Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Agus Budiarta

setiap langkah gerakan riil lebih penting dari selusin program

PDI Perjuangan Ditunggu di Jawa Tengah

OPINI | 25 February 2013 | 12:35 Dibaca: 587   Komentar: 0   0

13617702581959535569

ilustrasi dan gambar/kompas.com

Berdasarkan hasil perhitungan cepat Kompas dalam pilgub Jabar yang berlangsung Minggu, 24 Februari 2013, pasangan Rike Diah Pitaloka dan Teten Masduki, meraih total perolehan suara sebesar 28,91%. Pasangan yang diusung PDI Perjuangan tersebut berhasil melampaui perolehan suara pasangan Dede Yusuf dan Lex Laksamana yang diusung oleh Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional.

Hasil yang dicapai pasangan Rike-Teken, diluar dugaan banyak pihak. Hal ini tidak terlepas dari hasil survei yang yang dirilis Lembaga Survei Indonesia pada bulan Januari 2013, menempatkan pasangan yang diusung PDI Perjuangan tersebut berada di posisi tiga dengan perolehan suara sebesar 18 % . pasangan tersebut masih berada jauh di bawah pasangan Dedi-Laksamana dan Aher-Dedi.

Hasil perolehan pasangan Rike-Teten, pada pilgub Jabar kemarin yang cukup mengejutkan banyak orang membuat konstelasi politik khususnya dalam setiap pesta demokrasi ditingkatan lokal, semakin menarik untuk dikaji dan analisis. Pergeseran cara pandang pemilih yang didukung dengan angkah golput cukup tinggi mencapai 35% di Jawa Barat, seakan memberi sinyal bahwa para pemilih kita semakin cerdas dan rasioanl dalam menentukan pilihannya.

Terkait dengan hal tersebut, maka saya akan mencoba mengkaji dan menganalisis beberapa hal terkait dengan fenomenalnya calon yang diusung oleh PDI Perjuangan. Kajian dan analisis berikut ini, sekaligus menjadi catatan warga moncong putih Jawa Tengah dalam menyambut pesta demokrasi di Jawa Tengah Juni mendatang.

Pertama, penentuan figur menjadi hal terpenting dalam meningkatkan elektabilitas. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemenangan Jokowi di DKI Jakarta dan juga Fenomenalnya Rike di Jabar, menunjukan bahwa penetuan figur menjadi penting guna meraih kemenangan dalam pertarungan Pemilukada. Penentuan figur yang sejalan dengan kemauan akar rumput membuat konsolidasi bisa berjalan efektif dan efisien.

Kedua, soliditas partai menjadi hal terpenting diperhatikan. Kekalahan calon Partai Demokrat dan Golkar di Pemilukada DKI dan Jabar menunjukan bahwa soliditas dalam partai tersebut rapuh alias tidak solid. Hal ini sangat berbeda dengan PDI Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera, di mana soliditas konstituennya terhadap calon yang diusung partai sangatlah tinggi. Melibatkan kaum muda untuk menjadi bagian dari tim kampanye seperti yang dilakukan Jokowi di pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu, ternyata efektif guna mendongkrak popularitas beliau.

Ketiga, visi misi dan program kandidat menjadi modal berikutnya. Visi misi dan program calon yang populis menjadi modal kuat bagi pasangan yang bertarung guna memikat pemilih. Jokowi di DKI Jakarta, berhasil keluar sebagai pemenang karena visi, misi dan program yang ditawarkan lebih konkrit dibandingkan dengan pasangan lainnya. Visi, misi dan program jangan sampai hanya sekedar jualan kecap nomor satu saja, akan tetapi lebih menyentuh dengan apa yang menjadi harapan masyarakat umum.

Nah, pemilukada Jateng sebentar lagi akan digelar. Tentunya masyarakat Jateng, khususnya konstituen PDI Perjuangan, sedang menunggu dengan cemas, siapa figur yang akan diusung sebagai kandidat gubernur dan wakil gubernur dalam pemilukada Juni mendatang.

Sebagai daerah basis moncong putih, masyarakat Jawa Tengah, tentu berharap agar kader yang diusung nanti merupakan figur pilihan rakyat, figur yang bisa menaiki elektabilitas partai sekaligus menjadi ujian bagi PDI perjuangan menuju pemilu tahun 2014.***

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 5 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 13 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 13 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 13 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: