Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Usman Kusmana

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan selengkapnya

Ini Alasan Mengapa Dede Yusuf Berpeluang Menangi Pilgub Jabar

REP | 06 February 2013 | 22:31 Dibaca: 927   Komentar: 0   0

LSI telah merilis laporan hasil survei terbarunya menyangkut pelaksanaan Pilgub Jawa Barat yang akan digelar pada Hari Minggu tanggal 24 Februari 2013.  Direktur Citra Komunikasi LSI Toto Izul Fatah mengatakan bahwa dari hasil survei tertutup yang dilakukan pihaknya pada 440 responden pada 10-16 Januari 2013 menunjukan keunggulan Dede Yusuf-Laksamana. Dede Yusuf-Laksamana menempati posisi pertama hasil survei dengan 35,3%, lalu Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar 27,4%, Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki 13,2%, Yance-Tatang Farhanul Hakim 9,5% dan Dikdik-Cecep 0,7%.

Secara umum pasangan Dede Yusuf-Lex Laksamana adalah cagub dan cawagub yang didukung masyarakat,” katanya di acara press conference hasil survei LSI,di Bandung,  Selasa (5/1).  Ketika disurvei secara terbuka, Dede-Lex juga unggul dengan angka 29,1%, Heryawan-Deddy Mizwar 21,6%, Rieke-Teten8,9%, Yance-Tatang 7,2% dan Dikdik-Cecep 0,3% dengan margin of error ±4.8%.  Hasil survei ini tentu bisa kita sikapi dengan berbagai sudut pandang. Tapi sebagai sebuah metodologi ilmiah, survei juga menjadi satu instrumen yang bisa mengukur tingkat probabilitas peta kekuatan politik dalam perhelatan semisal Pilkada.

Apa kira-kira faktor yang mejadi reasoning “kemungkinan” menangnya Pasangan Dede Yusuf-Lek Laksamana yang diusung “koalisi Babarengan Demokrat, PAN, PKB, Gerindra” ini?. Saya telah menulis dalam postingan terdahulu perihal kemungkinan bahwa yang akan bersaing ketat dalam Pilgub Jabar adalah pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar  dengan Dede Yusuf-Lex Laksamana, dengan berbagai argumentasi yang melatarinya.

Tanpa bermaksud meremehkan kekuatan pasangan kandidat lainnya ” Yance-Tatang, Rieke-Teten, Dikdik-Cecep”, saya melihat kutub dan politik persepsi seputar tingkat ke-dikenalan (popularitas), ke-disukai(akseptabilitas), dan ke-dipilih (elektabilitas) pasangan Aher-Dedy dan Dede Yusuf-Laksamana itu memang melebihi kandidat lainnya.

Luasnya wilayah Jawa Barat yang terdiri dari 26 Kota/Kabupaten dengan penduduk sekitar 46 Juta jiwa, berbagai karakter sosial budaya serta kontur wilayahnya yang tidak seperti Jakarta. Jawa Barat masih mayoritas  wilayahnya bercirikan pedesaan, pegunungan, dan cenderung paternalistik, snagat bergantung pada pengaruh tokoh kiai, masyarakat. Akses informasi melalui jejaring media massa masih terbatas, keriuhan dunia maya begitu juga.

Sehingga saya cukup heran dengan pola dan gaya sosialisasi beberapa kandidat yang begitu massif dengan menggunakan media iklan di koran-koran yang hampir nampang di setiap halaman, nangkring di media iklan out door pusat keramaian kota, menyebar banyak atribut baligio yang dipasang di pohon-pohon dan setiap sudut kosong yang ada. Kadang membuat sumpek dan rujit.

Ternyata pola turun ke bawah yang hanya dilakukan karena bermaksud maju dalam pertarungan Pilgub semata tidaklah berdampak signifikan kalo isinya hanya pencitraan dan polesan semata. Contoh kasus gaya blusukan Jokowi di Jakarta,  ternyata tak mempan saat dipakai dengan gaya Oneng. Blusukan gaya incumben gubernur Ahmad Heryawan yang berbalut kegiatan dinas dengan berbagai bantuan program yang dibawa juga ternyata tetap kurang kena chemistry nya. Begitu juga dengan gaya Yance.

Sementara Dede Yusuf kelihatannya bisa lebih natural menjalaninya. Dia blusukan semenjak tahun 2008 dengan cara ikut gotong royong mengecet mesjid, membangun jembatan bambu, menginap di rumah janda-janda tua, dengan cara “nyelenep” tanpa protokoler dan riuh pemberitaan di media massa. Dia konsisten mendekat dengan rakyat di berbagai pelosok di Jawa Barat.

Proporsi iklan di media massa maupun indoor/outdoor dari pasangan Dede Yusuf-Laksamana ini kalah jauh dibanding Aher dan Yance. Mungkin setara dengan Rieke lah dari sisi banyaknya media sosialisasi. Tapi porsi “kukurusukan” Dede Yusuf kelihatannya sudah berlangsung panjang dan lama, semenjak tahun 2008, berarti semenjak duduk menjadi Wakil Gubernur, Dede Yusuf telah menjalani pola dan gaya kepemimpinan yang memang merakyat, dekat tak berjarak dengan rakyat.

Dari sinilah, masyarakat Jawa Barat di level Grass Root terkesan dengan sosok Dede Yusuf. Terlihat mengkristalnya dukungan fanatik dari berbagai elemen masyarakat di tingkat bawah. Aura jika berada di tengah-tengah masyarakat begitu besarnya, sehingga selalu mendapatkan respon dan dikerubuti semua lapisan masyarakat.

Harus diakui faktor popularitas Dede Yusuf sebagai mantan Artis yang terjun ke dunia politik juga besar, ditambah orang Sunda memang menyenangi figur dengan proporsi ” Dedeg sampe rupa hade, hade gogog hade tagog” sosok yang secara penampilan bagus, wajah menarik, bagus bicaranya. Dede Yusuf berhasil membangun kedekatan emosional dengan masyarakat Jawa Barat dari berbagai elemen yang ada, tua muda, pria wanita, dengan berbagai latar belakang pekerjaan masyarakat, di Kota maupun Desa.

Dengan kondisi faktuan sosok Dede Yusuf yang seperti itu, ditambah lagi pasangan wakilnya juga mantan Sekda Provinsi Jawa Barat selama 6 tahun yang dianggap sangat mumpuni secara kemampuan birokrasi, administrasi dalam pengelolaan pemerintahan di Jawa Barat, Masyarakat sepertinya memang menaruh harapan dan kepercayaan pada pasangan ini.

Selain itu pasangan ini juga diuntungkan dengan kasus Sapi Import yang menimpa Presiden PKS Luthfi Hasan Ishak yang saat ini di tahan KPK. Suka atau tidak, diakui atau tidak, persoalan ini pasti akan berdampak secara signifikan pada bangunan persepsi politik publik terhadap kandidat Gubernur Ahmad Heryawan yang memang diusung oleh PKS.

Waktu yang besok hari tanggal 7 Februari akan memasuki tahapan kampanye, sangatlah sempit untuk memulihkan persepsi publik tentang Korupsi yang melanda PKS. Karena kasus ini tersangkanya asalah seorang Presiden partai yang selama ini identik dengan partai dakwah dan partai bersih anti korupsi. Sehingga tak pelak dampaknya buat Aher cukup membuat limbung.

Inilah beberapa hal yang menurut bacaan saya menjadi alasan mengapa pasangan Dede Yusuf-Lex Laksamana akan berpeluang memenangkan Pilgub Jawa Barat 24 Februari nanti. Wallahu A’lam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 16 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 17 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 18 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 21 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: