Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Syaripudin Zuhri

Saya senang bersahabat dan suka perdamaian. Moto hidup :" Jika kau mati tak meninggalkan apa-apa, selengkapnya

PKS Tetap Partai Kader

OPINI | 02 February 2013 | 12:56 Dibaca: 623   Komentar: 0   2

1359784036651081668

Apakah PKS akan tetap berkibar dan tetap menjadi partai pilihan rakyat? Terlepas dari kasus-kasus, yang namanya perjuangan tak boleh berhenti dan tak boleh mati. Ilustrasi: blogspot.com

Pertarungan politik sudah dimulai, “perang pemanasan” menuju Pemilu 2014 sudah berlangsung! Dan korban pertamanya PKS! Ya PKS menjadi korban “perang” pertama  di awal tahun 2013, penangkapan Lutfi Hasan Ishaaq( LHI)  oleh KPK jelas dan begitu nyata, seperti ada “sesuatu” atau semacam “pesanan”, mengapa tidak? Coba bandingkan dengan ketua Partai Demokrat yang berkali-kali disebut dalam sidang pengadilan, dalam kasus Nazarudin,  sampai saat ini tetap “lenggang kangkung” tak tersentuh oleh KPK, jangankan menjadi terdakwa, menjadi saksipun tidak! Ada apa ini?

Politik memang membuat pikiran berkerut, carut marutnya partai politik semakin memperkeruh suasana, dan pertarungan menuju Pemilu legislatif dan Pemilu capres 2014 sudah mulai, genderang”perang”  sudah ditabuh. Partai-partai yang bermasalah sudah mulai ambil ancang-ancang untuk “cuci piring” dan dari sepuluh partai peserta Pemilu 2014 nanti boleh dibilang banyak yang bermasalah, jangan-jangan suara “golput” akan mengalahkan suara resmi nanti , wah ini bahaya bagi demokrasi di Indonesia.

Mengapa? Karena rakyat yang semakin cerdas tak lagi percaya pada partai politik, sedangkan DPR sebagai lembaga tinggi negara yang bertugas membuat UU harus tetap di isi oleh anggotanya, dengan fraksi-fraksi yang juga harus di isi. Bila partai-partai isinya orang-orang yang sudah menghalalkan segala cara untuk duduk di kursi DPR, maka yang akan terjadi “jual beli” pasal-pasal dalam UU, wah ini benar-benar bahaya, karena bila RUU sudah menjadi UU, sedangkan UUnya hasil “jual beli” maka pasal-pasal UU itu bukannya untuk kesejahteraan rakyat, tapi mengutungkan siapa yang “membeli’ pasal tersebut.

Partai politik memang dibentuk untuk menuju kekuasaan, orang berpolitik juga karena memang untuk berkuasa, kalau niatnya berkuasa untuk membela kepentingan rakyat, ini yang bagus! Tapi bila berkuasa untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya saja, wah-wah… rakyat dapat apa? Jangan-jangan rakyat hanya menjadi”sapi perah” dan ujung-ujungnya, partai apapun yang menang, rakyat tetap saja miskin! Ini tak boleh terjadi, rakyat harus dibela, harus dirubah nasibnya agar sejahtera.

Lalu partai mana yang akan dipilih rakyat? Nah ini dia masalahnya, Partai Demokrat bisa gembos dengan kasus-kasus yang menjerat kadernya, sekarang PKS bisa saja benar-benar gembos, karena dengan ditangkapnya LHI orang puncak di PKS jelas ini sebuah”pesan” untuk tidak memilih PKS, entah siapa yang pesan, tapi bila dilihat cara penangkapannya, terlihat sekali ’sesuatu” itu, karena yang dituduhkan suap 1 “hanya”milyar langsung ditangkap, walau itu dikatakan uang muka. Coba bandingkan dengan yang korupsi  puluhan milyar bahkan trilyunan sampai saat ini tak tersentuh KPK, ada apa ini?

Lagi-lagi ini “sinyal” pertarungan politik menuju 2014, partai apa mendapat apa? Siapa yang mendapat keuntungan dari ditangkapnya LHI? Yang jelas Anis Mata sudah dapat keuntungan, karena kini presiden PKS ada ditangannya! Dengan ditangkapnya LHI yang mendapat keuntungan pertama kali adalah Anis Mata, tidak dalam hitungan mingguan, bulanan atau tahunan, hanya dalam hitungan hari! Bayangkan… hanya dalam hitungan hari seorang presiden/ketua  sebuah partai bisa diganti, begitu cepat, lebih cepat dari titipan kilat! Ada apa ini? Padahal LHI belum dinyatakan bersalah oleh pengadilan, baru ditangkap, belum diadili!

Jangan lupa, yang dicalonkan menjadi capres biasanya atau kebanyakan  adalah para ketua partai, partai manapun di Indonesia! Belum lepas dari ingatan kita pertarunagn di jajaran elit di Partai Nasdem, ketika dewan pembina ingin menjadi ketua partai, dengan segala cara jadilah Surya Paloh menjadi Partai Nasdem. Coba lihat sekarang di PKS, dengan “tangan KPK”,  Anis Mata yang menjadi sekjen PKS berkali-kali, akhirnya jadi Presiden PKS dalam hitungan hari setelah LHI ditangkap, luar biasa! Loh kenapa tidak dipilih kembali Hidayat Nur Wahid (HNW)?

Aha… rupanya di PKS juga mikir, bagaimana mau pilih kembali HNW menjadi presiden PKS, kalau dalam pertarungan lokal saja , pada Pemilukada DKI tahun lalu,  HNW KO dan menjadi pasangan “buntut”! HNW sudah tak layak jual, karena kasus-kasus yang menjerat pejabat-pejebat teras di PKS. Padahal diawal pendiriannya PKS benar-benar partai yang menjadi alternatif pilihan yang sangat bagus. Namun yang terjadi sesudahnya… ya ampun para pendukungnya pun menjadi malu. Untungnya PKS adalah partai kader, tidak tergantung pada tokoh-tokohnya, siapapun pimpinan puncaknya, kader PKS tetap berjalan dan tetap solid!

PKS memang partai kader, tokoh-tokoh PKS yang terjerat kasus, boleh minggir, silahkan ditangkap! Dan itu bagus bagi pembersihan PKS dari tokoh-tokoh atau pejabat PKS yang korup! PKS sebagai partai kader harus terua maju dan tetap eksis, perjalanan masih panjang, tokoh-tokoh yang busuk, silahkan dikandangkan dan dipecat dari partai! Tapi perjuangan PKS tak boleh berhenti, PKS harus tetap jalan dan menjaga amanah, sebagai partai kader, patah tumbuh hilang berganti.

Akankah dalam pemilu 2014 nanti PKS bisa gembos, bisa ya, bisa tidak. Iya gembos,  kalau pejabat terasnya keluar dari garis-garis yang sudah diamanahkan, tapi akan tetap eksis bahkan bisa maju kalau pejabat terasnya tetap berjalan di rel yang lurus, rel yang sudah diamanahkan dalam garis-garis perjuangan. PKS sebagai partai kader dan partai dakwah, tak boleh berhenti untuk berjuang. Tokoh-tokohnya boleh berganti, tokoh-tokoh yang busuk, boleh ditangkap, tapi perjuangan tak boleh berhenti!

PKS sebagai partai kader dengan bendera putihnya harus tetap berkibar, bendera putih harus terus berkibar dan tetap melakukan demo bila ada kemungkaran. PKS sebagai partai dakwa memang banyak musuhnya, maka bila ada celah sedikitpun, akan dimanfaatkan untuk menghancurkan PKS. Ibarat pakain putih, bila ada setitik kotoran yang melekat, akan segera terlihat! Itu memang resiko yang harus ditanggung oleh PKS sebagai partai dakwah. Dakwah tak boleh berhenti, perjuangan tak boleh mati!

LHI boleh ditangkap, tapi PKS tak boleh mundur! PKS Harus terus menerus berbenah diri dan terus menerus membentuk kader-kader yang militan dalam perjuangan. Musuh ada di mana-mana, tapi bukan halangan atau rintangan untuk terus berjuang, berjuangan dan berjuang! Tokoh-tokoh PKS yang busuk memang harus segera dibersihkan. Jari-jari yang sudah busuk memang harus segera  diamputasi agar anggota tubuh yang lain tidak ikut membusuk, itu hukum alam. Lalu bagaimana kalau semuanya busuk? Ah rasanya tak mungkin, karena tokoh-tokoh yang baik dan bersih dari PKS pun tak kurang-kurangnya.

Ya sebagaimana manusia, tetap saja dalam partai ada yang baik dan ada yang buruk. Namun sebagaimana diketahui berita buruk adalah good news! Itu jelas santapan empuk untuk para kuli tinta. Namun berita baik, biasanya bad news, tak ditulis dan tak menjadi perhatian. Tapi lagi-lagi tetap harus mewaspadai apa yang ada dibalik berita! Karena setiap berita punya misi, punya tujuan. Apa lagi berita tetang politik, ini mau tak mau menjadi harus lebih waspada, siapa menulis apa, dan yang namanya berita, tetap harus dilihat dengan kacamata kritis.

Apakah PKS akan mundur suaranya di tahun 2014 mendatang? Apakah rakyat tak percaya lagi pada PKS? Ini pertanyaan yang susah-susah gampang untuk di jawab. Kalau melihat dari hasil beberapa Pilkada, ini memang tanda-tanda kemunduran PKS, atau memang ini jalannya sejarah. Bahwa sebuah partai bisa naik dan bisa turun, bahkan bisa hilang! Itu hukum alam, bila tak lagi percaya rakyat, partai itu akan lenyap dengan sendirinya, untungnya PKS tak membawa nama Islam! PKS bukan partai Islam, ini partai terbuka dan itu sudah dinyatakan tahun lalu, rupanya PKS pun takut membawa Islam sebagai bendera, dan nasibnya telah “dimakan” oleh ketakutan itu!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 14 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 15 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 16 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 16 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: