Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Lihin

Sementara hanya bisa merangkai huruf, dan masih takut mati…. Malas menulis di kompasiana, sukanya baca selengkapnya

Pertanyaan Buat Anas, PD, dan KPK

OPINI | 28 February 2013 | 11:21 Dibaca: 461   Komentar: 0   1

Hiruk pikuk perang Anas versus Demokrat, atau versus SBY semakin membuat pusing. Penasaran menunggu akhir dari babakan perang ini tak henti melintas di kepala. Sejak pidato berhentinya Anas dari PD, yang suka dengan berita politik menunggu halaman-halaman berikutnya sebagaimana janji Anas.

Dari semua itu, ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan besar yang sampai sekarang masih mengganjal pikiran. Pertanyaan itu saya bagi dalam tiga kategori, Anas, Demokrat/ SBY, dan KPK

1362025220396361655

Sumber: rimanews.com

Anas

  1. Jika Anas mengetahui ada beberapa aliran yang masuk ke kantong orang lain di PD, kenapa baru sekarang Anas bernyanyi?
  2. Jika tesangkanya Anas adalah sebuah sistem berujung intervensi, kenapa wujudnya sangat sederhana dan sangat mudah terbaca?
  3. Jika Anas sudah haqqul yaqin akan menjadi tersangka sesuai pengakuannya, kenapa dia biarkan saja

Demokrat/ SBY

  1. Jika seorang petinggi PD disebut mengetahui aliran dana ke Ibas dan disebut hadisnya sahih, namun tidak benar, kenapa yang bersangkutan tidak mengklarifikasi, atau setidaknya menuntut balik?
  2. Jika tudingan Anas dianggap tidak benar, kenapa PD mesti kewalahan, seperti pengakuan Ulil?
  3. Jika kursi ketua PD kosong, kenapa sampai sekarang tidak diadakan KLB sesuai amanat AD/ART Partai, di tengah kuatnya loyalis Anas?

KPK

  1. Jika alasan kekurangan SDM untuk kasus century (bahkan SRM akan dimintai keterangan di Amrik), kenapa untuk kasus yang jumlahnya kecil seperti sangkaan grativikasi mobil Anas, bisa dilakukan?
  2. Jika bocornya sprindik adalah kesalahan, kenapa waktu pengungkapannya diulur dengan sandiwara komisi etik?
  3. Jika tersangkanya Anas adalah grativikasi mobil, kenapa sampai berbulan-bulan?

Dari semua pertanyaan itu, kesimpulan saya secara pribadi ada dua, Pertama, ini adalah gaya membesarkan partai dengan memecah, dan kedua, “MEREKA BERSANDIWARA”…. :)

Tags: anas

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 11 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 13 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 7 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 8 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Indonesia Tangguh (Puisi untuk Presiden …

Partoba Pangaribuan | 8 jam lalu

UU Pilkada Batal Demi Hukum? …

Ipan Roy Sitepu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: