Berthy B Rahawarin

| 08 February 2013 | 11:01



9749
Dibaca
2
Komentar
0
Rating

Capres 2014: Lima Tokoh Menurut 5 Lembaga Survei


1360295402146837329

Lima Capres Terpopuler (sumber: MCN Blog)

Tulisan ini sekedar menskemakan kembali secara sederhana, popularitas dan elektabilitas nama-nama dalam bursa Capres 2014, sesuai 5 lembaga survei, yakni Lembaga Survei Indonesia (LSI), Lembaga Survei Nasional (LSN), Sogeng Sarjadi Syndicate (SSS), Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Ada sejumlah survei lainnya dengan indikator memperkuat kecenderungan publik seperti terwakilkan dalam 5 Lembaga survei ini.

Dalam survei yang dilakukan 16-24 Januari 2012, CSIS mengumumkan lima nama paling populer untuk kandidat Capres 2014 dengan urut teratas ditempati Megawati (91,6%). Disusul Jusuf Kalla atau JK (84%), Wiranto (73,9%), Prabowo Subianto atau PS (65,9%), dan Aburizal Bakrie atau ARB (61,4%).

Pertengahan Agustus CSIS merilis dua hasil survei tetapi terutama bulan Agustus 2012, menempatkan 5 nama dengan elektabilitas dan prosentase angka kecenderungan. Prabowo telah menyalib tipis prosentase elektabilitas Megawati. Prabowo memperoleh elektabilitas tertinggi dengan 14,5% atau naik secara signifikan 7,8%. Sementara Megawati  naik hanya 4,4% sehingga turun ke posisi nomor 2 dengan persentase 14,4%, meski beda 0,1% dari Prabowo. Tempat ketiga JK dengan perolehan 11,1%, naik 5,5%. ARB atau Ical kalah dari JK secara signifikan dengan perolehan 8,9% atau naik 3,7%. Tempat kelima Wiranto dengan perolehan 4,1%, atau naik 2,4% dari elektabilitas sebelumnya.

LSN atau Lembaga Survei Nasional para bulan Februari 2012 mengumumkan hasil survei elektabilitas Capres 2014 dengan posisi teratas Megawati 18%. Disusul Prabowo 17,4% atau beda 0,6% dari Megawati. Disusul ARB di tempat ke-3 dengan 17,1%, Wiranto 10% dan Mahfud MD 7,3%.

Pada bulan Oktober 2012, LSN kembali mengeluarkan hasil elektabilitas untuk 12 tokoh, dengan perubahan amat signifikan, terutama pada perolehan suara Prabowo dan Megawati. Dari 12 orang, Prabowo merebut posisi teratas dengan persentase 20,1%, jauh melampaui Megawati yang menempati urut elektabilitas ketiga dengan persentase 8,8%. Wiranto di tempat ke-2 dengan perolehan 12%, atau beda 8,1% dengan Prabowo. Urut ke-4 dan ke-5 ditempati Ical atau ARB (7,1%) dan Sri Sultan (6,3%). Selanjutnya Mahfud MD (5,8%), Jokowi (4,7%), Surya Paloh (3,3%), Dahlan Iskan (2,6%), Hidayat Nur Wahid (1,7%), Hatta Radjasa (1,2%).

Lembaga Survei Indonesia (LSI) dengan hanya melihat 3 partai besar PDIP, Golkar dan Demokrat, dan elektabilitas di luar Partai. Survei pada 2-11 Juni 2012, dengan metode multistage random sampling dari 1.200 responden, dilakukan dengan metode wawancara. Hasil survei menunjukkan Megawati Soekarnoputri berada di posisi pertama dengan 18,3% dukungan responden, disusul Prabowo Subianto (18%). Posisi ketiga ditempati Aburizal Bakrie (17,5%), kemudian Hatta Rajasa (6,8%) dan Ani Yudhoyono di posisi paling buncit dengan dukungan 6,5% responden.

Namun bila dikerucutkan capres di luar 3 partai besar yakni Golkar, PDIP dan Demokrat, maka Prabowo menempati posisi teratas dengan 23,9%. Wiranto (12,9%), Hatta Rajasa berada di posisi ketiga dengan 8,1 persen. Berturut-turut kemudian Surya Paloh (5 %), Mahfud MD (4,5 %), Dahlan Iskan (4,4 %) dan Sri Mulyani yang hanya mendapat dukungan 2,1 % responden. “Prabowo memimpin poros tengah di luar tiga partai,” kata peneliti LSI Adjie Alfaraby, ketika itu (17/6/2012).

Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) pada bulan Juni 2012 mengeluarkan hasil survei dengan 5 nama dengan elektabilitas tertinggi. Prabowo menempati urut pertama dengan 25,8%. Megawati masih menempel dengan 22,4%, JK, meski diurut ketiga sudah tertahan dengan 14,9%. ARB atau Ical dan Surya Paloh masing-masing (10,6%) dan (5,2%).

Di luar empat lembaga survei tersebut, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dalam hasil survei exit poll Pilkada DKI Jakarta, bekerja sama dengan MNC Media menunjukkan, bahwa Prabowo dijagokan sebagian besar masyarakat di Ibu Kota yang memberikan suaranya pada pilkada lalu. Elektabilitas Prabowo dalam exit poll SMRC-MNC Media mencapai 19,1%,disusul Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri di urutan kedua dengan angka 10,1%.

Posisi ketiga hingga kelima diisi Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie dengan 10%; mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla 6,5%; dan Menteri BUMN Dahlan Iskan 5,6%. Di bawah mereka, Ketua Fraksi PKS DPR Hidayat Nur Wahid 5,2%, Sri Sultan Hamengku Buwono X 4,9%,Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa 3,7%,Ketua Umum PKPI Sutiyoso 3%, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto 1,9%, Ibu Negara Ani Yudhoyono 1,6%,mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani 1,6%, Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum 1,5%,Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD 1,4%, serta Menkopolhukam Djoko Suyanto dan Ketua Majelis Nasional Partai Nas-Dem Surya Paloh masing-masing 1,1% .

Analisa dan Kesimpulan

Pertama, meskipun belum dapat dijadikan barometer tunggal, hasil dari 5 suvei memberikan indikator beberapa nama yang dapat diusung oleh Partai-partai di parlemen kelak sebagai Capres RI 2014. Kelima nama yang relatif berulang disebut adalah Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie dan Wiranto.

Kedua, Prabowo telah mendapatkan indikator grafik menanjak signifikan, sejak Januari 2012, menyalip Megawati, dan semua kandidat lainnya. Meski demikian, indikator ini belum mutlak diperlakukan sebagai hasil utama, tanpa mempertimbangkan survei hasil elektabilitas Partai dan para Tokoh.

Ketiga, tokoh alternatif, seperti survei ‘kontroversial’ (opinion leader) yang dilakukan LSI pada November 2012 yang menempatkan Mahfud pada urut pertama, dengan responden ‘elit-intelektual-pengusaha-profesional’, adalah salah satu indikator lain saja. Dari beberapa indikator yang diberikan, Mahfud MD mendapat total skor 79. Menyusul di tempat kedua dan seterusnya, JK (77) Dahlan Iskan (76), Sri Mulyani (72), Hidayat Nur Wahid (71).

Dalam survei ‘kontroversial’ ini, Megawati hanya mendapat skor 68 dengan posisi ke-16, Hatta Radjasa skor 66 dengan posisi ke-17. Dan, posisi ke-18 adalah Prabowo dengan skor 61. Survei ini hanya menunjukkan tingkat elektabilitas yang kurang, baik untuk Megawati maupun Prabowo di kalangan yang menganut kriteri ‘opinion leader‘. Istilah yang debatable tentunya.

Namun, pesan dari ’survei kontroversial’ ini adalah masih ada tokoh lain yang mungkin muncul di luar 5 nama yang senantiasa berulang, terutama dari kalangan independen atau non-partisan. Tinggal pertanyaan, entahkah mungkin datang ‘tokoh’ non partisan itu? Sebagai Capres, masih mungkin. Namun, bila elektabilitas Capres masih belum dominan, seorang Capres asal partai, ingin memperkuat kemenangan dengan Cawapres dari partai lainnya.

Keempat, menurunnya popularitas Partai Demokrat sebagai partai berkuasa, nyaris tidak akan menghasilkan tongkat estafet bagi penerus yang diusungnya. Misalnya, saja bila Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, tidak ada aral melintang dan maju dalam bursa capres, belum memiliki ‘rivalitas’ yang cukup. “Sanksi sosial’ publik terhadap pemberintaan menyangkut citra Partai Demokrat, tidak mudah untuk dibangun kembali dalam sisa waktu yang ada. Meskipun tidak berarti, bagi Partai berkuasa segalanya sudah berakhir.

Kelima, survei sendiri, selain yang kontroversial LSI, belum memberikan kita gambaran cukup tentang usia responden, faktor yang akan memberikan pengaruh usia dan capres pilihannya. Kalau harus dibagi tiga karegori, Usia 17-29, 30-49, 50 ke atas, ada sedikit gambaran tentang bagaimana mereka yang berusia 17-29 (atau pada tahun 1988, baru berusia 11 tahun, tidak banyak mengalami suasana transisi Orde Baru, ‘kepahlawanan’ Megawati, tetapi mengalami suasana ‘reformasi bablas’ dan Pemerintahan SBY yang sedang anjlok popularitasnya.

Dengan memenangkan setengah dari jumlah pemilih mayoritas dari usia 17-29, seorang kandidat Presiden 2014, dapat memenangkan seluruh kategori usia yang lain, dan memenangkan takhta RI 2014. Untuk kategori usia ini, semua kandidat dapat menjadi hero, bahkan tetapi Prabowo tampak akan terus meroket elektabilitasnya.

Keenam, tokoh alternatif fenomenal Gubernur DKI Joko Widodo atau Jokowi, yang namanya masuk beberapa survei, hanya sebuah harapan masyarakat banyak dan segelintir elit. Tetapi, Jokowi tidak akan bangkit menjadi rival untuk baik Megawati maupun Prabowo. Ataukah, mungkin Jokowi dapat ‘menjodohkan’ kembali Prabowo dengan kandidat PDIP, yang direkomendasikan Megawati.

Rivalitas Megawati dan Prabowo tidak akan menghasilkan semangat menciptakan Indonesia yang baru. Meskipun sulit memahami kemungkinan Prabowo meminang Puan Maharani, misalnya, kebesaran jiwa Megawati diperlukan untuk mengakhiri sikap oposisi terhadap semua pemerintahan. Taufiek Kiemas hanyalah anomali kesejatian perjuangan PDIP.

Rakyat Jakarta masih menikmati ‘bulan-madu’ Jokowi-Ahok menata ibu kota negara. Jadi, jangan ganggu Jokowi dan Ahok. Terobosan ‘tak-biasa’ yang mereka contohkan dalam keterbukaan dan kesederhanaan, sedang memenuhi hausnya rakyat akan tipe pemimpin pengabdi. Blusukan Jokowi sah-sah saja diteladani para Capres.

Pesta demokrasi 2014 masih akan menampilkan indikator angka dan karakteristik baru beberapa waktu mendatang, sebelum perhelatan politik. Lembaga survei saling melengkapi dalam memberikan kepada publik sesuatu yang dapat kita pegang bersama. Bahkan, terkadang di luar ‘kehendak umum’ dan kredo cita-cita dan kemauan pribadi kita. Dan, tetap masih sebuah indikator, maka masih mungkin berubah (atau menguat).

*) Penulis, peneliti sosial

Tags: joko widodo jokowi megawati soekarnoputri prabowo subianto wiranto ahok aburizal bakrie kotaksuara pilpres2014

Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..

Kotak Suara 2014 berisi berita dan opini warga seputar hiruk-pikuk Pemilu 2014 dengan tag "pileg2014", "pilpres2014",atau "serbaserbipemilu"

Tulis Tanggapan Anda
Guest User