Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Mabrur Al-fath Didi

Political Science at UIN Syarif Hidayatullah. (Political Cyber Observers) . Economic Politic. Psycologhy Politik.

Pengekangan Kebebasan Pers Versi Baru

OPINI | 31 January 2013 | 14:59 Dibaca: 265   Komentar: 0   2

“Kebebasan pers? “apa yang terbayang dalam pikiran kita jika dua kata tersebut saling berdekatan. Pasti banyak yang dapat kita uraikan dari dua kata tersebut. Banyak yang pro dan dan tak sedikit pula yang kontra.

Tapi intinya di negara yang berdemokrasi ini, kebebasan pers merupakan salah satu ciri utama dari terbentuknya demokrasi. Setiap orang boleh menyuarakan pendapatnya sesuka hati asal tanpa rasa takut, asal bertanggungjawab.

Kita memang pernah berada di Era Demokrasi Boneka yang kebebasan pers sangat dikekang dalam prakteknya. Media media dimanfaatkan sedemikian rupa demi melanggengkan kekuasaannya, menutup semua kesalahan, memutar balikan fakta bahkan membuat sejarah palsu. Apa yang ingin disampaikan di publik harus ada izin dahulu jika melanggar mereka bisa saja dihilangkan.

Namun, pasca Era Demokrasi Boneka tersebut jatuh, seakan-akan terjadinya banjir besar yang tidak bisa ditahan akibat tidak kuatnya bendungan melawan arus. Pasca itulah banyak opini dan sejarah baru yang bermunculan di muka publik. Masyarakat yang dahulu hanya didoktrin dengan dongen-dongeng yang belum tentu kebenaranya sampai-sampai mereka sempat tertidur sekarang telah bangun dari tidurnya.

Satu lagi pertanyaan, apakah hari ini kita benar-benar merasakan kebebasan pers yang murni? “belum tentu.” Memang pada saat ini kita bisa mengkritik pemerintah sesuka hati kia demi terciptanya negara yang lebih baik. Tapi di sisi lain tidak hanya itu yang dikatakan kebebasan pers. Kebebasan pers sebenarnya ialah murni ingin menyuarakan pendapat tanpa ada permainan makhluk di atasnya yang memiliki kepentingan tertentu.

Banyak kita lihat media media yang telah tercemar dengan unsur politik dari golongan tertentu. Sehingga wartawan pada saat ini harus memilah apa yang ingin dia suarakan. Jika ia menjelek-jelekan salah satu golongan dari media tersebut, sudah jelas tulisannya tidak akan diterima bahkan ia bisa dikeluarkan. Oleh karena itu banyak wartawan yang benar benar memiliki idealis mengundurkan diri. sudah jelas media tidak terlalu menjadikan ini suatu sorotan penting.

Ternyata kebebasan pers tidak 100% bebas dari kungkungannya. Kita seakan kembali ke era lalu dengan versi yang berbeda. Kita sebagai konsumen, harus benar benar bisa menyaring informasi yang akan kita konsumsi. Jangan sampai salah konsumsi, salah salah kita bisa keracunan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kang Pepih, Hasan Tiro, dan Gerakan Literasi …

Risman Rachman | | 26 April 2015 | 21:16

Di Pantai Mertasari Banyak PSK …

Hadisang | | 26 April 2015 | 15:54

Gebyar Lomba Blog dan Hadiah di Bulan April …

Kompasiana | | 17 April 2015 | 12:34

Hari Minggu dan Surat dari Tuhan …

Andi Wi | | 26 April 2015 | 11:54

Makan Gratis di Thai Alley, Siapa Mau? …

Kompasiana | | 22 April 2015 | 15:49


TRENDING ARTICLES

Mitos Tentang Saudi Arabia …

Mariam Umm | 8 jam lalu

Lakukan Hal Kecil untuk Tunjukkan Cinta yang …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Edan! Tarian Bugil Jadi Pengiring Pemakaman …

Abd. Ghofar Al Amin | 11 jam lalu

Gagasan Tommy Soeharto Ditolak, Ini …

Mbah Mupeang | 12 jam lalu

Kabinet Jokowi: Siapa Saja yang di Resuffle? …

Imam Kodri | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: