Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Nazarudin dan Ketakutan Anas

OPINI | 28 February 2013 | 12:46 Dibaca: 1133   Komentar: 0   0

Prahara partai Demokrat terjawab sudah. Anas Urbaningrum secara resmi sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mantan ketua umum HMI tersebut harus legowo menerima ketatapan KPK sebagai tersangka, setelah dua alat bukti sudah dipenuhi. Pergulatan waktu ternyata sudah menjawab keinginan mantan bendahara umum Partai Demokrat (PD)  Muhammad Nazaruddin agar Anas harus ikut bertanggung jawab.

Masyarakat Indonesia pun sama memiliki harapan agar actor sentral kasus mega proyek Hambalang juga diproses secara hukum. Saat ini, karir politik Anas pupus ditengah jalan sebelum 2015 mendatang. Pertarungan politik sebelum dan sampai hari ini dalam internal partai Demokrat menunjukan bahwa, sedang gelombang besar yang menimpa Partai Demokrta. Anas Urbaningrum yang selama ini kita kenal  terkesan tidak mau menjawab berbagai tudingan yang selalu mengaitkan dirinya dengan kasus Wisma Atlet,dan lebih memilih selalu bekerja dan bekerja.

Ketika KPK melakukan penyidikan terhadap kasus korupsi proyek Hambalang, Anas malah “mengajari” KPK, supaya tidak perlu repot-repot mengurus kasus Hambalang, karena menurutnya, semua itu hanya berasal dari ocehan dan karangan semata (dari Nazaruddin). Dengan kata lain, Anas bukan saja membantah keterlibatannya itu, tetapi juga hendak mengatakan kepada KPK bahwa di proyek Hambalang itu tidak ada kasus korupsinya sama sekali. Semua itu hanya karangan Nazaruddin. Maka, itu KPK tidak perlu repot-repot memeriksa perkara yang sebenarnya tidak ada itu.

Pada waktu itulah, Minggu, 11 Maret 2012, keluar pernyataan Anas Urbaningrum yang paling “terkenal” untuk membantah keterlibatannya dalam kasus korupsi Hambalang, yakni: “Jika Anas terbukti melakukan korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas!”  Padahal, pada waktu itu saja, Anas tidak mampu menjelaskan dari mana, dan dengan cara bagaimana dia bisa memiliki dua mobil mewahnya, Toyota Alphard dan Toyota Harrier. Sedangkan Nazaruddin mengatakan bahwa Harrier merupakan bagian dari fee yang dibayarkan PT Adhi Karya kepada Anas berkaitan dengan proyek Hambalang.

Pernyataan Anas urbaningrum seperti di atas yang mengatakan dirinya tidak korupsi satu rupiah pun dan bersedia digantung di Monas kalau terbukti Korupsi terlalu berlebihan dan terkesan lebay. Tidak usahlah berkoar- koar seperti itu,Kesannya secara psikologis Anas Urbaningrum sudah mulai panik menghadapi masalah yang tengah dihadapinya. Masih ingat Anda Anas Urbaningrum tentang Iklan Partai Demokrat yang mengatakan katakan tidak untuk Korupsi dan abaikan rayuannya.Seolah-olah Pernyataan Anas Urbaningrum ini ingin megintimidasi kerja KPK yang lagi giat-giatnya untuk memberantaskan kasus korupsi guna memiskinkan para koruptor.

Sebenarnya kalao kta cerna penyataan Anas, ampai di sini saja, terbukti bahwa justru pernyataan Anas Urbanigrum tersebut di ataslah yang merupakan ocehan dan karangan Anas semata.  Bukan Nazaruddin. “Pengajarannya” kepada KPK agar tidak perlu repot-repot mengurus proyek Hambalang, terbukti pula merupakan “petunjuk yang menyesatkan.”

Kini, seiring dengan berjalannya waktu, semakin terbukti bahwa kisah-kisah yang pernah dinyatakan oleh Nazaruddin itu adalah benar-benar fakta. Bukan fiksi, atau ilusi, seperti yang dikatakan Anas Urbaningrum. Sebaliknya, adalah ilusi dari mereka, kalau mereka mengira bahwa mereka akan lolos dari jerat KPK.

Dari kisah yang dituturkan oleh Nazaruddin, yang lalu dikembangkan oleh KPK itu, Angelina Sondakh telah menjadi terdakwa di pengadilan tipikor, Jakarta. Penjara sebagai tempat huniannya selama beberapa tahun ke depan tinggal menunggu waktunya saja. Setelah itu,  giliran mereka yang nama-namanya pernah disebutkan Nazaruddin? Terutama Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum.

Seharusnya Anas sadar dengan sindiran yang dilontarkan oleh SBY untuk tidak diam dan membuktikan kalau memang tidak terbukti dengan memberikan penjelasan kepada seluruh kader Demokrat dan masysrakat luas. Semakin lama semakin terindikasi kuat, siapakah yang benar dalam pengungkapan kasus korupsi di proyek Hambalang, apakah Muhammad Nazaruddin, atau Anas Urbaningrum?

Sebenarnya bukan hanya kasus proyek Hambalang, tetapi juga kasus lainnya, termasuk kasus Wisma Atlet, Palembang. Berkali-kali Nazaruddin, sejak masih dalam pelariannya di luar negeri sampai dengan sekarang, mengatakan bahwa Anas Urbaningrum  terlibat, dalam kasus korupsi proyek Wisma Atlet dan Hambalang. Tetapi, berkali-kali pula Anas membantahkannya. Bahkan mengatakan bahwa semua tuduhan Nazaruddin itu hanya merupakan karangan, ilusi dan kisah fiksi.

Sekarang sudah jelas antara muhamad Nazarudin sama Anas Urbaningrum  sama-sama bermain dalam kasus tersebut. Namun saya sebagai kader partai Demokrat sangat menyesalkan sikap Anas. Selama ini Anas tidak pernah menjawab atau berusaha klarifikasi ocehan Nazar. Dia juga tidak pernah mau head to head dengan Nazar untuk menjelaskan kasus yang dituduhkan kepadanya. Kalau memang merasa tidak bersalah, seharusnya dia bisa menjelaskan. Namun kenyataannya Anas tidak melakukan, dan justeru melakukan berbagai manuver politik.

Pada saat pengunduranya sebagai ketua Umum Partai demokrat,Anas juga sempat mempertanyakan ‘identitas’ Partai Demokrat saat mengumumkan pengunduran dirinya  sebagai Ketua Umum, Sabtu pekan lalu. Sebab Anas merasa menjadi korban kekuasaan saat statusnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Dalam pidatonya anas mengatakan bahwa : “Apakah Partai Demokrat itu partai yang bersih atau korup? Akan diuji, apakah ini partai yang cerdas atau tidak cerdas? Akan diuji, Partai Demokrat akan jadi partai yang santun atau partai yang sadis?”.

Yang di sayangkan, seharusnya dalam pidato tersebut  Anas juga menjelaskan keterlibatanya dalam kasus hambalang tersebut termasuk hubungan Anas dengan Nazarudin, seharusnya  Anas harus Gentle menjelaskan hubungannya dengan Nazar,  tapi mengapa Anas tidak menjelaskan hubungannya dengan Muhammad Nazzarudin yang kerap menyebut nama dia dalam kasus Hambalang.

Harusnya Anas menjelaskan hubugan dia dengan Nazarudin. Memamg kalau kita lihat selama ini secara nyata Nazar selalu membawa-bawa Anas. Hal yang semacam ini tidak diungkapkan dalam statemen Anas  pada saat Ia mundur sebagai Ketua Partai Demokrat. Masyarakat tentu juga sangat tahu  ocehan Nazar dalam statementnya di media-media. Dalam beberapa kesempatan, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin memang kerap menyebut Anas sebagai dalang korupsi proyek Hambalang, Sentul, Jawa Barat.***

Salam kompasiana.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 7 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Jangan Bikin Stress Suami, Apalagi Suami …

Ifani | 12 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: