Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Hedonisme Anis Matta Presiden PKS, Tuduhan Tak Berdasar

OPINI | 02 February 2013 | 20:54 Dibaca: 5864   Komentar: 64   13

Kejam nian publik menyerang Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Setelah Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dicokok KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dibombardir dengan tuduhan korupsi daging sapi mentah yang juga melibatkan sinyalemen gratifikasi seks Maharani, kini Presiden Anis Matta yang baru dituduh hedonis. Dia dianggap tak mencerminkan napas dakwah PKS. Suatu tuduhan yang menyakitkan bagi PKS tentunya. Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya? Mari kita tengok dari sudut kemanusiaan dan juga dari perspektif PKS sebagai partai dakwah.

Iri dan dengki melihat kehidupan hedonis bisa dilontarkan siapa saja dan terhadap siapa saja. Anis Matta oleh kalangan tua pendiri dan sesepuh PK(S) dinilai melakukan kehidupan hedonis. Hedonisme bukanlah suatu hal yang dilarang oleh agama. Sepanjang kita mampu membeli barang dan dari hasil usaha halal bukan menjadi masalah. Lantas apakah sebagai Presiden PKS kehidupan pribadinya harus sama dengan cita-cita dakwah dan PKS? Bagaimana kita dan kader harus melihat? Publik dan kader seharusnya mampu memisahkan urusan pribadi dan urusan PKS. Tak ada hubungannya antara hedonisme, kemewahan dengan sikap professional mengelola partai.

Anis Matta yang sering tampil mewah dan wah dengan jam tangan Rolex atau mobil mewah tidaklah terlalu berlebih-lebihan. Mengingat Anis Matta sebagai anggota DPR, Sekjen PKS selama sepuluh tahun dengan gaji dari sebagai anggota DPR yang mencapai puluhan juta rupiah, untuk membeli mobil, hape dan aneka gemerlap kehidupan hanya dengan menjentikkan jari. Harga jam tangan Rolex yang seratusan juta rupiah yang menjadi simbol keberhasilan duniawi manusia juga tidaklah sulit untuk didapatkan oleh siapapun anggota DPR termasuk Anis Matta.

Apakah sebagai Sekjen PKS harus berlaku dan bersikap zuhud, kuno, sederhana dan tidak trendi? Sebagai petinggi PKS, para kader PKS dan simpatisan seharusnya bangga dan tentu bangga jika pemimpin mereka tampil indah, bersih, peduli dan berwibawa. Salah satu cara agar terpandang di kalangan warga dan simpatisan PKS yang sangat menjunjung tinggi sikap hidup penuh kesederhanaan, tawakkal, menghindari perbuatan ibadah riya, takwa dan taklid buta, maka sudah selayaknya Sekjen PKS tampil ke muka dengan perbedaan.

Anis Matta harus memiliki tampilan yang beda agar menjadi penyeimbang para kader PKS yang low-profile, rendah hati dan penuh keimanan. Maka tampilan wah dan mewah Anis Matta sesungguhnya untuk mengangkat derajat dan meningkatkan kepercayaan para kader PKS yang terkenal lugu, patuh dan tunduk kepada para pemimpin. Para kader PKS adalah para insan yang dengan bangga menempatkan PKS sebagai partai dakwah dan sikap hidup mereka penuh dengan suasana batin yang sejahtera.

Para kader PKS pun kebanyakan adalah para warga yang memiliki kecerdasan dengan pendidikan yang rata-rata tinggi. Para intelektual muda kelas menengah cenderung ke bawah yang dulu tersingkir dari kehidupan akibat sikap keras mereka pada zaman Soeharto ini juga memiliki kesetiaan yang bernama taklid. Atas dasar ini sebenarnya merupakan modal bagi PKS dan para petingginya untuk bertindak sesuai dengan selera mereka. Para kader PKS adalah orang-orang yang sabar dan sangat bisa memahami diri dan orang lain. Para kader PKS mampu membedakan mana yang baik dan benar bagi diri mereka dan para pemimpin mereka.

Bahkan jika para pemimpin PKS dan orang lain siapapun bersikap dan berlaku hedonis pun para kader PKS akan tetap tidak akan terpengaruh. Bagi mereka itu merupakan cobaan dan ujian keimanan yang harus disikapi dengan bijaksana. Para kader PKS pasti tidak akan iri dan dengki melihat gemerlap, kemewahan dan kehidupan hedonisme selama kemewahan dan kehidupan hedonis itu ditopang oleh usaha yang halal.

Maka sebagai partai dakwah PKS akan tampil seperti semula. Para kader PKS tidak akan terpengaruh oleh kritikan iri dan dengki para kritikus yang tidak menyukai PKS. Pun jika Presiden PKS, Anis Matta dinilai hedonis, itupun karena yang menuduh dan menilai adalah pendiri PKS yang sudah di luar PKS. Juga sebagai partai dakwah, apa yang dilakukan oleh Anis Matta - jika benar dia dianggap hedonis - merupakan cobaan bagi keteguhan hati para kader PKS. Bisa jadi Anis Matta justru berperan pura-pura hedonis untuk melihat mana kader yang setia dan mana yang tidak setia.

Jadi itulah cara pikir positif kita dan para kader PKS dalam melihat Anis Matta. Jangan main tuduh sembarangan karena Anis Matta adalah Presiden PKS yang cerdas dan mampu membedakan mana dan kapan kehidupan hedonis dijalankan dan mana dan kapan harus bersikap sebagai pendakwah, karena PKS sebagai partai dakwah.

Kita harus arif bijaksana menerima dengan legowo dan lapang dada melihat hedonisme siapapun, termasuk Presiden PKS Anis Matta, partai dakwah yang terkenal dengan slogan ‘wani piro dan mahar’. Mengritik sikap hidup hedonis orang lain termasuk Anis Matta adalah tanda iri dan dengki melihat kebahagiaan orang lain. Dan, di kalangan PKS sendiri jika Anis Matta kelihatan hedonis, itu hal yang bisa jadi hanya ‘pura-pura’ atau ‘cobaan’ terhadap ketaatan dan keimanan kader PKS. Publik terkecoh oleh taktik dan langkah politis Anis Matta yang hedonis. Padahal itu hanya pura-pura hedonis Anis Matta sepanjang hayat dikandung badan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 2 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 5 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tontonan Selamat Jalan dan Selamat Datang di …

Ang Tek Khun | 7 jam lalu

Di Riau Sedang Ramai Isu Penculikan …

Iloeng Sitorus | 8 jam lalu

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: