Back to Kompasiana
Artikel

Politik

SMART, cara Jitu Memilih Pemimpin Jawa Barat

OPINI | 12 February 2013 | 17:29 Dibaca: 437   Komentar: 0   0

Masa kampanye Pilgub Jabar terus bergulir dan 5 pasangan terus berlomba-lomba untuk mencuri simpati masyarakat. Visi dan misi serta slogan-slogan pun terus disebarluaskan agar masyarakat semakin yakin kepada mereka bahwa mereka pantas untuk duduk di Gedung Sate. Akan tetapi, kita sebagai masyarakat yang masih awam akan politik dan juga yang tidak terlalu mendalam mengetahui karakter-karakter dari masing-masing kandidat sepertinya akan mengalami kesulitan tersendiri untuk memilih. Jika terus dalam posisi bimbang, dikhawatirkan variabel keputusan yang kita ambil adalah siapa yang dikenal, oh..yang ini cantik, oh..yang ini ganteng atau justru memilih golput. Kalau begitu, bagaimana demokrasi ini benar-benar akan berhasil untuk mensejahterakan kehidupan bangsa?

Ada beberapa tips yang mudah bagi kita untuk memilih siapa yang tepat, yaitu dengan menggunakan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Time-Based). Konsep ini pertama kali digunakan oleh George T. Doran pada tahun 1981. Specific, tujuan yang ditetapkan harus jelas dan spesifik. Measurable,apa yang ingin dicapai haruslah bisa diukur. Achievable, tujuan yang ditetapkan haruslah bisa dicapai. Realistic, masuk akal dan Time-Based,harus bisa menetapkan kapan tujuan tersebut harus dicapai.

Jika kita melihat visi-misi dari ke lima calon, semuanya hanyalah sebuah uraian dengan kekuatan kata saja. Semuanya tidak ada yang bisa kita pegang untuk mengukur tingkat kinerja jika mereka terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat nanti. Oleh karena itu, kita akan melihat janji-janji yang mereka tawarkan. Semakin berani mereka berjanji yang memenuhi kaidah SMART, maka semakin kuat power untuk memenuhinya dan semua orang pun dapat mengontrol dan mengevaluasi kinerja mereka sehingga manisnya kata-kata dan kekuatan retorika masa kampanye serta peluang omong doang dapat diminimalisir.

Satu hal yang menarik saat mengawali kampanye resmi pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD Provinsi Jawa Barat di Bandung, Kamis (7/2). Dari kelima calon, hanya pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar yang memaparkan komitmen-komitmen apa saja yang akan mereka lakukan 5 tahun mendatang selain pemaparan visi-misinya. Komitmen-komitmen yang dipaparkan tersebut setidaknya sebagian besar konsep SMART diterapkan sehingga kita sebagai masyarakat dengan mudah dan dapat ikut mengontrol kinerja pasangan no.4 ini jika dipercaya untuk memimpin Jawa Barat. Sedangkan pasangan yang lain, hanya memaparkan visi-misi yang sedikit sekali penerapan konsep SMART. Kalau seperti itu, bagaimana nanti bisa mengontrol kinerja mereka jika menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat nantinya.

Delapan poin komitmen Cagub-Cawagub Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar selama lima tahun mendatang:

  1. Pembebasan biaya pendidikan bagi anak didik SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA, serta membangun 20 ribu ruang kelas baru (RKB).
  2. Beasiswa pendidikan bagi pemuda, tenaga medis, keluarga atlet berprestasi, dan para guru.
  3. Revitalisasi 50 ribu Posyandu dan dana insentif kadernya.
  4. Mencetak 100 ribu pengusaha/wirausahawan baru dan membuka 2 juta lapangan kerja baru.
  5. Mengalokasikan Rp 4 triliun untuk infrastruktur pedesaan.
  6. Rehabilitasi 100 ribu unit rumah rakyat miskin.
  7. Membangun pusat seni dan budaya di kabupaten/kota.
  8. Membangun stadion olahraga di Kabupaten/kota.

13587574311269780367

Akan tetapi, yang saya cukup heran adalah kenapa ke-4 pasangan lainnya justru ketika bertemu masyarakat, mereka memaparkan janji-janji mereka? Apakah karena mereka tahu bahwa DPRD lah yang akan mengontrol secara resmi kinerja mereka kalau mereka jadi pemimpin tanah sunda ini? dan mereka juga tahu karena saat ini waktunya pragmatis, bagaimana agar masyarakat tertarik dan memilih mereka. Padahal kita tahu bahwa masyarakat memiliki sifat cepat lupa akan janji-janji kandidat saat masa kampanye.

Ketika saya coba search di masing-masing web resmi dari calon sisanya dan ternyata tidak satupun yang menunjukkan komitmen mereka yang benar-benar jelas yang mengacu pada konsep SMART. Itu berarti, bagaimana caranya kita sebagai masyarakat akan terlibat mengontrol kinerja mereka selama 5 tahun mendatang? Bukankah Jawa Barat akan maju saat pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama dan saling mengontrol satu sama lainnya?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 10 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 15 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

V2 a.k.a Voynich Virus (Part 21) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 11 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: