Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Agus Budiarta

setiap langkah gerakan riil lebih penting dari selusin program

PDI Perjuangan Ditunggu di Jawa Tengah

OPINI | 25 February 2013 | 12:35 Dibaca: 594   Komentar: 0   0

13617702581959535569

ilustrasi dan gambar/kompas.com

Berdasarkan hasil perhitungan cepat Kompas dalam pilgub Jabar yang berlangsung Minggu, 24 Februari 2013, pasangan Rike Diah Pitaloka dan Teten Masduki, meraih total perolehan suara sebesar 28,91%. Pasangan yang diusung PDI Perjuangan tersebut berhasil melampaui perolehan suara pasangan Dede Yusuf dan Lex Laksamana yang diusung oleh Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional.

Hasil yang dicapai pasangan Rike-Teken, diluar dugaan banyak pihak. Hal ini tidak terlepas dari hasil survei yang yang dirilis Lembaga Survei Indonesia pada bulan Januari 2013, menempatkan pasangan yang diusung PDI Perjuangan tersebut berada di posisi tiga dengan perolehan suara sebesar 18 % . pasangan tersebut masih berada jauh di bawah pasangan Dedi-Laksamana dan Aher-Dedi.

Hasil perolehan pasangan Rike-Teten, pada pilgub Jabar kemarin yang cukup mengejutkan banyak orang membuat konstelasi politik khususnya dalam setiap pesta demokrasi ditingkatan lokal, semakin menarik untuk dikaji dan analisis. Pergeseran cara pandang pemilih yang didukung dengan angkah golput cukup tinggi mencapai 35% di Jawa Barat, seakan memberi sinyal bahwa para pemilih kita semakin cerdas dan rasioanl dalam menentukan pilihannya.

Terkait dengan hal tersebut, maka saya akan mencoba mengkaji dan menganalisis beberapa hal terkait dengan fenomenalnya calon yang diusung oleh PDI Perjuangan. Kajian dan analisis berikut ini, sekaligus menjadi catatan warga moncong putih Jawa Tengah dalam menyambut pesta demokrasi di Jawa Tengah Juni mendatang.

Pertama, penentuan figur menjadi hal terpenting dalam meningkatkan elektabilitas. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemenangan Jokowi di DKI Jakarta dan juga Fenomenalnya Rike di Jabar, menunjukan bahwa penetuan figur menjadi penting guna meraih kemenangan dalam pertarungan Pemilukada. Penentuan figur yang sejalan dengan kemauan akar rumput membuat konsolidasi bisa berjalan efektif dan efisien.

Kedua, soliditas partai menjadi hal terpenting diperhatikan. Kekalahan calon Partai Demokrat dan Golkar di Pemilukada DKI dan Jabar menunjukan bahwa soliditas dalam partai tersebut rapuh alias tidak solid. Hal ini sangat berbeda dengan PDI Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera, di mana soliditas konstituennya terhadap calon yang diusung partai sangatlah tinggi. Melibatkan kaum muda untuk menjadi bagian dari tim kampanye seperti yang dilakukan Jokowi di pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu, ternyata efektif guna mendongkrak popularitas beliau.

Ketiga, visi misi dan program kandidat menjadi modal berikutnya. Visi misi dan program calon yang populis menjadi modal kuat bagi pasangan yang bertarung guna memikat pemilih. Jokowi di DKI Jakarta, berhasil keluar sebagai pemenang karena visi, misi dan program yang ditawarkan lebih konkrit dibandingkan dengan pasangan lainnya. Visi, misi dan program jangan sampai hanya sekedar jualan kecap nomor satu saja, akan tetapi lebih menyentuh dengan apa yang menjadi harapan masyarakat umum.

Nah, pemilukada Jateng sebentar lagi akan digelar. Tentunya masyarakat Jateng, khususnya konstituen PDI Perjuangan, sedang menunggu dengan cemas, siapa figur yang akan diusung sebagai kandidat gubernur dan wakil gubernur dalam pemilukada Juni mendatang.

Sebagai daerah basis moncong putih, masyarakat Jawa Tengah, tentu berharap agar kader yang diusung nanti merupakan figur pilihan rakyat, figur yang bisa menaiki elektabilitas partai sekaligus menjadi ujian bagi PDI perjuangan menuju pemilu tahun 2014.***

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Petrus Lengkong, Seniman Dayak, Pensiunan …

Emanuel Dapa Loka | | 20 September 2014 | 08:56

Menilik Kasus Eddies Adelia, Istri Memang …

Sahroha Lumbanraja | | 20 September 2014 | 11:51

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 10:24

Wow… Peringkat FIFA Indonesia Melorot Lagi …

Hery | | 20 September 2014 | 09:35

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 6 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 7 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Gas Elpiji 12 Kg dan Elpiji non subsidi …

Asep Wildan Firdaus | 7 jam lalu

Wow! Demi Cinta, Wanita Ini Tinggalkan …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Sempol, Desa Eropa di Kaki Gunung Ijen …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Memangnya di Sorga Ada Apa?? …

Fenusa As | 8 jam lalu

Menikmati Penyakit Hati …

Orang Bijak Palsu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: