Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dr. Nugroho, Msi Sbm

Saya Pengajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Semarang

Mengapa Perlawanan Anas Tak Terbukti?

OPINI | 10 February 2013 | 21:49 Dibaca: 1074   Komentar: 0   0

Perkiraan banyak pengamat bahwa Anas Urbaningrum dan DPD-DPD pendukungnya akan melakukan perlawanan setelah SBY memutuskan mengambil alih kendali partai ternyata tak terbukti. Ketika SBY membacakan 8 (delapan) langkah penyelematan partai maka Anas dan pendukungnya ternyata tak melakukan perlawanan apapun bahkan sebatas pernyataan atau statement.

Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, posisi SBY sebagai pendiri, ketua dewan pembina, serta ketua majelis tinggi Partai Demokrat masih terbukti sangat kuat. Tidak ada pengurus ataupun anggota yang berani melawannya. Kedua, gertakan SBY bahwa yang tidak setuju dengan keputusannya dipersilahkan keluar dari partai terbukti pula membuat para pendukung Anas menciut nyalinya. Ketiga, SBY mengantongi kartu truf yang cukup kuat yaitu sebentar lagi mungkin Anas akan menjadi tersangka. Hal tersebut sesuai dengan statement KPK bahwa surat penetapan Anas sebagai tersangka hanya tinggal menunggu tandatangan 2 (dua) unsur pimpinan KPK. Hal ini juga membuktikan bahwa SBY terus berkomunikasi dengan KPK. Keempat, ternyata kepentingan pribadi dari pada pendukung Anas lebih menonjol daripada loyalitasnya pada Anas Urbaningrum. Mereka tentu berpikir bila SBY ebenar-benar melakukan tindakan pembersihan dan penertiban partai maka mereka akan kehilangan keanggotaannya di Partai Demokrat.

Pertanyaan yang kemudian timbul akan efektifkah langkah SBY melakukan 8 (delapan) langkah penyelematan Partai Demokrat? Menurut saya jawabnya belum tentu. Pertama, agar Anas bisa dilangserkan maka dia harus menjadi tersangka dahulu. Padahal surat dari KPK yang menetapkan Anas sebagai tersangka sampai saat ini belum keluar. KPK tampaknya sangat hati-hati untuk menetapkan Anas sebagai tersangka karena sebagai politikus ulung Anas dikenal sangat “licin”. KPK tampaknya juga tak mau terjebak dalam permainan kekuasaan internal Partai Demokrat. Artinya kalau toh Anas ditetapkan sebagai tersangka bukan karena rivalitas kubu SBY dan Anas. Kedua, langkah penyelematan SBY juga menimbulkan kesan bahwa masalah “rumahtangga” (internal) partai telah diumbar ke publik dan menunjukkan kepeimpinan serta soliditaspartai yang lemah. Menurut saya ini akan justru kontra produktif bagi Partai Demokrat sehingga mungkin justru akan menurunkan elektabilitasnya

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: