Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ade Darmawan

mencaris sesuatu yang pasti itu tidak mungkin didalam bisnis...

Provinsi Aceh Leuser Antara

OPINI | 24 February 2013 | 14:16 Dibaca: 780   Komentar: 0   0

SEJARAH PROVINSI ACEH LEUSER ANTARA

Ujung pulau sumatera yang menjadi provinsi nanggroe Aceh Darussalam, masyarakat yang mendiami sebagian besar daerah pesisir berasal dari bangsa Gujarat, Persia, India, Tamil, Eropa dan Cina. Dimana kedatangannya di perkirakan sekitar 500 Tahun atau 400 tahun yang lalu sebagai pedagang dan Pelaut serta ahli dalam perdagangan hasil bumi antar negara : lada, gambir, pala, kemenyan, pinang, ikan, dan rempah-rempah.

Suku-suku lain yang sudah lebih dahulu mendiami daerah ujung sumatera ini termasuk kepada golongan Proto Melayu Yaitu : Suku Gayo, Suku Alas, Suku Kluet, yang pada saat ini mendiami daerah pedalaman (pegunungan). Suku Pribumi ini berasal dari nenek moyang yang berasal dari Asia Tegah, dan Selatan Himalaya melalui Birma sebagai imigran gelombang pertama diperkirakan 3000 tahun yang lalu.

Menurut catatan sejarah dari Dinasti Ming Cina, Marcopolo, Magelheus abad 11 dan 12 buku sejarah melayu, Buku Aceh Sepanjang Abad dan beberapa hikayat lama dijelaskan Suku pedalaman erat kaitannya dengan kerajaan perlak, Dayah Pasai, dan kerajaan samudera pasai di pesisir timur Aceh sekarang ini bahkan di jelaskan bahwa Raja Meurah Silu yang kemudian menjadi Malikul Saleh, seorang pemuda yang berasal dari suku pedalaman Gayo (Penduduk Asli Aceh). Pada tahun 1285 menyerang Kerajaan Perlak dan Dayah Pasai yang dikuasai bangsa pendatang Gujarat, Kampai, Cina dan Arab (Persia), lalu mendirikan Kerajaan Samudera Pasai.dibawah kekuasaan Malikul Saleh dan keturunannya sampai beberapa dekade Kerajaan Samudera Pasai mengalami masa keemasan. Pada masa itu Kerajaan Samudera pasai Mampu mengirim pasukan ke Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Cirebon dan Demak. Salah satunya “Palatehan” di Banten yang kemudian menjadi Fatahillah dan Kesunda Kelapa atau Jayakarta menjadi Pangeran Jayakarta.
Kerajaan Samudera Pasai saat itu telah berhubungan dengan beberapa negara Seperti Mesir, Turki, Persia, Cina.

Suku singkil dari beberapa hikayat disebutkan suku ini di perkirakan bersala dari Sumatera Barat dan Percampuran dengan Suku Pak-Pak Dairi. Suku Singkil dan Suku Aneuk Jame di Aceh Selatan dan pendapat lain menyebutkan bersala dari sisa rakyat Kerajaan Batu Sangkar di Sumatera Barat abad ke 14 dan sisa Pasukan Paderi yang tidak bersedia menyerah kepada Belanda. Suku Singkil sangat erat hubugannya dengan Kerajaan Barus, yang sekarang berda di Kabupaten Tapanuli Tengah yang berbatasan dengan nama Ulama Islam Thariqat dan Tashawuf Hamzah Fansyuri dan berhubungan erat dengan ahli-ahli Thariqad di Daerah Singkil Syech Abdurauf Al-singkilli. Beberapa tokoh ulama Tashawuf dan ahli aliran Islam Thariqad Barus, dan Singkil bergabung dengan ulama Tariqad Aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Gayo Lues telahmenjadi “sabuk” kekuatan Islam di Aceh dan Nasional.

Suku Alas diperkirakan adalah hasil pembauran dan asimilasi beberapa suku yang datang ke lembah yang subur tersebut yaitu Suku Gayo, Suku Kluet, Suku Singkil, Suku Batak, Dairi dan Karo, Sejak ratusan tahun yang lalu, lama-kelamaan terbentuk satu masyrakat dan suku sendiri yang disebut dengan Suku Alas. Suku inipun karena lama terisolir di kawasan hutan Gunung Leuser akhirnya membentuk kepribadian sendiri dan adat istiadat. Namun masih sangat erat dengat adat suku Gayo, Singkil dan Karo.

AWAL KEINGINAN ALA MELEPASKAN DIRI DARI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Masa silam raja-raja, kejurun, hulu baliang, dan panglima-panglima yang ada di pedalaman dudah mersa tidak puas atas sikap dari kesultanan Aceh yang berada di Ibukotannya Darussalam yang kemudian menjadi kuta raja karena sikapnya yang tidak adil. Oleh karena itu banyak para raja, kejurun, hulu baliang dan panglima memberontak ingin melepaskan diri dari Kerajaan Kesultanan.

Begitu pula jaman penjajahan Belanda melihat pihak raja-raja, Panglima, pimpinan masyrakat dan alim ulma di kuta Raja dan daerah Aceh Pesisir lainnya banyak yang menyerah dan bersedia bekerjasama dengan Belanda, maka pihak Raja panglima dan ulama di daerah pedalaman mengadakan protes, di saat itu benih ingin melepaskan diri dari peguasa Kuta Raja, kadang-kadang melalui pemberontakan, tetapi selalu ditindas oleh serdadu Belanda. Dan banyak pimpinan pemberontakan dan perlawanan itu dibuang Belanda ke Pulau Jawa, Ambon, Digul dan daerah lainnya.

Yang sangat menyedihkan ketika rakyat Gayo Lues Alas dan Aceh Singkil berjuang mati-matian melawan Belanda yang terkenal sangat kejam dipimpin oleh Overste Van Daalen dan telah membantai rakyat 6000 jiwa tahun 1904 ternyata pejuang dan panglima Aceh Pesisir tidak ada yang membantu padahal sebelumnya panglima-panglima Gayo, Alas, Singkil, dan Suku Pedalaman lainnya selalu membantu Aceh Pesisir melawan Belanda dan Portugis sampai ke Malaka.

Dan hal yang sangat mengharukan ketika rakyat Gayo Lues dan Alas melawan pasukan Overste Van Daelen tersebut, justru panglima Perang Sisingamaraja dari Tapanuli (Batak) mengirim beberapa panglimanya unutk membantu rakyat ke Tanah Gayo Lues dan Tanah Alas. Demikian pula ketika pasukan Panglima Sisingamaraja melawan Belanda, Gayo mengirim bebberapa panglimanya, yang sekarang ada makamnya di Tomok Pulau Samosir.

Di tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan ketika beberapa tokoh dan pimpinna daerah Gayo dan Alas mengadakan musyawarah membentuk Kabupaten Aceh Tengah, begitu pula dengan daerah Singkil dan Tamiang, dalam penataan awal pemerintah daerah di Kabupaten setempat waktu itu ide pemisahan diri dari keresidenan Aceh tercetus lagi dalam suasana menghadapi ancaman musuh dan masih ada berbagai pihak yang masih pro-kolonial, NICA dan antek-anteknya yang sudah siap hendak menjajah lagi, sehingga pemikiran-pemikiran tersebut tidak diteruskan lagi.

Dimasa pergolakan DI/TII tahun 1953, bagi beberapa tokoh dan pejabat di daerah gayo, Alas, Tamiang, dan singkil kembali muncul ide pemisahan diri dari Keresidenan Aceh, tetapi pemikiran untuk rehabilitasi di berbagai bidang kehidupan akibat peristiwa DI/TII, ide pemisahan diri hanya sekedar pemikiran saja yang tiada berkelanjutan, apalagi Keresidenan Aceh ditingkatkan menjadi Provinsi Daerah Istimewa Aceh dengan harapan daerah-daerah ini dapat menjadi satu Keresidenan. Tetapi rupanya ketentuan pemeritah kemudian mennetapkan bahwa Daerah Keresidenan dihapuskan, sehingga pemekaran pun tertunda lagi.

Di zaman Orde Baru pada setiap selesai pemilu para tokoh-tokoh politik di daerah calon provinsi dari enam Kabupaten tersebut selalu merasa kecewa. Karena ketika di masa kampanye, para pimpinan daerah dan pusat serta Jurkam Golkar selau menjanjikan bahwa daerah ini akan diperhatikan pembagunannanya apabila Golakr menang. Dalam setiap pemilu daerah dari enam kabupaten ini Suara Golkar menang di atas 85 %. Tetapi kenyataannya janji-anji tersebut tinggal janji, tidak dipenuhi, maka rasa kecewa yang berkali-kali bermuara kepada perasaan ketidak adilan berulang lagi. Keinginan untuk memisahkan diri dari Aceh menjadi satu Provinsi menyala lagi di zaman Orde Baru dan ide inipun sangat sulit ditembus karena para kroni-kroni dan barrier yang mengelilingi penguasa saat itu sangat angker, maka dalam waktu cukup lama mengendaplah ide dan pemikiran provinsi baru tersebut.

PERNYATAAN AWAL SECARA RESMI PEMEKARAN

Pada tahun 1998 ketika terjadinya gelombang Reformasi di tanah air ditandai dengan jatuhnya Pemerintahan Orde Baru dan Daerah Istimewa Aceh arus Reformasi secara licik telah digunakan oleh separatis mendengungkan keadilan bidang politik menuntut dilaksanakannya referendum dan kemerdekaan. Ketika organisasi mahasiswa SIRA mengadakan “Musyawarah Rakyat Aceh” di Banda Aceh Tahun 1999, dengan memanipulasi dimana dikatakan dihadiri oleh 3 juta rakyat Aceh dari daerah seluruh Aceh, tetapi sebenarnya hanya puluhan ribu, itupun sebagian hanya dihadiri oleh masyrakat Banda Aceh asal kabupaten masing-masing. Begitu membahananya tuntuntan referendum dan kemerdekaan tersebut, sehingga kelihatan oknum pejabat daerah juga sudah ada yang mendukung dan pada beberapa akbupaten ada Bupati dan Anggota Muspida yang ikut-ikutan unjuk rasa, baik yang karena keinginan sendri atan “ditodong” unutkharus memakai “ikat kepala bertuliskan mendukung referendum “

Pada saat itu tokoh masyarakat Gayo, Alas, Singkil dan Tamiang bersama bekas pejuang Angkatan ’45 dan Masyarakat yang cinta NKRI yang ada di daerah, darahnya bergolak dan dadanya gemuurh menahan amarah. Banyak diantara mereka yag tidak tahan dan menyingkir ke Sumatera Utara dan Jakarta atau daerah lainnya.

Disaat itulah atas prakarsa tokoh masyarakat Aceh Tenggara di Jakarta pada akhir tahun 1998 Bapak Abdul Halim Pinim SH, (almarhum) mengundang beberapa tokoh masyarakat Aceh Tenggara, Tamiang dan Aceh Tengah mencentuskan ide dan prakarsa awal usul pemekaran provinsi baru di Aceh dengan basis utamanya Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Tengara, Wilayah pembantu Bupati Tamiang dan Kabupaten Aceh Singkil. Di antara tokoh masyarakat daerah yang hadir ketika itu antara lain : T. Matseh Pangma, Tgk. Ak Yakobi, H.A.R Hadjat, Syukri Hadjat, Drs, Hasan Sulaiman, M. Rizal, SH,

Ditengah-tengah kondisi yang hangat di Aceh, tokoh-tokoh masyrakat Gayo, Alas, Singkil dan Tamiang yang ada di Jakarta dan sekitarnya secara spontan membentuk wadah masyrakat Gayo, Alas, Tamiang, dan Singkil disingkat “GALATSI”, beberapa tokoh yang tergabung dalam GALATSI saat itu adalah M. Rizal SH, AK. Yakobi, IR. M. Nurgaybita, Drs. Hasan Sulaiman, Drs. Rahmat Salam, Msi, Drs Yusra Huda, AK, Palmer Sitomorang, SH, Ir. Ali Kasim Kemaderma, Rustam Efendi, Dr. Fajri Ali, dan Lain-lain. Berulang kali mengadakan pertemuan dan menyampaikan aspirasi pembetukan Provinsi GALATSI kepada Prsediden RI (KH. Abdurrahman Wahid) situasi politik pada saat itu menyebabkan Presiden Gusdur belum sempat merespon pemekaran Provinsi NAD.

Tanggal 1 Desember 1999 jam 16.00. WIB, atas bantuan tokoh-tokoh pejuang 45 dan mantan pejabat Negara (Bapak Kamal Idris, Bapak Ali Sadikin, Bapak Solohin GP dan Lain-lain), berhasil membawa beberapa tokoh masyarakat menghadap Ibu Megawati Soekarno Putri (Presiden RI). Dihadapan presiden RI para tokoh tersebut membuat pernyataan yang isinya :
a. Kami atas nama masyrakat Gayo, Alas, Tamiang, Singkil yang mendiami sebagian Daerah Istimewa Aceh, Kawasan pedalaman bertekad tetap dalam pangkuan NKRI dan menentang dengan keras tuntutan GAM untuk merdeka, terpisah dari NKRI.
b. Kami dari daerah dan masyarakat Gayo, Alas, Tamiang dan Singkil. Memohon kepada pemerintah agar daerah kami terhindar dan bebas dari pengaruh GAM atau ide separatis lainnya.
c. Apabila Separatis Aceh memaksakan kehendaknya untuk merdeka, kami masyarakat Gayo, Alas, Taminag dan singkil menyatakan agar hari itu juga membentuk provinsi baru tetap dalam pangkuan NKRI dengan dasar negara Pancasila dan UUD 1945 dari Sambang sampai Merauke.

Dalam perjalanan GALATSI beberpa Provinsi NAD dan anggota DPR RI asal ACEH menyebarkan isu melalui mass media yang menyatakan GALATSI adalah operasi TNI yang terselubung, diidentikan dengan operasi perang bintang GALAKSI di luar negeri antara blok timur dan Barat. Bahkan pengurus GALATSI berkali-kali mendapat ancaman dari daerah dan simpatisan GAM yang berbunyi ..”apabila GALATSI diteruskan memperjuangkan provinsi baru, maka rakyat GAYO, Alas, Tamiang dan Singkil akan dibunuh lebih banyak”.

Dari kondisi yang amat sulit tersebut GALATSI berubah nama menjadi “GATS Membangun” dengan susunan pengurus :
Penasehat : H.A.R. Hadjat, Solihin G.P, M. Rizal, SH, T. Matseh Bangun, Dll.
Presidium : Tgk. AK. Yakobi (ketua)
IR. M Nurgaybita
Rustam Efendi
Dll
Ketua Umum : Dr. Fadjri
Wakil Ketua Umum : Ir. M. Ali Kasim
Sekjend : Drs. Hasan Sulaiman
Wakil Sekjend : Drs. Rahmat Salam
Wakil Sekjend : Drs. Yusra Huda
Wakil Sekjend : Burhan Alpin

Pada bulan Mei 2001 Depdagri membentuk Team denagan Komisi II DPR-RI unuk melakukan Fact Finding kelapangan tetapi karena kondisi keamanan akibat konflik Aceh menghangat team tidak jadi kelapanagan, namun hanya mengundang para ketua DPRD dan tokoh masyarakat dari Kabupaten-kabupaten dimaksudkan ke Brastagi Sumatera Utara. Hasilnya beberapa dapat disatu bahaskan, lahirlah pernyataan atau kebulatan tekad membetuk provinsi baru. Pertemuan brastagi juga tidak luput dari fitnahan simpatisan GAM (Sparatis) yang menyatakan ide propinsi baru adalah konsep dari Nasrani.

Pada bulan juli 2001 tiga bupati dan tiga DPRD saat itu Buati Aceh Tengah (H.Mustafa M. Tamy) ketua DPRD Aceh Tengah (M.Din. AW) Bupati Aceh Tenggara (H.Syahbuddin), ketua DPRD Aceh tenggara (Umuruddin) dan Bupati Aceh Singkil (Makmursyah Putera) dan (H. Usman Arifin) membentuk dan melantik Tim Sebelas bertempat di kantor penghubung Pemda Aceh tengah di Tebet Jakarta Selatan, diantaranya :
1. Prof.DR. Baihaqi, AK (ketua)
2. Dr. Fajri Alihar (Wakil Ketua)
3. Palmer Situmorang, SH (sekretaris)
4. Ir. M. Ali Kasim Kemaladerma, MBA (wakil Sekretaris)
5. M. Sabil Sulharis, SH (bendahara)
6. Drs. Rahmat Salam, Msi (anggota)
7. H. Rustam Efendi (anggota)
8. Drsa. Usman Effendi (anggota)
9. Drs. Abdul Karim, MM (Anggota)
10. Najmi Syiahkuala, SH (anggota)
11. Drs. Yusra Huda, MM, AK.

Maret 2002 Tim Sebelas berkembang menjadi Tim Sebelas Plus, anggotanya mencapai 18 orang ditambah para ketua organisasi masyarakat lokal enam kabupaten yang ada di Jakarta.

2003, DPOD dan CRAIS melakukan pengkajian pementukan Provinsi Leuser Antara, Tim Sebelas Plus berganti nama menjadi KP3 ALA.

12 Juli 2004 kembali memperkuat pembentukan forum yang disebut FORGAS dan kemudian berubah menjadi FORGASTA

27 September 2004, DPRD lima Kabupaten membuat kesepakatan untuk menduung dan memfasilitasi KP3ALA dalam memperjuangkan lahirnya Provinsi Aceh Leuser Antara di Asrama haji pondok Gede Jakarta Timur.

28 September 2004, Sidang Paripurna DPR-RI mengesahkan usul inisiatif DPR-RI menjadi RUU Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara, Pimpinan Sidang Wakil Ketua DPR-RI, Muhaimin Iskandar, dengan urutan pembacaan pendapat Fraksi sbb :

1. Fraksi PDU, juru bicara Sayuti Rahawarin (A.No.253),
Pernyataan : menyerahkan sepenuhnya pada sidang Paripurna DPR-RI.
2. Fraksi PDI Perjuangan , Juru bicara ST. Ananta Wahana, SH (A.No.124), pernyataan: Setuju pembentukan Propinsi ALA
3. Fraksi Partai GOLKAR, juru bicara H.M. Laode Djenih Asmar, Ssos, Msi (A.No.393), Pernyataan : SETUJU dengan syrata disetujui Propinsi induk = belum setuju.
4. Fraksi PPP, juru bicara H. Syafriansyah, BA (A.No.50) pernyataan: SETUJU dan menduung penuh
5. Fraksi KB, juru bicara pengganti Hanif Ismail, pernyataan : Setuju
6. Fraksi Reformasi, juru bicara Suminto Martono, SH, (A.No.230), Pernyataan SETUJU
7. Fraksi TNI/ POLRI, juru bicara Johny Laksadipura, S.IP (A.No.480), pernyataan : SETUJU da sangat mendukung.
8. Fraksi BB, Juru bicara Drs. HM. Qasthalani, LML (A.No.264) pernytaaan : setuju dan dilanjutkan pembahasannya oleh DPR-RI Priode 2004-2009.
9. Fraksi KKI, juru bicara Drs. M. Hassan Putaboga, MM, (A.No. 280), Pernyataan : Setuju.

Ada beberapa aksi dilakukan seperti mengadakan :

1. KONGRES ALA pada tanggal 30-31 Mei 2005 di Kutacane Aceh Tenggara pada saat itu bupatinya adalah Drs. H. Armen Desky.

2. Melakukan Expo budaya ALA di Takengon Aceh Terngah 2009

3. Memasang spanduk sepanjang 500 meter yang dilakukan di singkil tahun 2008

4. Deklarasi di Jakarta 4 Desember 2005 di gelora bung Karno

5. Melakukan beberapa aksi di Jakarta oleh kepala desa se ALA tahun 2008

6. Dan banyak lainnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 10 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 13 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 13 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 7 jam lalu

Si Jangkung Tokyo Sky Tree …

Firanza Fadilla | 8 jam lalu

Pompadour …

Yulian Muhammad | 8 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 8 jam lalu

Luka …

Ukonpurkonudin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: