Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Mahaji Noesa

DEMOs. Rakyat yang bebas dan merdeka

Kubu IA Tuntut Hasil Pilgub Sulsel 2013 ke MK

REP | 02 February 2013 | 21:10 Dibaca: 1057   Komentar: 0   1

1359813799691921308

Tampak Jl. H. Bau Makassar lokasi Posko Sayang hingga Sabtu (2/2/2013) masih diblokade petugas keamanan/Ft: Mahaji Noesa

Dua hari setelah KPUD Sulsel menetapkan Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang (Sayang) sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel terpilih untuk periode 2013 – 2018, tim pasangan Ilham Arief Sirajuddin dan Azis Qahhar Mudzakkar (IA) menyatakan akan menggugat hasil Pilgub Sulsel 2013 tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Rencana menggugat hasil pelaksanaan Pilgub Sulsel 2013 tersebut disampaikan langsung oleh Ilham Arief Sirajuddin yang walikota Makassar tersebut dalam acara jumpa pers, Sabtu (2/2) di Posko IA, Jl. Gunung Batu Putih, Makassar.

Alasannya, antara lain, menurut Juru Bicara Tim IA, Selle KS Dalle, pihaknya telah mengumpulkan bukti dan data pada penyelenggaraan Pilgub Sulsel 2013 terjadi pelanggaran yang sistematis, terstruktur dan massif melibatkan struktur pemerintahan dan teknis penyelenggaraan.

Justru permohonan ke MK, katanya, dalam rangka membongkar praktik-praktik kecurangan dan kejahatan demokrasi yang tidak bisa dibiarkan begitu saja merekayasa suara rakyat.

Dalam Rapat Pleno Terbuka KPUD Sulsel pada 31 Januari 2013 di Hotel Singgasana Makassar, pasangan Sayang (No.Urut 2) sebagai pemenang Pilgub Sulsel 2013 dengan perolehan 2.251.407 suara atau 52,42 persen dari total suara sah yang berjumlah 4.294.960 suara. Berikutnya pasangan IA memperoleh 1.785.580 suara (41,57 persen), dan pasangan Andi Rudiyanto Asapa – Andi Nawir (Garuda-Na) memperoleh 257.973 suara (6,01 persen). Pasangan Sayang ditetapkan sebagai Gubenur dan Wakil Gubernur Sulsel terpilih untuk periode 2013 – 2018.

Ketua KPUD Sulsel, Jayadi Nas kepada pers di Makassar mengatakan, hak kandidat untuk melakukan gugatan hasil Pilgub Sulsel 2013 ke MK. Jika ada gugatan pihaknya akan segera siapkan pengacara sebagai kuasa hukum KPUD Sulsel. Terhitung setelah penetapan hasil Pilgub Sulsel 2013, KPUD Sulsel memberikan tenggang waktu selama tiga hari bagi para kandidat yang tidak puas untuk memasukkan gugatannya ke MK.

Pernyataan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla sebelum mempertemukan kandidat Syahrul Yasin Limpo dan Ilham Arief Sirajudddin usai Jumat (1/2) di kediamaannya Jl. Haji Bau, Makassar, bahwa pasangan IA tidak akan mengguagat hasil Pilkada Sulsel 2013, tentu akan ditanggapi beragam oleh banyak pihak dengan adanya gugatan pihak IA ke MK tersebut.

13598140951600959892

Pernyataan terbuka dari Ang Kawa/Ft: Mahaji Noesa

Cerita hasil Pilkada Sulsel 2013 tak hanya akan berlanjut ke MK, akan tetapi juga masih menyisakan sejumlah bengkalai yang meminta perhatian untuk diselesaikan. Seorang bupati di Sulsel rencananya akan diperiksa oleh pihak Kepolisian Daerah Sulselbar sehubungan adanya tuduhan tindakan pidana sekaligus pelanggaran HAM dalam proses pelaksanaan Pilgub Sulsel 2013. Termasuk pengusutan terhadap aksi kelompok massa melakukan pengrusakan sejumlah kendaraan dan toko, pembakaran motor, serta korban terkena benda tajam di Makassar usai dilakukan penetapan hasil Pilgub Sulsel 2013, pada 31 Januari 2013.

Selain itu sebagian warga kota Makassar dikejutkan dengan adanya 4 butir pernyataan dari Ang Kawa, Ketua Kerukunan Keluarga Tionghoa Bugis-Makassar yang dimuat sebuah surat kabar harian terbitan kota Makassar, 1 Pebruari 2013. Pernyataan yang bernada kemarahan tersebut, antara lain, menyatakan: ‘’ Perlu masyarakat maklum bahwa sebelum berlangsung Pilkada Gubernur tersiar issu ada pernyataan dalam forum maupun sms yang mencederai atau merugikan kepada salah satu kandidat yang dilakukan oknum atas nama ‘’tokoh masyarakat Tionghoa’’ di sini perlu kami koreksi kalau itu semata-mata perbuatan pribadi yang bersangkutan tidak mewakili seluruh etnis Tionghoa di Makassar.”

Menariknya, dalam butir pernyataan terbuka tersebut, disebutkan jika 13 yayasan tidak lagi mewakili etnis Tionghoa karena banyak keputusan yang punya kepentingan pribadi. Kepada pers dihimbau dalam pemberitaan tidak lagi memakai kata ‘’tokoh masyarakat Tionghoa’’ karena dalam kenyataan belum ada yang patut menjadi tokoh.

Pernyataan Ang Kawa mensinyalkan jika juga terjadi ketidakharmonisan dalam kalangan etnis Tionghoa di kota Makassar sehubungan dengan pelaksanaan Pilgub Sulsel 2013. Hingga Sabtu (2/2) polisi Brimob dibantu TNI masih memblokade Jl. Haji Bau tempat Posko kandidat pasangan Sayang, serta di Jl. Batu Putih, Posko IA

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Manusia Api …

Nanang Diyanto | | 19 September 2014 | 17:32

“Kita Nikah Yuk” Ternyata …

Samandayu | | 19 September 2014 | 08:02

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Seram tapi Keren, Makam Belanda di Kebun …

Mawan Sidarta | | 19 September 2014 | 11:04

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 17 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Ini Dia ‘God Of Gamblers’ Dunia …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 7 jam lalu

Sudut Korner Senja Pelipur Lara …

Ishadi Ishak | 7 jam lalu

Rupiah Dipermainkan? …

Heno Bharata | 7 jam lalu

“Evan Dimas dan Paolo Sitanggang di Atas …

Leonardi | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: