Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dimyat Aa Dym

Seorang guru dan pendidik di sekolah yang telah mengabdikan dedikasinya untuk tunas-tunas bangsa lebih dari selengkapnya

Anis Matta, Emha Ainun Nadjib, dan Chairil Anwar

OPINI | 05 February 2013 | 06:09 Dibaca: 6553   Komentar: 66   20

13600188601762715766

M. Anis Matta

Sejak diangkat oleh Majlis Syuro PKS, Jumat 1 Februari 2013 lalu nama Anis Matta (AM) yang memiliki nama depan Muhammad, pernah melaksanakan ibadah Haji sehingga di beberapa tulisan yang lain sering ditulis lengkap yakni H.M. Anis Matta (Lahir di Bone Sulawesi selatan 28 September 1968), hampir muncul di media dan jejaring sosial yang ada (Laman Berita Website, Facebook, Twitter dll).

Sebagai pecinta koleksi dan penikmat buku-buku keislaman, demokrasi, pendidikan dan keumatan saya jadi teringat dengan salah satu judul buku beliau yang saya beli di salah satu toko buku. Buku tersebut diterbitkan oleh Pustaka Saksi dengan Judul “Menikmati Demokrasi, Strategi Dakwah Meraih Kemenangan”.

Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan beliau di majalah SAKSI dalam kolom khusus Anis Matta. Ternyata kolom tersebut mendapat sambutan hangat dari pembacanya, sebagaimana diakui oleh pihak redaksi majalah SAKSI sendiri berdasarkan hasil risetnya menunjukan angka 30 % alasan para pembaca memilih membeli majalah SAKSI karena adanya kolom tersebut.

Kini Anis Matta telah menjadi Presiden salah satu partai politik yang fenomenal, paling menurut beberapa pengamat dan tokoh nasional seperti diantaranya Burhanudin Muhtadi (LSI) dalam bukunya “Dilema PKS, Suara dan Syariah”.

Selain Anis Matta saya juga mengoleksi buku karya penulis lain sebut saja dia adalah EMHA Ainun Nadjib, ( Lahir di Jombang Jawa Timur 27 Mei 1953) seorang budayawan yang tahun 2012 lalu saya pernah menulis di Kompasiana ini sebagai bentuk penilaian, pandangan dan apresiasi saya kepada kepada beliau. Antara keduanya memang jauh berbeda baik dari sisi usia maupun asal kelahirannya, tapi ada hal yang sama antara keduanya, antara lain dalam hal memandang demokrasi  dalam kacamata Islam, kedua dalam cara menampilkan diri dan ferforma keislamannya yang lebih moderat, tidak kaku juga tidak liberal.

Coba Klik Disini Saja Tulisan Saya tentang Emha Ainun Nadjib :

http://politik.kompasiana.com/2012/06/11/saya-simpati-dengan-emha-ainun-najib-463793.html

1360018959677137225

Emha Ainun Nadjib

Mengenai tokoh ini saya juga terkesan denga satu buku beliau yang berjudul “Demokrasi, La Roiba Fih”, Terbitan Kompas tahun 2009, selain karena itu saya juga terkagum dengan beliau karena Kekiyaian beliau tidak ditonjolkan, justru yang ditonjolkannya adalah sebagai pemikir dan budayawannya, sehingga bisa lebih diterima dilintas komunitas bangsa kita yang ada saat ini.

Apa dan bagaimana yang ideal dalam penampilan tokoh panutan yang layak menjadi pemimpin di masyarakat dan pemimpin NKRI di masa yang akan datang? Sehingga ketika dia tampil di hadapan rakyatnya dia tidak membawa beban psikologis, atau resistensi bagi dirinya sendiri maupu bagi konstituennya. Inilah yang mungkin harus menjadi perhatian kita ke depan terutama jangka pendek ini 2014.

Yang jelas menjadi seorang pemimpin harus memiliki multi talenta, serta multi keunggulan, meskipun kalau kita melihat sejarah baik sejarah, kenabian maupu n sejarah pasca kenabian, tidak selalu demikian. Multi keunggulan tersebut seperti pemikiran atau idiologi, seni, fisik, inovasi, motivasi, energisitas, mobilitas, komunikasi sampai penampilan dan ketampanannya.

Semuanya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi konstituen atau masyarakat pemilih.

Seperti yang kitaa lihat dari media massa, pidato Anis Matta pertama maupun kedua pada tgl 3 Februari kemarin yang diupload dan ditampilkan di media massa yang ada maka tidaklah keberatan jika ada beberapa orang atau tokoh yang menyebut dia sebagi “Soekarno Muda” dilihat dari gaya pidatonya yang berapi-api dan memotivasi. Seperti dalam pidato keduanya yang disampaikan dalam acara Konsolidasi Struktur Kader PKS (DPD Kokab), UPPA atau Unit Pembinaan dan Pengkaderan Anggota serta perwakilan dari wilayah dakwah (Wilda) Banten, DKI dan Jawa barat (Banjabar), saya yakin warga PKS cukup bangga punya presiden seperti Anis Matta yang memiliki dengan gaya dan talenta kepemimpinannya.

Meski lulusan Perguruan Tinggi Agama tetapi kemampuan Anis Matta dan talenta kepemimpinannya, sebagian dari mereka menyebut Anis Matta sebagai idiolog PKS mengingat ia menjadi Sekjen sejak zaman PK sampai PKS sebelum ia menjabat presiden baru PKS,  dibuktikan juga dibuktikan dengan menjadi lulusan terbaik Kursus atau Kuliah Kepemimpinan Kader Bangsa Lemhanas, menjadikan ia lebih memahami permasalahan kader, PKS, bangsa maupun negara.

Kutipan pidato keduanya di awal pidatonya sangat terlihat apa yang penulis sebutkan di atas:

“ Saudara-saudaraku semuanya, kalimat pertama yang ingin saya ucapkan kepada wilayah pertama yang saya kunjungi setelah menjadi presiden PKS, saya mencintai antum semua, ana uhibbukum fillah, dan itu adalah cinta tertinggi yang saya miliki kepada antum semuanya, saya juga ingin menyampaikan salam cinta dari pemimpin  kita ketua Majlis Syuro PKS KH Hilmi Aminuddin…..Salam cinta inilah yang menyatukan kita ….”

Vidie dan teks pidato selengkapnya :

http://www.pkspiyungan.org/2013/02/taujih-presiden-pks-anis-matta.html

Selain itu beliau juga pandai menggali hikmah, inspirasi, energi semangat dan ilham dari warisan sejarah yang ada baik sejarah lokal, nasional, maupun sejarah Rosul, para Nabi, Sahabat, Tabiin dan Tabiit Tabiin. Dan kita melihat sosok sang penyair terkenal yaitu Chairil Anwar (Tokoh Sastrawan Nasional Masa Penjajahan dan Kemerdekaan) dalam pidato Anis Matta dengan mengutip beberapa baris puisinya :

1360019100123824209

Chairil Anwar (Google.com)

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(”Aku” Chairil Anwar)

13600192381642689092

Chairil Anwar (Website Gambar.Google.com)

Dengan beban yang ada di pundaknya disaat partainya (PKS) dilanda musibah (Belum jelas apakah dimasukkan ke perangkap KPK atau berbuat kesalahan berdasarkan temuan KPK) disaat saat seperti itu dia mendapatkan amanah untuk menaikkan elektabilitas dan memenangkan PKS minimal 3 besar di Pemilu 2014. Kita bekerja saja sesuai dengan tugas dan kedudukan kita masing-masing. Selamat bekerja partai –partai, termasuk …  Keadilan Sejahtera, Selamat Bekerja  …  Kita Semua, Selamat Bekerja….. Kompas Siana. [ ]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49


TRENDING ARTICLES

Prabowo Lebih Mampu Atasi Kemacetan Jakarta …

Mercy | 14 jam lalu

Kalah Karena Dicurangi? Belajarlah pada …

Ipul Gassing | 14 jam lalu

Prabowo Subianto Tolak Pilpres 2014, Berarti …

Danny Ph Siagian | 16 jam lalu

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 22 July 2014 09:57

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 22 July 2014 09:20

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: