Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Gedang Kepok

Gedang Kepok adalah nama pena untuk penulis kompasiana ini. Karena satu dan lain hal, identitas selengkapnya

Sengkuni, Drona, dan Strategi Politik Kekuasaan

OPINI | 11 February 2013 | 05:34 Dibaca: 2474   Komentar: 0   1

Sengkuni menjadi terkenal karena status BB Anas Urbaningrum dan anjurannya agar anggota HMI membaca kisah Bharatayudha dan belajar tentang politik Sengkuni ini. Siapakah sengkuni ini? Pertanyaan yang membuat politik Indonesia semakin hangat dengan berbagai peristiwa and persaingan wacana politik. Dalam tulisan pertama saya ini, akan saya paparkan siapakah sebenarnya Sengkuni, dan bagaimana tokoh politik zaman Mahabharata itu bisa relevan dalam perpolitikan Indonesia.

Telah diulas dibeberapa tulisan di Kompasiana siapa sengkuni sesungguhnya dalam Mahabharata dan peranannya dalam persaingan politik Kurawa vs. Pandawa. Sengkuni sebagai Mahapatih adalah seorang perdana menteri yang cerdas menggunakan kesempatan dan memanfaatkan berbagai gonjang-ganjing politik yang melanda Hastina. Awalnya, ia adalah pemuda perantauan yang ketemu Pandu Dewanata. Singkat cerita, ia kalah bertanding dengan Pandu dan menyerahkan adiknya Dewi Gendari untuk diperistri Pandu. Tetapi karena Pandu sudah memenangkan dua putri cantik yang lain, Kunti dan Madrim, Dewi Gendari diserahkan kepada kakaknya yang buta, Destarasta.

Dari perkawinan politik inilah, Sengkuni memanfaatkan kecerdasannya dan hubungannya dengan orang-orang istana, sampai akhirnya ia menduduki jabatan Mahapatih Hastinapura setelah Pandu meninggal dan Destarasta menjadi raja. Oleh pandawa dan tradisi Mahabharata, Sengkuni digambarkan menjadi manusia culas, jahat, dan licik demi kekuasaan.

Anehnya, cerita Sengkuni yang licik dan culas itu berubah saat Mahabharata dibawa ke Jawa. Memang peranannya masih kelihatan culas dan jahat dalam pewayangan, tetapi keculasan dan kelicikannya kalah dengan Pendeta Drona. Apa yang terjadi? Di India, Pendeta Drona adalah pendeta istana Hastinapura yang bijaksana dan saat sampai ke Jawa, cerita itu dibelokkan dengan memberi karakter licik, culas, dan jahat–yang melebihi keculasan Sengkuni.

Inilah uniknya perpolitikan Indonesia (=Jawa) sejak zaman dulu kala. Di zaman Majapahit, Mahapatih Nambi berseberangan dengan Ronggolawe, kawan seperjuangan dan sama-sama pendukung Wijaya. Tentu saja sebagai Mahapatih Nambi harus pandai bermain politik untuk bisa memegang kekuasaan. Kisah Mahapatih Sengkuni yang culas, sering diguanakan lawan-lawan politiknya, termasuk para Pendeta Hindu dan Budha yang mau ikut juga dalam mempengaruhi jalannya negara. Dari sinilah, penutur cerita Mahabharata (para dalang dalam pertunjukan wayang), mempolitisasi cerita ini. Tergantung arah politik yang mereka anut, mereka akan menjelekkan kisah Sengkuni bila berlawanan dengan Patih Nambi, dan menciptakan Pendeta Drona yang culas jika merek pro dengan Mahapatih ini. Cerita ini berlanjut terus, dan karena cerita ini merefleksikan perpolitikan riil yang dialami rakyat, sedikit demi sedikit wacana Pendeta Drona juga pendeta yang culas dan licik, bisa diterima di Jawa.

Kekesalan Mahapatih Majapahit degan cerita Sengkuni dalam Mahabharata ini ternyata tidak terhenti dengan bergantinya kekuasaan. Dalam masa kerajaan Islam (Demak, Pajang, dan Mataram) kisah Sengkuni sering membuat merah telinga para Patih/pejabat Istana. Namun kenyataan bahwa banyak pemuka agama yang ikut mempengaruhi perpolitikan negara, membuat dalang (seniman) juga mengkritik mereka dengan pencitraan Drona, pendeta dekat dengan raja yang selalu memberi nasehat yang salah dan memecah belah.

Jadi, kalau Anas minta anggota HMI belajar lagi dari Mahabharata, sebaiknya yang dibaca adalah Mahabharata versi Jawa–bukan India. Dalam Mahabharata versi jawa, bukan hanya Sengkuni yang berwatak jahat dan culas tetapi juga Pendeta Drona. Inilah dua tokoh politik jahat yang siap memecah belah demi kekuasaan sesaat! Siapa mereka? Jelas, mereka adalah tokoh politik dan tokoh agama yang dekat dengan kekuasaan! Mereka tidak memihak rakyat, tetapi kekuasaan sesaat! Politik mereka mungkin tersembunyi, tetapi memecahbelah.

Dalam konteks politik kontemporer, siapakah Sengkuni dan Drona ini? Bisa siapa saja! Anas pun harus berefleksi, jangan-jangan dirinya juga Sengkuni!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | | 24 November 2014 | 10:33

Disambut Pelangi Halmahera Utara …

Joko Ade Nursiyono | | 24 November 2014 | 09:41

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Jaringan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong …

Ida Royani | | 24 November 2014 | 05:47

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 7 jam lalu

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 11 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 13 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: