Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ibnu Dawam Aziz

pensiunsn PNS hanya ingin selalu dapat berbuat yang dipandang ada manfaatnya , untuk diri,keluarga dan selengkapnya

Kebenaran Manusia versus Kebenaran Tuhan (Sila Ketuhanan dalam Pancasila adalah Ujud Pengakuan Kebenaran Tuhan)

OPINI | 13 February 2013 | 18:09 Dibaca: 815   Komentar: 0   0

13607536001938148682Gambar  : bin.go.id

Kerancuan memahami Pancasila yang lahir melalui satu proses panjang dari satu filosofi yang menganut Kebenaran Tuhan yang bersifat MUTLAK , yang pada era reformasi ini dicampur adukkan dengan pola dasar filosofi Kebenaran Manusia yang bersifat EMPIRIS. Yang justru kemudian menjadi acuan untuk memahami Pancasila. Maka Pancasila menjadi kehilangan “RUH“ nya, dimana tanpa sadar menempatkan Pancasila dalam sisi pandang kebenaran manusia, adalah merupakan satu pengkhianatan besar terhadap Konstitusi dan merupakan perbuatan Inkonstitusional.

Sisi pandang Kebenaran Tuhan mengandung satu pengertian Bahwa Tuhan merupakan satu Dzat yang menciptakan manusia yang memiliki nilai kebenaran mutlak yang tidak akan pernah terjangkau oleh akal pikiran Manusia.

Untuk dapat menjangkau Kebenaran Tuhan akal manusia harus melakukan satu penundukan, berupa pengakuan ketidak mampuan akal pikirannya dengan mempercayai (ber-iman) terhadap adanya keinginan Tuhan untuk membimbing manusia kedalam kebenaran Tuhan melalui Wahyu berupa Kitab Suci yang disampaikan melalui utusan Tuhan ( Rasul )

Theisme : Penganut Filoshofi ini antara lain :

Santo Agustinus (354-430), Thomas Aquinas (1225-1274), Descartes (1596-1650), Imanuel Kant (1724-1804), Hegel (1770-1831), Schleiermacher (1768-1834), Alfred North Whitehead (1861-1947)

Penganut faham yang masih mengakui keberadaan Tuhan akan tetapi , Tuhan memberikan kebebasan kepada Manusia untuk menentukan kebenaran yang dianutnya ( tidak mengakui adanya wahyu ) dianut oleh dua golongan yaitu :

Deisme : dimana Tuhan dianalogikan sebagai Tukang yang membuat barang, kemudian Tuhan melepaskan hasil buatannya dalam satu system yang sudah tersusun dan tidak mencampuri lagi apa yang terjadi terhadap hasil ciptaannya.

Agnostisisme : Faham yang tidak mau tahu tentang kebenaran Tuhan yang tidak terjangkau oleh akal pikirannya, hampir sama dengan Deisme , akan tetapi kalau kaum deisme menganalogikan Tuhan sebagai Tukang Pembuat sistem alam maya yang kemudian ditinggalkan, maka kaum Agnostic justru kaum yang mengalami kebuntuan untuk mencari devinisi Tentang Tuhan dan kebenaran Tuhan untuk kemudian memaksakan diri untuk mencari kebenaran berdasarkan batas akal pikirannya.

Kebenaran Manusia merupakan cikal bakal pengingkaran terhadap kebenaran Tuhan. Bahwa Dunia itu ada, merupakan suatu realita yang terjadi karena satu proses panjang . Kebenaran Manusia menyangkal adanya campur tangan Tuhan baik dalam proses penciptaan ( alam tidak diciptakan ) maupun system yang terjadi dalam perkembangan selanjutnya. Pengakuan atas kebenaran Manusia memunculkan faham yang kini kita kenal dengan atheisme, materialisme yang dikembangkan oleh :

Ludwig Feuerbach,Karl Mark,Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud dan Jean Paul Sartre.

Perkembangan berikutnya dari faham atheis menjadikan akal atau ratio sebagai tumpuan kebenaran Manusia Yang merupakan cakal bakal Filosofi modern adalah : Rasionalisme, Scientisme

Scientisme yang berkembang melawan pemikiran agama dan iman pada masa Galilei yang mengemukakan teori geo sentris kemudian oleh Charles Darwin dengan teori evolusi melawan Alkitab, menyangkal kebenaran Tuhan tentang penciptaan manusia.

Liberalisme

Menempatkan manusia adalah segalanya , menempatkan kepentingan manusia , pemikiran manusia, menempatkan hak manusia yang kemudian tercermin dalam slogan : Liberte, egalite dan fraternite. Adalah induk pemikiran Liberalisme yang dikembangkan berdasarkan penonjolan kebutuhan individu. Faham ini merupakan satu faham yang menolak kekuasaan Negara sebagai Wakil Tuhan dan mengembangkan satu pemikiran Suara rakyat suara Tuhan. Melepaskan Negara dari kekuasaan Gereja yang menghalangi kepentingan individu.(Liberalisme klasik )

Tokohnya adalah Martin Luther dalam Reformasi Agama. ( 1517 )

State of Nature mengandung satu pemikiran dasar Pemerintah harus mendapat persetujuan yang diperintah dengan tokoh-tokoh :

Hobbes (1588 – 1679), John Locke (1632 – 1704) walaupun dua pemikir ini berangkat dari sudut pandang yang bertolak belakang, tapi mempunyai kesamaan dalam mengambil penyelesaian.

Adam Smith ( 1723 – 1790 ) memadukan Liberalisme ekonomi dengan Liberalisme Politik yang akhirnya berkembang menjadi pemikiran Liberalisme modern. Liberalisme Klasik mempunyai relevansi atas kekuatan individu terhadap kapitalisme dan Demokrasi. Berupa kebebasan individu, proses demokrasi dan kebebasan individu dalam kapitalisasi. Yang akhirnya berkembang menjadi Ekonomi Liberal modern maupun Neo Liberal yang saat ini melanda Negeri ini.

Sekularisme menganggap campur tangan agama dalam kekuasaan pemerintahan akan menjadi hambatan bagi proses demokrasi maka memisahkan masalah agama menjadi masalah privat yang tidak boleh dibawa ke ranah publik. Merupakan bentuk yang dikembangkan dari Reformasi Gereja nya Martin Luther ( 1517 ) .

Pluralisme merupakan bentuk baru dari ketidak mampuan menerima kemutlakan kebenaran Tuhan dimana disatu sisi mengakui kebenaran Tuhan tapi disisi yang lain tidak menerima adanya kemutlakan kebenaran Tuhan. Pluralisme berkembang sebagai jalan keluar atas kebuntuan demokrasi dalam menyuarakan suara rakyat adalah suara Tuhan.

Dari berbagai sumber .

Bagaimana dengan Pancasila ?

Pancasila adalah satu tata nilai yang disusun berdasarkan atas falsafah Theisme yang menganut kebenaran Tuhan dan kemutlakan kebenaran Tuhan berdasarkan wahyu . sebagai lawan Atheisme. Pancasila dalam pembukaan UUD 45 merupakan lima sila yang saling kait mengkait tak terpisahkan, dimana sila yang satu terkait erat dengan sila yang lain.

…. berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pancasila yang ditetapkan sebagai dasar Negara disusun berdasarkan kondisi riil rakyat Indonesia waktu itu, dimana perjuangan kemerdekaan Indonesia bertumpu pada semangat jihad fi sabilillah selain semangat berkebangsaan dan semangat persatuan. Semua pejuang kemerdekaan mendasarkan perjuangannya sebagai ibadah ( apapun agamanya ) dalam memperjuangkan rakyat yang tertindas.

Dari berbagai bukti dan catatan sejarah dapat dipastikan bahwa visi dari Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang mengusung kebenaran Tuhan berdasarkan WAHYU atau kebenaran Tuhan yang mutlak / absolut. Bukan Tuhan dalam pengertian Deisme maupun Agnostisisme. Artinya Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang menjunjung tinggi kitab suci dimana konstitusi Negara diilhami atau didasarkan atas kitab suci (wahyu).

Ketuhanan yang mewakili kehidupan masyarakat Indonesia yang religius. Ketuhanan yang mewakili tata nilai yang dianut masyarakat Indonesia yang menunjukkan bahwa Negara ini BUKAN Negara SEKULER. Kebenaran ini menjawab satu pendapat bahwa Negeri ini Negara sekuler, negara yang menganut kebenaran berdasarkan kebenaran manusia, yang memisahkan antara konstitusi dengan kitab suci.

Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang menduduki sila kedua dari Pancasila tetap terangkai tak terpisahkan dengan sila pertama yang berarti Kemanusiaan yang adil dan beradab berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya apa ?

Artinya, nilai-nilai kemanusiaan yang adil sesuai dengan fungsi manusia (secara proporsional) sebagai makhluk ciptaan Tuhan dengan mengacu pada perkembangan peradaban yang berpedoman atas tuntunan kitab suci (Bukan nilai-nilai kemanusiaan yang bersumber dari olah pikir manusia, bukan bersumber dari DUHAM karena apa yang tertuang dalam DUHAM hanya sebagian kecil dari apa yang terdapat dalam kitab suci)

Sila ketiga yang berbunyi Persatuan Indonesia, berarti : Persatuan Indonesia yang mengandung Nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai perwujudan dari keinginan untuk bersatu dalam satu kebenaran Tuhan.

Sila ke empat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan yang mengandung pengertian Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan Indonesia. Mencerminkan kepemimpinan berjenjang yang mewakili seluruh rakyat Indonesia secara hirarki ( hierarchy ) dengan memperhatikan persatuan, dalam tata nilai kebangsaan yang utuh, dengan mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan berdasarkan tata nilai kebenaran wahyu.

Jelas bahwa sila keempat , TIDAK BISA DIARTIKAN DENGAN DEMOKRASI. Karena sila ke empat mengandung pengertian hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yaitu perwakilan yang dijiwai oleh semangat Sumpah Pemuda yang mewakili tata nilai secara hirarki , yaitu tata nilai keluarga, Suku, Adat, Agama kedalam satu tata nilai kebangsaan yang primordialistis.

Sangat bertolak belakang dengan Demokrasi yang bertumpu dari kebebasan individualistis yang menolak semua tata nilai primordialistis.( termasuk agama)

Sila ke lima, Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia yang dapat membawa Persatuan Kebangsaan Indonesia yang mengutamakan kepentingan rakyat banyak melalui kebijaksanaan kepemimpinan secara hirarki dengan berdasar pada kemanusiaan dalam peradaban yang dituntun oleh kebenaran wahyu. Yang kemudian di aplikasikan dalam pasal 33 UUD 45.

Bagi yang mencoba memisahkan antara konstitusi dengan kitab suci, maka dia termasuk salah seorang yang mengkhianati Pancasila. Atau sekurang-kurangnya tidak mengerti konstitusi Republik Indonesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 11 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 12 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 13 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Walikota Kota Bogor Bima Arya Sugiarto …

Hakeem Elfaisal | 8 jam lalu

Guru (di) Indonesia …

Inne Ria Abidin | 8 jam lalu

“Remember Me” …

Ruby Astari | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menguntungkan atau Malah …

Ian Wong | 9 jam lalu

Dua Oknum Anggota POLRI Terancam Hukum …

Inne Ria Abidin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: