Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Penulis Politik

Suka menulis isu-isu politik

Hary Tanoe + Hanura =?

OPINI | 17 February 2013 | 21:38 Dibaca: 74   Komentar: 4   0

Sumber: Antara Photo

Sumber: Sumber: Antara Photo

Di tengah penantian publik atas nasib Anas Urbaningrum dalam rapimnas hari Minggu ini, kabar Hary Tanoe merapat ke Partai Hanura ikut meramaikan pemberitaan media massa. Apabila benar, maka hari-hari ini setidaknya akan ada dua berita penting menyangkut nasib politisi muda dalam arena politik nasional 2014 kelak.

Nasib Anas tentu dapat diletakkan dalam konteks yang sedikit berbeda. Ketua Umum Partai Demokrat itu kini terancam kehilangan arena politik formal dalam Pemilu 2014. Ramai diketahui khalayak betapa tensi pertarungan internal Partai Demokrat semakin tinggi. Beberapa DPD dan DPC bahkan terang-terangan akan melakukan aksi walk out apabila Rapimnas mengambil langkah pelengseran Anas selaku Ketum.

Di sisi lain, Hary Tanoe kembali bersiap memasuki arena. Setelah berkonsolidasi membangun ormas Perindo, sebuah partai yang tidak diperhitungkan dalam arena politik tanah air, Partai Hanura, dia anggap dapat menjadi rumah yang nyaman bagi idealisme politiknya.

HT bergerak cepat. Insting value added nya seperti ulasan Anton Dwisunu HN, “Titik Balik Nasib Hanura di Bawah Hari Tanoe“, terlihat bekerja di sini. Dia seperti membangun dua gerbong: gerbong ormas dan gerbong politik. Hanura dipilih untuk perjuangan politiknya. Hanura, sesungguhnya ibarat “perusahaan” yang mati segan hidup tak mau dan terancam collapse. Dan persis di sinilah insting itu bergerak. Bukankah memang sudah menjadi keahlian HT “merestorasi” dan membesarkan perusahan yang hampir bangkrut? Sementara di gerbong ormas, ia seperti membuka wadah trainning bagi anak-anak muda yang masih perlu membangun ketrampilan politik sebelum bertarung di arena politik yang sesungguhnya.

Pertanyaannya kemudian apakah keputusan politik itu tepat? Apakah HT tidak akan kembali terperosok ke dalam lubang yang sama? Apakah Wiranto akan “legowo” memberikan ruang gerak politik yang luas bagi gerbong HT untuk bekerja membesarkan Hanura?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang, harus diakui, terlintas di benak publik awam.

Dalam konferensi pers pada saat memutuskan keluar dari NasDem, HT tegas menyatakan sikapnya untuk terus melanjutkan perjuangan politiknya. NasDem, seperti kita ketahui, tak bisa lagi mengakomodasi keinginan HT untuk menempatkan anak-anak muda sebagai mesin partai. Sebagai pemain politik baru, pebisnis sukses ini telah diberi pelajaran politik yang penting. Surya Paloh, pada titik ini, dapat dianggap sebagai “guru politik” baginya. Sebagai new comer, HT akhirnya mengerti bahwa politik ideal seperti dalam buku teori Ilmu Politik, ternyata tak ia temukan. Karakter politik warisan lama masih kuat mendominasi. Sekali masuk, ia langsung terpental.

Tetapi kini ia hendak melangkah lagi. Hanura, partai gurem yang bahkan ditinggalkan oleh kadernya sendiri seperti Akbar Faisal, justru dilirik HT. Gayung bersambut. Partai itu bahkan siap menggelar karpet merah bagi HT.

Namun di ujung karpet merah itu, tersimpan misteri politik yang belum jelas diketahui. Apakah Jenderal Wiranto, “sang pemilik”, akan “legowo”? Ataukah Wiranto hanya membutuhkan media milik HT untuk kepentingan politiknya? Bukankah Wiranto juga adalah seorang jenderal dan politisi yang ambisius? Meski sudah dua kali bertarung dalam pemilu presiden, mantan Panglima TNI ini nampaknya belum siap mundur dari keinginannya menjadi Presiden di republik ini.

Wiranto sendiri adalah politisi sepantaran Surya Paloh. Ada adagium, bahwa kaum muda selalu ingin cepat, tak sabaran, penuh energi, sementara kaum (orang) tua selalu konservatif, anti kritik, mudah tersinggung, dan punya kecenderunga ingin berceritera tentang masa lalu. Dua karakter ini bukan perkara yang mudah untuk dijembatani. Namun, sesungguhnya, dengan pengalaman yang kaya sebagai Panglima TNI, justru Wiranto akan sangat efektif menjadi semacam “the silence commander” bagi kaum muda yang sedang meletup-letup energi politiknya. Di situlah tempatnya yang paling terhormat: melihat dan mengawal perahu partainya bergerak cepat dikayuh anak-anak muda.

Bergabungnya HT ke perahu Hanura, dapat saja menjadi sinergi yang digdaya apabila kedua figur ini mampu melewati kesepakatan-kesepakatan strategis dan fair satu sama lain. ***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 8 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 8 jam lalu

Ada Oknum “Nakal” di BPN Jakarta …

Syaifudin | 9 jam lalu

Wow, Cantiknya Puteri Bu Susi …

Den Hard | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: