Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Abdul Ghopur

Nasionalis-Majemuk (suka bergaul dengan banyak orang dr kalangan apapun kecuali Koruptor & Penindas Rakyat Kecil..)

Strategi Terpadu Efisiensi Energi Naional “Langkah Sistematis Efisiensi Energi Nasional”

OPINI | 13 February 2013 | 15:55 Dibaca: 326   Komentar: 0   0

Oleh: Abdul Ghopur

Perdebatan Surat Keputusan Bersama (SKB) Lima Menteri beberapa tahun silam tentang penghematan listrik menuju muara yang tidak berujung. Pemerintah berharap dari SKB ini akan muncul pencapaian target penghematan listrik nasional. Sasaran yang di target adalah kalangan industri dan gedung pemerintahan. Anggapannya adalah industri sebagai pihak yang paling banyak mengkonsumsi listrik. Sedangkan gedung pemerintah dapat dijadikan contoh penghematan. Dilalah niat baik justru menuai perdebatan. Target penghematan industri malah berhadap – hadapan dengan kepentingan buruh. Pemerintah dianggap melupakan hak buruh, demi pencapaian target penghematan. Berdasar pada hiruk pikuk kondisi diatas, sebenarnya ada pertanyaan mendasar yang mesti di jawab pemerintah. APAKAH PEMERINTAH MEMPUNYAI STRATEGI TERPADU EFFISIENSI ENERGI NASIONAL?

Jika jawabannya adalah KENAIKAN HARGA BBM, LISTRIK & SKB lima menteri sebagai langkah terpadu effisiensi energi nasional, berarti pemerintah tidak serius dalam menangani krisis energi.

Pertanyaan yang muncul kemudian, kenapa Pemerintah tidak serius dalam menangani krisis energi? Pemerintah seharusnya mengeluarkan kebijakan yang cukup sistematis. Tidak bersifat spontan atau tidak ter-arah. Kenaikan harga BBM untuk mencapai tingkat ke-ekonomian dan SKB 5 menteri untuk mencapai target penghematan listrik, masih bersifat spontan.

Berangkat dari pemikiran tersebut di atas, maka yang harus dilakukan pemerintah untuk menghadapi krisis energi dalam jangka pendek adalah: Pertama perlu adanya pemetaan penyebaran dan pemanfaatan energi di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini dapat memberikan gambaran jelas, tentang kondisi energi kita dan keseimbangan kebutuhan energi. Pengukurannya tidak hanya sebatas pada kondisi terkini tapi juga mencakup masa depan. Penggunaan energi terkini disetiap wilayah, perlu di hitung secara riil. Kemudian setiap wilayah harus mampu memberikan prediksi jelas mengenai kebutuhan energi 10 tahun kedepan. Contohnya adalah : Efisiensi tidak akan efektif, bila pertumbuhan produk otomotif tidak di tekan. Jelas – jelas industri otomotif sedang mengalami pertumbuhan yang cukup baik, padahal otomotif sudah pasti mengkonsumsi energi yang tidak sedikit. Atau Manajemen transportasi nasional hanya di jawab dengan pembangunan jalan tol dan transportasi semi massal, bukan pembangunan transportasi massal seperti kereta api.

Kedua target efisiensi per wilayah. Tujuannya adalah sebagai implementasi dari hasil pemetaan penyebaran dan pemanfaatan energi. Jika SKB memfokuskan target penghematan hanya sebatas pada sektor industri, target per wilayah lebih bersifat menyeluruh. Andaikan perwilayah dapat menghemat energi minimal 20 persen, bagaimana bila ini dilakukan serentak di seluruh nusantara. Tentu pencapaian target efisiensi akan lebih signifikan. Selain itu, kondisi ini dapat menjadi sebuah gerakan bersama atau kolektif bagi seluruh komponen bangsa.

Kepala daerah tentu akan menjadi figur utama yang akan menggerakkan program ini. Jika tidak tercapai, masyarakat di wilayah tersebut dapat memberikan sanksi sosial dengan tidak memilih pemimpin daerah yang tidak dapat menghemat energi. Karena ketersediaan energi berkaitan dengan pertumbuhan serta perkembangan suatu daerah.

Ketiga Publikasi penghargaan & sanksi. Seperti di singgung di atas, langkah ini sebagai sok terapi bagi terlaksananya pencapaian efisiensi energi nasional.

Keempat Pembentukan Lembaga standarisasi & Labelisasi. Tugas lembaga ini nantinya adalah sebagai penilai produk –produk mana saja yang hemat energi. Peran lembaga ini menjadi sangat vital karena melihat perkembagan pertumbuhan produk –produk yang memakai energi. Contohnya adalah meningkatnya pertumbuhan penjualan elektronik pada semester I 2008. Pertanyaannya adalah apakah produk yang terjual tersebut sudah hemat energi atau belum.

Kelima Pembentukan pusat informasi & relawan energi. Langkah ini bertujuan untuk menjaga keberlangsungan program diatas. Pusat informasi yang berada di tengah – tengah masyarakat akan membuat pertumbuhan perubahan gaya hidup dan kesadaran hemat energi akan tercapai secara signifikan. Sedangkan relawan di fungsikan sebagai fasilitator dan inspektur lapangan yang akan selalu mengingatkan pentingnya hemat energi.

Langkah jangka pendek ini untuk menguatkan pemahaman, bahwa efisiensi bukan pembatasan produktivitas, melainkan pengelolaan pemanfaatan energi secara efektif. Pengelolaan pemanfaatan energi yang dimaksud adalah bagaimana energi dimanfaatkan berdasarkan pada kebutuhan saja. Ini bisa dilakukan dengan mengaudit konsumsi energi di tiap sendi kehidupan dan kemudian di gunakan secara proporsional.

Tahap selanjutanya yakni pemerintah harus melakukan keterbukaan informasi pengelolaan energi nasional kepada publik. Urutan-urutannya adalah sebagai berikut :

Pertama, keterbukaan dalam pengelolaan energi nasional (termasuk kontrak karya, eksplorasi, eksploitasi, distribusi & pemanfaatannya). Kedua, Akses masyarakat terhadap energi. Ketiga, kepastian penyediaan energi bagi masyarakat tidak mampu. Keempat, harga energi yang terbagi dalam pengelompokan-pengelompokan. Kelima, riset, komersialisasi dan pemanfaatan teknologi energi. Keenam, riset, komersialisasi dan pemanfaatan teknologi sumber – sumber energi terbarukan.

Akhir kata, sumbangsih pemikiran saya ini diharapkan dapat merubah paradigma berpikir pemerintah dalam menangani krisis energi nasional. Ada kecenderungan langkah yang diambil pemerintah berdasar pada pertimbangan nilai komersialisasinya. Bukan penanganan utuh dari inti masalah krisis energi. Jadi secara jelas pemerintah tidak serius dalam mengatasi krisis energi nasional. Dugaan ini muncul berdasar pada paparan diatas : Harga Listrik & BBM dinaikan, Industri ditekan serta Gedung pemerintah diminta hemat, namun pertumbuhan otomotif, elektronik dan pembenahan manajemen transportasi massal serta tata kota dibiarkan begitu saja. Hulu dan hilir strategi efisiensi energi nasional bukan dua kutub yang tidak saling berhubungan, seharusnya dua kutub yang saling melengkapi.

Jika salah satu berseberangan efeknya adalah benturan yang mengakibatkan kegagalan program. Apakah ini, hal yang disengaja oleh pemerintah??? sekali lagi pemerintah sebaiknya memikirkan ulang langkah – langkah penanganan krisis energi saat ini yang tidak menyentuh akar masalah sebenarnya.[]

Penulis adalah Intelektual Muda NU, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) & Central Study 164

(Pemikir Masalah-masalah Kebangsaan dan Politik Kebijakan Energi Nasional)

Menulis Buku SUMBER DAYA ALAM INDONESIA SALAH KELOLA! ”Kritik Terhadap Pengelolaan SDA Rezim Pascakolonial” 2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

10 Tanggapan Kompasianer Terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 14 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 15 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Wailissa Anggota BIN? …

Prabu Bolodowo | 8 jam lalu

Ketika Berada di Bukit Wantiro …

Voril Marpap | 8 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Selamat Ulang Tahun Baru Hijriah 1436 H …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Membaca Membuat Pintar …

Nitami Adistya Putr... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: