Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Garuda Tabang

Garuda Tabang is the name of Jefri Agustian Sanjaya,(Perantau Minang asli Pariaman Sumatera Barat) " selengkapnya

Anas Malik (Bupati Padang-Pariaman 1980-1990)Pemimpin “Blusukan” tanpa “Media Darling”

OPINI | 17 February 2013 | 05:17 Dibaca: 1039   Komentar: 7   4

Kota Pariaman terletak dipesisir bagian barat propinsi Sumatera Barat,sekarang jadi pusat pemerintah kota Pariama, yang sebelumnya jadi pusat pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman dan kini telah pindah ke Rimbo Kalam sejak Pemkot Pariaman berdiri sendiri dan berpisah dari induknya.

Pariaman (Piaman Istilah minang) warganya hampir 80% , merantau keberbagai pelosok Nusantara bahkan keluar negeri,saking terkenal jiwa perantaunya orang Pariaman dibandingkan sesama suku Padang lainnya maka ada pameo : kalau di Bulan ada kehidupan bukan hal yang mustahil orang Piaman akan merantau kesana.

Karakter masyarakatnya sungguh “misteri.” Sulit terbaca utuh kemana arah sebenarnya. Namun ia mudah “ditaklukkan” pabila mengetahui dan memahami secara “utuh” karakter manusianya. Karena sudah terbiasa hidup di perpaduan alam maritim yang keras dengan sediikit kawasan pergunungan sehingga membuat adat masyarakatnya ulet dan bertabiat keras juga sebagai anak pesisir. Terhimpit mau diatas dan terkurung mau diluar ” jangankan kalah,seri saja tidak mau,itulah potret adat & prilaku masyarakatnya.

Berabad-abad lamanya lokasi pantainya yang berada dibbir pusat pemerintahan dijadikan obyek buang hajat (beol bhs betawinya),Takala angin berembus disiang hari ketengah kota membawa aroma ngeri-ngeri Sedap. ha hay ambo !! Ada pameo yang menjadi sugesti & cemehes ( kata cemooh yang di Piamankan),bagi kalangan penjabat yang ditugaskan atau jadi bupati didaerah tersebut.Jika sukses jadi pemimpin/Bupati di kawasan (Kab.Pdg/Pariaman) tersebut sama suksesnya dilevelnya jadi seorang gubernur di ropinsi di pulau Jawa,

1360963138805972116

Hal itulah yang menjadi ilham bagi seorang almarhum Kol.Anas Malik ex Kepala Pusat Penerangan Kodam V Jaya,untuk merobah segala prilaku budaya sehari-hari Masyarakat Pariaman yang centang perenang dimasa itu. Berbagai kiat dilakukan beliau ketika awal menjabat sebagai bupati dua periode dari tahun 1980,- 1990.(info : Kab.Pdg Pariman sekarang sudah dipecah jadi tiga pemerintah ,yakni : Kab. Padang Pariaman, Kab Kepulauan Mentawai, & pemerintah Kota Pariaman). Bupati ini setiap pagi rajin blusukan sekeliling kota bersepeda Ontel ( pinjam istilah Boy Piliang yang juga kompasianer ) berkeliling kota Pariaman tanpa ditemani oleh ajudannya,mulai jam 5,00 pagi setelah syolat shubuh sampai menjelang jam 7.30, jam kantornya.

”Dulu ada WC terpanjang di pantai Pariaman, Anas Malik untuk merubah imej tersebut dengan melarang orang di pinggir pantai tidak boleh buang air besar di pantai, mendapat perlawanan keras dari masyarakat, Hal biasa beliau akan terlihat kejar-kejaran menangkap orang yang lagi ” Maonggoh tacirit (lagi duduk berak) ditepi pantai, biasanya beliau kasih teguran awal,tetapi kalau besok nya diulang,tentu akan di lampang (tampar) oleh beliau jika menemukan orang masih buang hayat di lokasi tersebut,atas ketegasannya dalam merubah budaya itu dia dijuluki oleh masyarakat sebagai Bupati Tentara. Akhirnya toh pantai Pariaman yang sebelumnya tempat buang hajat berubah jadi objek wisata dan berdirinya puluhan  rumah makan yang dikelola oleh masyarakat.

Anas Malik sangat disiplin waktu, dia selalu datang kekantor sesuai jadwal jam 7.30wib, dan bekerja dibalik meja hanya sampai pukul 10 pagi, dikantor Anas Malik sangat mudah ditemui oleh masyarakat,”Jika ingin bertemu Bupati, kita musti datang dibawah jam 10 pagi, setelah itu beliau langsung kelapangan,melihat kehidupan masyarakatnya.

Langkah pertama jabatannya semua komponen warga perantau asal Pariaman yang sukses dibidangnya diajak pulang kampung,untuk bersama-sama membangun kabupaten yang terluas di propinsi Sumatera Barat ini,makanya kawasan ini lebih dikenal dengan sebutan “Piaman Laweh”(Pariaman yang super luas).

Memenuhi imbauan sang bupati yang merayakyat ini,,mulai dari penyanyi Minang yang terkenal saat itu Tiar Ramon,dosen-dosen & pengusaha-pengusaha pada boyongan mudik kampung, dan sejak itu berbagai kebudayaan,kesenian,pendidikan,pembangunan perdesaan menggeliat.

Di era itulah proyek-proyek pembangunan berjalan pesat dan tender terbuka dengan sangat fair, tidak ada istilah uang sogok menyogok,kongkalingkokng,sehingga berbagai kontraktor bertumbuhan bagai cendawan tumbuh dan hidup sehat karena ketegasan sikap dia yang anti korupsi tanpa embel-embel sebagai seorang ex prajurit sejati.

Anas Malik menumbuhkan berbagai usaha rakyat. Mulai pertanian, perkebunan, peternakan sapi dan ayam hingga industri kerajinan. Empat tahun pertama, setelah pantai bersih jalan ke semua desa terbuka dan ekonomi rakyat membaik, Anas menggelar pesta rakyat, tahun 1984, Pesta Tabut Piaman yang sudah lama hilang digelar lagi dan kini jadi maskot wisata yang digelar rutin tiap tahun .“Kalau nagari lah rami,urang kampuang bisa bajual bali. Rakyat dapek pitih, sanang hati ambo,”(kalau Pariaman sudah Ramai,ekonomi maju,rakyat dapat uang,baru puas bathin saya) ujar beliau (Anas Malik) kala itu.

Bersama surat kabar harian terkemuka di Sumatera Barat beliau menelorkan Program KMD=Koran Masuk Desa agar rakyat di pedesaan bisa melek arus informasi dan malah program itu satu-satunya yang di Pemerintahan daerah di Indonesia,dan menjadi pilot proyek percontohan buat daerah lain,

Langkah kedua Anas Malik adalah membangun jalan raya ke seluruh pelosok daerah. Sebagian di antaranya melalui kegiatan ABRI Masuk Desa (AMD). Karena sukses dan berhasil, Padang Pariaman pun jadi model AMD di seluruh Indonesia melalui seminar Angkatan Darat di Bukittinggi. AMD Padang Pariaman pun jadi objek studi banding bagi Kodam lain.

K-3 (Kebersihan, Keindahan, Ketertiban) program andalan beliau menjadi studi banding pemeintah kabupaten dan kota dari berbagai pelosok tanah air,karena kabupaten terbresih di Indonesia diera tersebut.Lalu mem berdayakan potensi dan partisipasi sosial melalui gerakan gotong-royong rutin dan serentak. Pemberdayaan pendidikan, ekonomi rakyat dan sebagainya yang  diindikasikan dengan sejumlah penghargaan dari Pemerintah Pusat . Puncak keberhasilan Anas Malik memimpin Padangpariaman adalah dengan diraihnya Parasamya Purnakarya Nugraha, suatu prestasi bergengsi kala itu.

Anas Malik memang tak membangun pertokoan, kantor mewah, rumah dinas mewah atau proyek berbau mercu suar. Di samping membangun ekonomi, Anas Malik membangun karakter dan sikap hidup masyarakat Padang Pariaman. Ia tak mau melihat orang duduk, apalagi main domino, di warung pagi hari.Ia tak mau melihat orang tak berpuasa di bulan Ramadan. Ia turun mengingatkan, menegur dan bahkan memarahi warga yang bermalas-malas atau tak peduli agama.

Anas Malik memang tentara.Beliau memang keras, tapi tidak kasar. Nada suaranya memang tinggi, tapi ia tak suka merendahkan martabat orang. Bisa dimengerti jika sopir dan ajudannya pun tak pernah gonta-ganti sampai akhir masa jabatannya. Satu hal yang perlu dicatat sepanjang kepemimpinan Anas Malik adalah, ia menjadi contoh, melaksanakan dan menaktualisasikan ke masyarakatnya .

Meski ia pernah menampar orang atau mengarak warga yang berak di pantai sekeliling kota, tujuannya jelas mengubah perilaku dan membentuk karakter rakyat agar bersih, tertib dan bermartabat. Maka,meski keras dan tegas, tetapi dia pemimpin yang humanis ,pernah pada saat turba (blusukan) dan ketemu dijalan seorang wanita pedagang sayur tua menjujung dagangannya yang membubung, sayur itu diborong Anas Malik, lalu dibagi-bagikan kepada warga dibelakang rumah dinasnya, dana taktis hanya habis untuk membantu masyarakat, jika ia melihat seorang yang sangat tua bekerja, selalu ia sambangi dan memberikan lembaran Rp 10.000, jumlah yang sangat besar kala itu,hampir semua dana taktis beliau dihabiskan untuk membantu masyarakat”

Sepanjang masa jabatannya ia tidak mengeruk keuntungan bagi diri, keluarga dan kerabatnya. Meski membangun pasar Anas Malik tak punya sepintu toko pun. Meski membebaskan lahan Anas Malik tak punya sejengkal tanah di Padang Pariaman. Anak-anaknya pun tak menjadi pengusaha yang merebut dana APBD Padang Pariaman,hanya boleh aktif di organisasi sosial yang berguna untuk masyarakat,seperti organisasi pemuda seperti AMPI dsbnya,dan anaknya yang tertua Iwan Anas Malik pernah jadi ketua AMPI propinsi Sumatera Barat kala itu.Bisa dimengerti jika keluarga, sanak saudara serta kerabat nya kelak tidak jadi gunjingan warga sebagaimana terjadi pada kebanyakan kepala daerah sekarang.

Boleh jadi memang muncul kerinduan pada sosok Anas Malik di tengah perkembangan kepemimpinan kepala daerah sekarang.Rindu sosok pemimpin tanpa jargon,tetapi kerja nyata membaur dengan masyarakatnya untuk datang melayani berbagai aspiratifnya untuk menuju kehidupan yang layak. Kehadiran pemimpin di tengah-tengah rakyat akan membuat mereka membuka diri. Jika langkah ini sering dilakukan, rakyat akan merasa menjadi bagian dari problem yang dihadapi pemimpinnya. Dengan begitu, lambat laun rakyat akan sadar bahwa permasalahan yang dihadapi pemimpinnya bukan perkara mudah hingga tumbuh rasa empati terhadap pemimpinnya.

Rasa saling empati antara pemimpin dan rakyat merupakan modal dasar untuk mengambil kebijakan-kebijakan politik yang populis, yang sesuai harapan rakyat tapi juga tidak merepotkan pemim­pin. Rakyat akan mengikuti kebija­kan-kebijakan itu dengan hati (karena ada rasa empati) dan pemimpin pun bisa melak­sana­kannya dengan penuh semangat karena merasa mendapatkan dukungan rakyat.

Diakhir jabatan beliau tetap iklash,walau dihadiahi oleh sebagian masyarakatnya yang tidak suka gaya still Bupati Tentara “nya dengan sebuah penyakit kulit biriang (yang sukar

disembuhkan),tetapi beliau tetap tmemandang itu bukan karena magic itu adalah penyakit yang dari Tuhan.

Sosok Anas Malik bupati yang hanya betah dua jam dibelakang meja,selebihnya dihabisin dilapangan membaur dengan masyarakatnya itu tetap sangat fonemenal dihati masyarakat kabupaten Padang/Pariaman yang dulu,,meski kurang ter-ekpos di media dengan segudang prestasinya yang selama 10 tahun itu seperti sosok yang sama Jokowi dengan’ media darling’nya itu.

Rakyat sudah bosan disodori pidato-pidato politik yang muluk-muluk dan jargon-jargon bak iklan kecap,Pidato-pidato semacam itu hanya menebalkan kesan adanya kesen­jangan yang lebar antara pemimpin dan rakyatnya.Rakyat membutuhkan kehadiran pemimpin dengan sapaan yang menyentuh aspek-aspek kema­nusiaan.

1361053256929964734

By Jefri Agustian Sanjaya

Bali 17-02-2013

(terima kasih kepada :  Oyong Liza Piliang & SK/Harian Haluan Padang  sebagai sumber yang melengkapi tulisan ini)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 5 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 6 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 7 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 8 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Resiko Terlalu Banyak Informasi Diri di …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Ketika Sayang Dijadikan Sebuah Alasan Untuk …

Fairusyifa Dara | 8 jam lalu

Semarak Pesta Rakyat Situ Bungur (Bingkai …

Agung Han | 9 jam lalu

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 9 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: