Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Yustinus Sapto Hardjanto

Pekerja akar rumput, gemar menulis dan mendokumentasikan berbagai peristiwa dengan kamera video. Pembelajar di Universitas selengkapnya

(OOMR6) Garbage In, Garbage Out

OPINI | 28 February 2013 | 13:38 Dibaca: 220   Komentar: 0   0

Dalam berbagai diskusi dan seminar baik lokal, nasional maupun internasional, banyak pengamat menyatakan Indonesia berada di ambang kebangkrutan. Tanda-tanda sebagai negara gagal telah nampak. Kekacauan terjadi di pelbagai sektor kehidupan dan jalan keluarnya tak juga kelihatan. Salah satu faktor penyebabnya adalah soal kepemimpinan. Pemimpin di pelbagai tingkatan yang dihasilkan lewat pemilu yang demokratis, yang juga kerap diwarnai protes dan gugatan disana-sini, ternyata belum memuaskan. Pemimpin tidak bisa menjadi tuntunan, contoh dan tauladan karena inisiatif serta pengabdian pada rakyatnya secara luar biasa. Pemimpin lebih sibuk dengan urusan organisasi kepemimpinannya tinimbang menyelesaikan persoalan yang mendesak untuk rakyatnya.

Saat ditanya kenapa hal ini bisa terjadi. Profesor Joyo Satroamidjoyo, menjawab dengan singkat “Garbage in, garbage out”. Itu saja yang dikatakan oleh sang profesor tanpa penjelasan lanjutan. Mas Romo adalah salah satu murid kesayangan sang profesor, oleh karenanya tidak lulus-lulus. Karena penasaran, Didin mendekati Mas Romo dan bertanya apa maksud perkataan Sang Profesor.

“Itu hanya perumpamaan, tadi kan dipersoalkan kenapa pemimpin kita belum mampu menolong negeri ini dari keterpurukan. Profesor menjawab jika sampah yang masuk maka sampah pula yang keluar. Itu artinya jika yang mencalonkan dan terpilih memang bukan orang yang bermutu, maka hasil kepemimpinannya juga akan buruk”, jawab Mas Romo, yang tahu benar arti kalimat sakti kegemaran Sang Profesor. Dan bukan sekali dua kali, Mas Romo disebut sebagai sampah oleh Sang Profesor, namun selalu Mas Romo tangkas menjawab “Biarlah saya ini sampah, toh sampah masih ada gunanya, kalau diolah bisa jadi pupuk yang menyuburkan tanaman”.

“Berarti pemilihan umum tidak menjamin bahwa yang terpilih adalah putra atau putri terbaik dari republik ini?”, kata Didin sambil garuk kepala.

“Idealnya begitu. Tapi semua akan menjadi putra atau putri terbaik saat di pemakaman nanti”, jawab Mas Romo.

“Kenapa sistem demokrasi yang kita pilih belum juga mampu melahirkan pemimpin yang terbaik?”, tanya Didin.

“Bukan salah demokrasinya brother, tapi sistem perekrutan untuk calon pemimpin. Sekarang kan masih sangat berbau partai meski peluang calon independen terbuka. Nah bagaimana mau melahirkan pemimpin yang baik lewat partai yang kerap berlaku sebagai induk yang buruk”, ujar Soni ikut nimbrung.

“Sebenarnya ada juga kemungkinan lain. Orang-orang yang baik dan punya kompetensi tak berani mencalonkan diri. Takut jadi rusak kalau jadi pemimpin nanti. Rusak karena ikut-ikutan jadi serakah atau rusak namanya karena tak mampu melumerkan tembok baja yang dihadapi dalam kepemimpinannya nanti”, ujar Bung Kita.

“Betul itu, orang baik kan membangun nama baiknya sedikit demi sedikit sampai jadi terhormat. Kalau gara-gara jadi pemimpin lalu hancur nama baiknya kan rugi. Kalau pemimpin kita sekarang ini sih memang gak ada pedulinya pada nama baik”, sahut Didin.

“Oh, ya tapi kan ada jalur independen. Ini kan potensi untuk memperbaiki kondisi?”, ujar Soni.

“Maunya sih begitu. Ini adalah jalur penyeimbang. Tapi tak mudah untuk menempuh jalur ini, aturannya begitu berat dan butuh biaya yang besar juga serta rawan disabotase. Belum lagi nanti kalau mereka terpilih, pasti akan digoda juga untuk masuk partai”, jawab Mas Romo.

“Waduh kok sulit amat ya”, kata Didin sedih.

Begitulah perubahan, meski dikehendaki oleh banyak orang tentu saja tak mudah dilakukan. Apalagi jika mereka yang bakal dirugikan oleh perubahan mempunyai kekuasaan atau kekuatan yang jauh lebih besar dari mereka yang menghendaki perubahan itu sendiri. Perubahan terus dipelihara jadi harapan meski entah kapan akan terwujud. Dan dalam soal pemilihan umum, kita masih juga belum belajar untuk berubah, terbukti mereka yang memimpin tanpa keberhasilan, kurang disukai, banyak dikritik dan menelurkan kebijakan yang merugikan rakyat, ternyata masih terpilih lagi pada periode berikutnya.

@yustinus_esha

Sociocultural Networker’s

Note : OOMR – Obral Obrol Mas Romo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 3 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 13 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 13 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Mati Karena Oplosan dan Bola …

Didi Eko Ristanto | 7 jam lalu

Ketika Lonceng Kematian Ponsel Nokia …

Irawan | 7 jam lalu

Catatan Terbuka Buat Mendiknas Baru …

Irwan Thahir Mangga... | 7 jam lalu

Diary vs Dinding Maya - Serupa tapi Tak Sama …

Dita Widodo | 7 jam lalu

Nama Kementerian Kabinet Jokowi yang Rancu …

Francius Matu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: