Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rezka

A retired boy

Apakah Pak Beye Gagal?

OPINI | 27 February 2013 | 01:35 Dibaca: 258   Komentar: 0   0

Tepat 3 tahun 2 bulan 6 hari saat tulisan ini dibuat SBY dilantik untuk masa jabatannya yang kedua sebagai presiden republik Indonesia berdampingan dengan boediono.

Menilik ke belakang pada periode awal kepemimpinannya tidak dapat kita pungkiri banyak percepatan pembangunan yang telah dilakukan. Juga bagaimana perbaikan system birokrasi berdasarkan asas good governance. Pun sama halnya dengan percepatan pendidikan dan kesehatan. SBY bergerak cepat pada tahun-tahun pertama dia memimpin. Ini dibuktikan dengan berhasilnya Indonesia melewati krisis ekonomi 2008, dan masuknya Indonesia sebagai anggota G-20. Memang ini tidak bisa dijadikan patokan bahawa sby berhasil membangkitkan ekonomi Indonesia sepenuhnya pasca 97’, mengingat masih tingginya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan angka pengangguran serta kemiskinan, juga harga bbm yang masih harus disubsidi.

Setidaknya inilah sedikit peran sby dimana dia telah berhasil meletakkan dasar-dasar ekonomi yang kuat dan sehat dimana Indonesia berhasil membayar sebagian besar utang Negara pada 2012, tumbuhnya pendapatan kelas menengah Indonesia, serta pasar saham Indonesia yang melaju dengan positif.

Dari segi hubungan bilateral maupun multilateral Indonesia menjadi salah satu Negara yang diperhitungkan suara dan kekuatannya. Pada tahun lalu saja banyak forum internasional yang menghadirkan wakil Indonesia sebagai pembicara maupun memilih Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggara. Dalam penyelesaian konflik internasional Indonesia bersama ASEAN turut berperak aktif dan sigap dalam penuntasannya.

Namun terlepas dari hal positif diatas, bombardir media massa dalam negeri terkait pemerintahan, jajajaran kabinet SBY boediono yang penuh dengan kasus-kasus politik. Mulai dari jajaran setingkat menteri hingga kepala dinas di daerah yang dilingkupi kasus korupsi hingga penyalagunaan kekuasaan.

Termasuk isu-isu dalam internal partai pendukung pemerintah, yang menuntut SBY sebagai “mandor” untuk menyelesaikannya. Pro-kontra pun terjadi ketika sby terlihat lebih sibuk mengurus masalah bawahannya ketimbang masalah Negara yang lebih butuh perhatian serius, salah satunya masalah disintegrasi dan HAM di kawasan timur Indonesia yang belum dapat ditemukan solusi pastinya.

Apakah kemudian hal-hal yang bersifat politis diatas tadi dianggap sebagai kegagalan SBT dalam mengurus tatanan politik Indonesia terlebih khusus Indonesia?

Lihatlah kedalam 2juta kepala rakyat yang tersebar di 17.000 pulau Indonesia kalau kita menilai bahwa SBY gagal.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

Pérouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 5 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 8 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 13 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: