Back to Kompasiana
Artikel

Politik

M Alinapiah Simbolon

Ayah dari seorang anak bernama DOLIARGA HASANUL ABDILLAH SIMBOLON dan suami dari seorang isteri bernama selengkapnya

Kasus Suap Impor Daging Sapi, Badai Dahsyat Buat PKS

HL | 31 January 2013 | 01:24 Dibaca: 2380   Komentar: 0   0

1359626773776972895

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishak telah ditetapkan sebagai tersangka kasus Suap Impor Daging Sapi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), setelah KPK menangkap tangan dan memeriksa orang dekat Luthfi Hasan Ishak bernamaAhmad Fathonan bersama dua pengusaha dari PT Indoguna Utama yaitu Juard Effend dan Arby Arya Effendi serta satu orang wanita muda yang berstatus mahasiswi bernama Maharani. Barang bukti Rp 1 miliar sudah disita. Dan tak lama setelah ditetapkan sebagai tersangka politikus DPR RI itu langsung diciduk dan ditangkap dari Kantor DPP PKS, dan selanjutnya digelandang plus dijebloskan di tahanan KPK.

Kerlibatan Lufti Hasan Ishak dalah sebuah pukulan berat bagi Partai Keadilan Sejahtera. Tak pelak pula hal itu menjadi sebuah kejutan dengan frekwensi tingkat tinggi buat pengurus dan kader PKS. Seluruh jajaran pimpinan partai yang ber platform Islam tersebut, dipastikan tak berkutik, mendapat dan menerima aib yang justru dibuat sendiri oleh orang nomor satu di partai itu. Buat PKS. Ini ibarat hantaman badai dahsyat sedahsyat badai tsunami, yang dengan sekejap menghancurkan sendi-sendi moral dan image positif partai yang sudah terbangun cukup lama. Yang pasti dalam sekejap pula akan terbangun image buruk terhadap partai tersebut sampai ke tingkat basis.

Lebih ironis, landasan dan prinsip partai yang berorientasi kuat pada ajaran agama Islam itu pun seakan tercabik-cabik, akibat ulah sang bos besar partai tersebut. Nama baik PKS pun tak bisa dipungkiri bakal runtuh seruntuh-runtuhnya hanya karena perbuatan korup satu orang oknum bernama Luthfi Hasan Ishak.

Kalau sebuah partai politik mengalami degradasi karena kesalahan partai atau oknum-oknum partai, tentunya yang malu dan menerima konsekwensinya adalah partai itu sendiri dan oknum partai yang bersangkutan. Namun kalau yang mengalaminya adalah partai yang berlabel Islam seperti yang dialami PKS, tentu biasnya bukan hanya konsekwensi malu dan kehancuran PKS, tapi juga memunculnya rasa malu terutama dari kalangan Islam diluar internal PKS.

PKS yang selama ini merupakan salah satu partai politik yang masuk perhitungan dalam konstelasi politik nasional dan terkenal militansinya serta kerap memperjuangkan aspirasi ummat Islam, ternyata dianggap tak mampu menjaga eksistensi dan nama baiknya sebagai parpol yang berlabel Islam. Cap sebagai partai yang selama ini dianggap relatif bersih, langsung meluntur dan cap tersebut berubah salam sekejap seperti membalikkan telapak tangan.

Memang bukan hanya PKS saja partai Islam yang mengalami badai seperti ini. Namun PKS yang masih dianggap lebih Islami dan lebih militan memperjuangkan aspirasi Islam dibanding parpol Islam lainnya, maka secara moral, nilai buruk dan nilai malunya pun jadi lebih terasa dan dirasakan termasuk oleh kalangan Islam non partisan. Kalau PKS berdalih itu adalah perbuatan oknum, juga tak akan bisa menghadang terpuruknya elektabilitas partai, karena perbuatan tersebut telah menjadi najis berat yang proses penyuciannya tidak hanya sekedar di samak saja.

Terkuaknya Kasus Suap Impor Daging Sapi, yang melibatkan politikus DPR RI yang juga pimpinan tertinggi PKS itu, menyebabkan pintu menjadi sangat terbuka menuju kehancuran PKS, dan pintu itu telah dibuka oleh pimpinan tertinggi PKS sendiri . Ummat Islam yang mayoritas menjadi penghuni negeri ini tentu tidak tak habis pikir menyikapi terjadi kasus yang menjadi badai dahsyat menghantam partai yang dikenal banyak dihuni para ustadz tersebut. Mampukah PKS mempertahankan imagenya sebagai partai Islam, pasca kasus korup yang sedang menerpa partai itu ?

Yang pasti kepercayaan dan respons publik khususnya publik Islam republik ini kepada PKS, drastis mengalami penurunan. Dipastikan pula yang akan terjadi adalah perubahan sikap terhadap PKS. Rasa simpati jadi antipati , dan penilaian positif jadi penilaian negatif . Label sebagai partai munafik pun bakal melekat pada PKS. (***)

Penulis : M Alinapiah Simbolon


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: