Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Adie Sachs

I'm Smart and Handsome and Happy and Succesfull… AMIN. #Warning: zoom-in PP dapat membuat anda selengkapnya

LHI Adalah Tumbal PKS Sendiri

OPINI | 02 February 2013 | 05:26 Dibaca: 3915   Komentar: 54   3

Intrik, rekayasa, plot, dan hipotesa adalah politik. Setidaknya itulah  yang bagian dasar yang paling melekat di dunia yang tidak mengenal kawan abadi itu. Kekuasaan dan pengkhianatan hanya bunga yang muncul pada setiap musim tertentu, walaupun lebih kadangkala muncul secara intens dan vulgar tanpa rasa malu.

Presiden PKS tertunjuk. Anis Matta/Kompas.com

Presiden PKS tertunjuk. Anis Matta/Kompas.com

Berbagai dugaan muncul dalam kasus yang menimpa pelaku politik terakhir. Tapi bagi mereka (kita) yang berada diluar pergulatan politik saat ini, hipotesa adalah yang paling relevan ketika kebenaran selalu diragukan, muncul sesuai keinginan sang waktu.

Menyusul ditetapkannya mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq, sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena terlibat dalam kasus suap impor daging sapi, terlalu naif jika kita hanya mengikuti alur cerita dari mereka (PKS, Pengamat terkenal dan Media arus utama) saja.

Walaupun tidak diragukan, para pembaca, pemirsa dan pendengar di rumah masing masing tentu punya dugaan dan hipotesa independen tersendiri. Kebanyakan pandangan “pengamat rumahan” (Kompasianer, misalnya) justru lebih dapat diterima dan cenderung lebih mendekati kebenaran.

Media-media menyampaikan berita bahwa Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPR Hidayat Nur Wahid mengaku pihaknya merasa terzalimi oleh pihak-pihak tertentu atas apa yang terjadi dalam internal partainya.

Dengan pasti HNW menuding ada konspirasi yang ingin menjatuhkan PKS, sesuai pernyataan beliau  dalam konferensi pers penetapan presiden partai di Kantor DPP PKS, Jakarta, Jumat (1/2).

Selain itu Hidayat juga menilai ada pihak-pihak yang ingin menyudutkan PKS sebagai salah satu partai besar di Indonesia. Partai besar mungkin dapat disematkan pada PKS dengan asumsi PKS ini semakin lama, grafiknya semakin membaik dan PKS sudah menargetkan akan meraih tiga besar dalam Pemilu 2014.

Walaupun diragukan mengingat kekalahan telak PKS dalam berbagai Pilkada, terutama Pilkada DKI yang masih membekas diingatan semua orang.

PKS juga menilai ada campur tangan asing pada kasus yang menimpa mantan Presiden mereka dan pastinya mereka menganggap Kasus LHI adalah serangan terbuka bagi partai itu.

=====

Dari beberapa pernyataan di media oleh petinggi PKS, Pengacara LHI termasuk Menteri Pertanian, Suswono, yang berpura pura kebingungan dan pidato politik presiden PKS yang baru, Anis Matta, sebenarnya mudah menilai kemana PKS akan menggiring kasus mantan presiden mereka itu.

Benar,

Menghadapi pemilu yang semakin dekat (walaupun masih setahun lagi), PKS seperti kehabisan ide mengangkat reputasi mereka sebagai partai yang bersih dan berprinsip. Klaim semakin besar adalah pembohongan pada PKS sendiri karena barometter meraka hanya pemilu 2004 dan 2009. Sementara sepak terjang mereka sejak 2009 dan berkoalisi dengan Demokrat tidak mendapat simpati yang baik, cenderung buruk.

PKS butuh hal yang luar biasa untuk mengangkat nama baik mereka yang bermuka dua - Berazaskan agama tapi terkesan korup (kasus DPID yang membawa nama Anis Matta), Berkoalisi dengan penguasa tapi sering menusuk komplotannya sendiri - dikalangan calon pemilih yang semakin menginggalkan partai itu.

PKS bisa saja mengorbankan ketua partai (presiden) mereka demi menggiring opini bahwa mereka adalah partai yang terdzolimi. Rakyat Indonesia yang melankolis cenderung mudah mengiba sebagian masih mudah dibohongi dengan cerita yang menarik, TERDZOLIMI.

Ini senjata yang mudah digunakan meraih simpati, mendulang suara dan memenangkan hasrat.

Dengan tuduhan “ada yang ingin” menyudutkan dan melakukan konspirasi dalam setiap kesempatan para petinggi partai itu di hadapan media, termasuk berlindung dibalik “TAKBIR” dan “Nama ALLAH”, PKS jelas jelas sedang menggiring opini sebagai yang di - dzolimi.

Tanda tanda keruntuhan PKS memang sudah terlihat baik melalui obrolan ringan di media sosial Internet maupun rekam jejak mereka di DPR, Koalisi maupun beberapa Pilkada yang terpublikasi.

Hanya suatu yang luar biasa yang “mungkin” bisa menyelamatkan PKS, yaitu dengan pengorbanan. Dan pengorbanan butuh “tumbal” dan yang paling spektakuler sebagai tumbal adalah pucuk pimpinan, Presiden Partai.

Dengan menjadikan presiden partai sebagai tumbal politik, maka mudah menjual opini sebagai Yang Terzalimi. Terlepas dari terbukti atau tidak LHI sebagai koruptor.

Ingat, PKS  partai yang dihuni beberapa politisi yang cerdas, dan orang cerdas memperhitungkan untung rugi sebuah keputusan. Sementara itu, perlu diingat pula, “kemunduran” PKS sejak pemilu 2009 adalah masa kepemimpinan LHI, sehingga ada kemungkinan kader PKS sendiri tidak mempercayai presiden mereka. Tidak rugi bagi PKS menyingkirkan seorang LHI, apapun caranya selama itu tidak dengan “kudeta” ala MUNAS.

Kemunduran yang dimaksud setidaknya menurut beberapa survey dan belum terbukti jika ukurannya adalah pemilu 2014.

Kita bicara politik dan politik itu seperti paragraf pertama tulisan ini, terutama rekayasa dan hipotesa. Adakah kita sudah terpancing dan termakan kondisi ‘terzalimi’ ala PKS? terlepas dari tindakan KPK yang patut diapresiasi sekaligus dipertanyakan.

Pembaca yang budiman,

Anda juga berhak menyimpulkan dan membuat hitungan (hipotesa) politik sendiri, kita tunggu opini dan buah pikiran anda.

Salam,

.

.

=SachsTM=

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Kapal Feri Karam, 300-an Siswa SMA Hilang …

Mas Wahyu | | 17 April 2014 | 05:31

Tawuran Pasca-UN, Katarsis Kebablasan …

Giri Lumakto | | 17 April 2014 | 09:09

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 4 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 5 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 5 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: