Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Bung Kusansejarah

Indonesia Tanah Air Beta

‘Konspirasi’ Jero Wacik-Saiful Mujani

OPINI | 03 February 2013 | 23:41 Dibaca: 1962   Komentar: 0   1

Tiada angin, tiada hujan. Tiba-tiba saja peneliti senior Saiful Mujadi dan Menteri ESDM, Jero Wacik “berbalas pantun.” Di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melansir hasil survei bulan Desember 2012.

Hasilnya mengejutkan. Melalui anak buahnya, Direktur Riset Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Djayadi Hanan yang baru pulang sekolah di Ohio, Amerika Serikat, SMRC melansir bahwa hasil survei terbaru yang dilakukan terhadap 1.220 responden pada Desember 2012, terdapat adanya penurunan tingkat kepuasan publik terhadap partai.

“Ada dua partai yang mengalami penurunan tajam, yaitu Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS),” kata Jayadi Hanan saat merilis hasil survei, hari Minggu (3/2).

Tingkat kepuasan Partai Demokrat meluncur ke angka 8,6 persen menempati peringkat ketiga setelah PDI Perjuangan dan Golkar. Angka Golkar sebesar 21,3 persen dan PDI Perjuangan sebesar 18,2 persen.

Yang menarik, SMRC juga merilis hasil survei terkait kinerja pemerintahan SBY. Disebutkan bahwa terjadi kenaikan pandangan positif masyarakat terhadap pemerintahan SBY.

“Ada 51,6 persen masyarakat puas terhadap pemerintahan SBY,” kata Jayadi Hanan.

Kira-kira berselisih 2-3 jam, Sekretaris Majelis Tinggi Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Jero Wacik yang juga Menteri ESDM, mengumpulkan wartawan di rumah pribadinya, di Bintaro, Tangerang Selatan.

Kepada wartawan, Jero Wacik mengatakan bahwa beberapa tokoh senior di Partai Demokrat menganalisis bahwa penyebab utama perkiraan jebloknya suara adalah lantaran sejumlah kasus korupsi yang menjerat tokoh-tokoh partai ini.

Jero Wacik, meminta Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, SBY untuk turun tangan segera.

“Hasil survei partai terus turun dari waktu ke waktu. Kami tak ingin akhirnya benar-benar jeblok. Sudah saatnya Ketua Dewan Pembina turun tangan,” kata Jero Wacik.

Kemudian, dengan gamblang Jero Wacik menyebutkan bahwa turunnya perolehan suara Partai Demokrat disebabkan karena pemberitaan mengenai Ketua Umumnya, Anas Urbaningrum. “Yang juga menjadi bulan-bulanan pers, saya mesti terbuka, ya, ketua umum kami, Pak Anas,” kata Jero Wacik kepada media.

Selanjutnya, Jero Wacik membangun alasan ini-itu, yang intinya dia meminta Anas Urbaningrum mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Sungguh, sinetron politik yang kasar dan dangkal…

Sudah bukan rahasia, Saiful Mujani adalah peneliti yang telah bekerja untuk Susilo Bambang Yudhoyono, baik saat Pilpres 2004 atau 2009. Juga untuk survei terkait kinerja pemerintahan.

Pertanyaan mendasar yang tidak dilansir oleh Jayadi, anak buah Saiful Mujani adalah:”Bagaimana merumuskan metodologi bahwa Partai Demokrat saat ini tidak lagi sinonim dengan figur SBY?”

Atau:”Sudah adakah kuesioner tentang persepsi publik yang bisa menjelaskan bagaimana Partai Demokrat bukan bagian dari pemerintahan SBY saat ini?”

Masih ada beberapa pertanyaan untuk menguji dua premis yang kontradiksi, yaitu bagaimana bisa menjelaskan Partai Demokrat turun popularitasnya, sementara kinerja SBY naik popularitasnya?

Ini sudah anomali?

Sulit melupakan bahwa Saiful Mujani, yang waktu itu masih di LSI (Lembaga) melansir data bahwa faktor kemenangan Partai Demokrat adalah figur SBY. Melejitnya suara Demokrat di parlemen, lebih pada kekuatan figur SBY.

Karenanya, sulit juga untuk tidak menyebut bahwa aksi “berbalas-pantun” antara SMRC dan Jero Wacik hari ini bukan suatu konspirasi. Untuk apa?

Jawabnya jelas: menggulingkan kepemimpinan yang sah dan konstitusional Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, yang terpilih dalam Kongres di Bandung.

Jika hari ini “konspirasi” menjadi kata yang ajaib, karena adanya kasus penangkapan elit PKS, maka di sekitar kekuasaan Istana pun, sudah mulai berkembang pula teori “konspirasi.”

Jero Wacik, dengan jabatannya sebagai Menteri dari Partai Demokrat, dan Saiful Mujani yang peneliti, secara gamblang telah menjelaskan pada publik bahwa “kudeta inkonstitusional” tengah dipersiapkan.

Sangat gamblang juga untuk menebak, siapa dalang di balik orang-orang ini.

Alasan bahwa Partai Demokrat telah disandera oleh pemberitaan karena kasus-kasus belakangan ini, sungguh bukan penjelasan seorang negarawan, apalagi intelektual yang (katanya) independen.

Pertunjukan dan prilaku politik yang sangat tidak elok, dan sangat tidak santun. Apalagi, dipertontonkan saat Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, yang juga Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, sedang tidak di Indonesia.

Kecuali, KA.WANBIN memang maunya begitu?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melongok Dapur Produksi Pesawat Boeing …

Bonekpalsu | | 20 December 2014 | 07:30

Merenungkan Sungai dalam Mimpi Poros Maritim …

Subronto Aji | | 20 December 2014 | 09:46

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46

Salah Penggunaan, Bubuk Protein Potensi …

Novia Cristi | | 20 December 2014 | 07:13

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 4 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 5 jam lalu

Hebat, Pemerintah Sanggup Beli Lumpur …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Mau Lihat Orang Jepang Antri Di Pom Bensin? …

Weedy Koshino | 12 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: