut. Intinya, jangan sampai PKS menang di Sumut.

Untuk kader-kader PKS, kalau tidak mau melihat partai Anda berpeluang menjadi tiga besar di 2014, kalau tidak mau memperkuat kesan sebagai partai pemenang, dan kalau tidak mau memaksimalkan peluang kebaikan, maka berusahalah agar jangan sampai PKS menang di Sumut. Segeralah berpuas diri dengan kemangan di Jabar. Dan merasa cukuplah dengan membangun opini di sosial media, tanpa perlu turun ke masyarakat.

Namanya juga pesan, bisa dilakukan, bisa tidak. Pada akhirnya, semuanya diserahkan pada pembaca. Selamat menentukan sikap.

Dedi Setiawan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 12 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 12 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 13 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 13 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: