Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Lutfi Hasan Presiden PKS dan Katarsis Para Koruptor Dibungkus Iman

OPINI | 31 January 2013 | 11:12 Dibaca: 1979   Komentar: 15   2

Warna PKS yang diselimuti tabir korupsi sebenarnya sudah tampak dengan sikap para elite PKS yang mengedepankan ‘wani piro’ dan mahar politik. Lalu sikap hedonis para petinggi PKS juga sangat luar biasa. Maka ketika puncaknya Lutfi Hasan Ishaaq ditangkap karena mengorupsi impor daging. Lutifi Hasan Ishaaq sebagai orang berpendidikan tinggi memiliki kecerdasan luar biasa. Namun kecerdasan itu bisa membuatnya memanfaatkan kecerdasan sebagai katarsis permasalahan psikologi, keyakinan, dan keimanan.

Tak terkecuali para koruptor pun dengan hati gembira ikut-ikutan bertingkah laku persis seperti manusia beriman lainnya. Bahkan sebelum ditangkap KPK, Lutfi Hasan dengan didampingi para petinggi PKS, Hidayat Nur Wahid, Anis Matta dan lain-lain menyatakan tidak terlibat; namun dalam pernyataannya akan menghormati proses hukum. Sambungan pernyataan itu menunjukkan bahwa dia terlibat.

Para koruptor seperti Lutfi Hasan Ishaaq, Zulkarnain Djabbar memamerkan diri dengan aneka kegiatan sebagai gambaran lahiriah orang beriman kepada tuhan. Pengajian di rumah dan lingkungan rajin dilakukan. Namun upaya menutupi keadaan psikologi dan hati yang sebenarnya tak bertahan lama, maka mereka dicocok KPK.

Iman para koruptor siapapun itu adalah iman yang terpenjara. Mereka memenjarakan diri dalam iman yang sesungguhnya tidak memberikan efek positif apa-apa. Koruptor memiliki karakter pembohong, egois dan tidak punya empati. Iman dalam konteks para koruptor adalah katarsis kehidupan dan upaya pembebasan melawan belenggu yang disebut iman. Iman adalah belenggu kebebasan. Maka untuk menyesuaikan antara iman dan perbuatan yang bertolak belakang itu, para koruptor sedapat mungkin tampil seperti manusia normal.

Koruptor, sebagai ahli bohong akan menampilkan sisi-sisi baik dan manusiawi sebagaimana manusia umumnya. Semua hal termasuk peristiwa hari besar agama dan ibadah, sosialisasi, arisan, rapat, bahkan kematian keluarga semuanya dijadikan sandiwara agar tampak menjadi manusia baik. Mereka menjalani hidup dalam dua dunia: dunia kebohongan dan dunia nyata.

Koruptor pun manusia egois. Sumbangan ke Yayasan Yatim piatu, masjid, gereja, vihara, pura hanyalah kedok bagi perbuatan bejat merampas hak jutaan manusia miskin. Para koruptor sesungguhnya hanya memikirkan diri sendiri dan keluarganya. Contoh Angelina Sondakh bukan hanya menggunakan Zahwa dan Alliyah sebagai pengeduk iba, namun juga sebagai bukti bahwa dia mencintai keluarganya. Bahkan M. Nazaruddin dalam suratnya kepada Susilo Bambang Yudhoyono akan melindungi Partai Demokrat jika Neneng Sri Wahyuni, istri Nazaruddin tidak diperiksa KPK.

Andi Alfian Mallarangeng pun cinta keluarga untuk menutupi kedok buruknya sebagai koruptor. Bahkan demi menjaga nama baik, Andi Mallarangeng dan keluarga berusaha menyeret orang baik-baik seperti Anas Urbaningrum melalui Choel Mallarangeng dan Rizal Mallarangeng. Para koruptor jika sudah terpojok akan mengancam membuka borok teman-teman koruptor lainnya jika ketahuan. Contohnya M. Nazaruddin yang bernyanyi menyeret Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh. Nyanyian Nazaruddin terbukti dan tak mau kalah dengan Nazaruddin, Andi Mallarengeng pun akan menyeret Anas Urbaningrum.

Koruptor yang tidak mau bergaul dalam kelompok Mafia Koruptor pasti akan gampang tertangkap. Contoh koruptor bukan anggota mafia koruptor adalah menteri agama Said Agil Almunawar. Juga menteri sosial Bachtiar Chamsyah.Para koruptor ini berkedok sebagai orang baik-baik bahkan menteri agama. Mereka adalah manusia yang terpenjara iman dan ingin bebas dari tanggung jawab manusia beriman.
Ciri sebagai tukang bohong dan egois dan hanya peduli pada keluarganya nyata pada surat Nazaruddin, tangisan Angelina Sondakh dan perjuangan pembelaan Rizal dan Choel Mallarangeng. Khusus untuk keluarga besar Andi Mallarangeng, tampaknya apa yang menimpa mereka bukan hanya karena mereka bakat sebagai koruptor, namun karena dosa membuat pencitraan untuk SBY. Pencitraan itu kini tengah memakan tuannya.

Jadi, dengan ditangkapnya Lutfi Hasan Ishaaq, maka begitulah bukti tentang tingkah laku koruptor yang terpenjara oleh iman, makanya untuk katarsisnya atau pembebasannya menunjukkan tingkah laku baik-baik dan normal. Walaupun sesungguhnya mereka adalah pembohong dan manusia egois yang tak layak memimpin negara karena sikap yang tak peduli orang lain, apalagi negara. Mereka hanya peduli keluarganya. Maka negara dikhianati oleh para koruptor yang terpenjara dalam iman dan mereka pantas menjadi pengkhianat negara.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Endah Kreco, Kartini dari Keong Sawah …

Junanto Herdiawan | | 21 April 2014 | 07:31

Mempertanyakan Kelayakan Bus Transjakarta …

Frederika Tarigan | | 21 April 2014 | 10:22

Cara Menghadapi Lansia (Jompo) Pemarah …

Mohamad Sholeh | | 21 April 2014 | 00:56

Danau Linow Masih Mempesona …

Tri Lokon | | 21 April 2014 | 07:01

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 2 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 3 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 5 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 6 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: