Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Indo Agustus

Peminat wisata budaya

M. Anis Matta, Belajarlah pada Ruhut “Poltak”

REP | 03 February 2013 | 15:23 Dibaca: 1290   Komentar: 8   2

Dengan mata semburat merah, nada geram, tangan terkepal, bak  audisi calon pemain sinetron,  sang Presiden baru PKS, Moh Anis Matta,  memproklamirkan bahwa telah terjadi konspirasi “anasir-anasir” hitam  menyerang partainya . Ini adalah upaya jahat yang ditujukan kepada partai, yang sedang menyiarkan tujuan dakwah dengan missi suci bersih nan putih. So harus, harus dan harus dilawan

Setiap suku kata, disambut dng iringan kompak koor AllahuAkbar, pasukan setianya. Nada makin tinggi, dan semangat semakin menggebu, apalagi setelah sudut mata Matta melirik dan meyaksikan uraian air mata dan senggukan tangisan. Semangatnya makin menggila………. Ruaar biasa

Peristiwa ditangkapnya ex presiden, telah membangunkan macan tidur. Ingat apa yang kita baca setelah selesai sholat ? Ishtighfar… Sodara-sodara.. Dus untuk membangun kekuatan merebut posisi 3 besar. Marilah kita lakukan ishtighar nasional…………………

Pidato teatikral yang disaksikan oleh seluruh pemirsa TV di negara penuh korupsi ini, tidak perlu menunggu terlalu lama, panen buahpun segera bisa dipetik. Badai komentar, cibiran, joke, bullying, pembelaan bisa kita nikmati sembari makan singkong dan menyeruput kopi pahit.

Apa yang ditampilkan oleh M. Anis Matta, dengan mata yang memerah dan menahan tangis itu, bagi saya, merupakan sajian yang menyegarkan sekaligus menghasilan rasa “kasihan”.

Bagaimana tidak kasihan ? Lucu membayangkan sang Sekjen-15 tahun, menampilkan aksi sinetron pembelaan kepada tersangka MALING (baca=koruptor) Sapi , yang baru saja membeli rumah mewah seharga 5,5 milyar (tribunnews.com).

Semestinya Matta dan para baju putih yang berurai airmata,……sudah membuka internet…. googling… ketik Yusuf Supendi,  dialah sang konspirator yang telah lebih satu tahun, berteriak dan ber-ishtighfar, dialah sang pembangun macan tidur sejati buat PKS.

Oiya, sekedar intermezo, kenapa PKS tidak belajar dari Ruhut “Sang Poltak” ? Dengan segala atribut yang disandang, dialah sebenarnya cermin jernih dari seorang “politikus” di Indonesia. Politikus sebagai pelaksana poliitik  alat perjuangan:  demi rakyat, demi keadilan, demi kesejahteraan rakya, demi hukum, demi ideologi dan ajaran “normatif” ideal ilmu politik di Indonesia itu, sebenarnya sudah musnah binasa, tidak ada dan sekedar utopia.

Ruhut, sedang memainkankan sinetron satire, dengan menanggalkan praktek SEOLAH-OLAH (baca= pencitraan) seorang politikus. Dia telah imun dan menampilkan “apa adanya”, seakan-akan dia sedang berujar  “Politikus Indonesia ya seperti yang sedang saya mainkan ini”.

Paralel  sebagai sebuah cermin, Ruhut justru tidak ber teori konspirasi, kala sang BedUm Nazaruddin melepar tuduhan kepada Anas Urbaningrumlah ( baca= Presiden Partai Demokrat). Baru dituduh, dan belum ditangkap KPK. Dengan gentle, gagah tidak bermain SEOLAH-OLAH (buat pencitraan partai)….. dia mengamini dan berkali kali mempersilahkan Presiden (baca=Ketua Umum Partai Demokrat) untuk mundur dengan legowo.

Dari perspektip diatas, ternyata M.Anis Matta, levelnya masih belum setara dan jauh dibawah  sang poltak. Sang presiden masih saja memainkan citra “seolah-oleh” partai mempunyai tujuan mulia. Bahkan setelah seruan ishtighfar nasional itu, kita tunggu tidak muncul satu katapun minta maaf/ampun (ishtighfar) atas ditangkap sang presiden oleh KPK. Lebih lucu lagi, malamnya kala dikejar siapa dibalik konspirasi anasir jahat oleh TVOne dan MetroTV, Matta masih memainkan politik “seolah olah” lagi.

Bekasi, 3022013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 9 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 10 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 8 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 9 jam lalu

Rinni Wulandari Lebih Melesat… …

Raynadi Salam | 9 jam lalu

Kecardasan Tradisional …

Ihya Ulumuddin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: