Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Jeremias Jena

Anak daerah yang bekerja sebagai guru di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Wanda Hamidah Melanggar Etika?

OPINI | 30 January 2013 | 20:52 Dibaca: 1320   Komentar: 0   6

Menyusul tertangkapnya sekelompok artis yang diduga sedang “berpesta” narkoba di rumah Rafi Ahmad, stasiun MetroTV mengangkat dialog sore tentang etika para wakil rakyat (Rabu, 30 Januari 2013) dengan tema: “Menakar Etika Anggota Dewan”. Mencermati isi dialog yang menghadirkan Siti Zuhro, pengamat politik dari LIPI, sebenarnya mereka mendiskusikan masalah etika atas tindakan Wanda Hamidah yang ikut digiring ke markas BNN di Cawang. Karena mereka mendiskusikan masalah etika, rumusan masalah etisnya kira-kira dapat dirumuskan demikian: “Apakah dibenarkan secara moral jika Wanda Hamida yang adalah seorang ibu dan perempuan berada di rumah seorang laki-laki (yang bukan muhrimnya) di pagi-pagi buta?”

Pertanyaan moral ini saya rumuskan berdasarkan komentar-komentar yang dikemukakan oleh Dr. Siti Zuhro (saya heran kenapa ahli politik kog ngomongin etika ya??. MetroTV pasti salah mengundang nara sumber) yang sebenarnya lebih melihat kehadiran Wanda Hamidah di rumah Rafih Ahmad dari sudut pandang Wanda sebagai seorang ibu. Apa yang ada dibenak Siti Zuhro sebenarnya gampang diurai, yakni bahwa seorang ibu dan perempuan tidak semestinya berada di rumah seorang pria yang bukan muhrimnya, apalagi itu terjadi di jam/waktu yang tidak lazim.

Menurut saya, kalau pun Wanda Hamidah melanggar etika, masalah etika seharusnya bukan seperti yang ditonjolkan oleh Dr. Siti Zuhro di atas, tetapi lebih pada “apakah dibenarkan secara etis jika Wanda Hamidah yang adalah anggota DPRD (Wakil Rakyat), mengetahui adanya penyalahgunaan narkoba dan tidak melaporkan ke pihak berwajib”. Harus diakui, rumusan masalah moral ini pun mengandung kelemahan, karena dibangun di atas asumsi bahwa Wanda sudah mengetahui praktik penyalahgunaan narkoba dan tidak melaporkan. Padahal, kita tidak pernah tahu apakah Wanda memang mengetahuinya. Meskipun demikian, bagi saya, masalah moral kedua jauh lebih relevan didiskusikan karena pelanggaran moral yang dilakukan seorang pejabat publik memiliki pengaruh bagi kehidupan masyarakat.

Demikianlah, jika saya ditanya apakah keberadaan Wanda Hamidah di rumah Rafi Ahmad pada pagi-pagi buta itu melanggar etika atau tidak, saya akan menjawab bahwa itu tidak melanggar etika. Dan kalaupun itu dihubungkan dengan status Wanda Hamidah sebagai perempuan, ibu dan tidak (atau belum) memiliki hubungan tertentu dengan Rafi Ahmad pun apa yang dilakukan oleh Wanda tetap tidak melanggar etika. Mengapa demikian? Praktik atau relasi antara dua orang atau lebih yang terjadi di ruang privat, dilakukan berdasarkan kehendak bebas dan sama-sama saling menguntungkan tanpa merugikan kepentingan publik harus tetap dikategorikan sebagai tindakan privat atau domestik. Tindakan privat tidak bisa diregulasi oleh sebuah aturan atau tatanan moral publik, atas nama prinsip apapun (etika, moralitas keagamaan, dan sebagainya).

Konsekuensinya, mengatakan bahwa Wanda Hamidah melanggar etika – tetapi dengan rujukan pada kehadirannya di pagi buta di rumah Rafi Ahmad – justru tidak tepat. Dalam arti itu, menurut saya, pendapat Dr. Siti Zuhro dalam diskusi di televisi tersebut harus dianggap sebagai tendensius atau malah mengarah kepada fitnah. Apalagi dengan menghubung makna Islami dari nama Wanda Hamidah dengan tindakan atau perbuatannya (maksud Dr. Siti Zuhro sepertinya demikian: namanya sangat islami, seharusnya perilakunya juga islami dong). Sekali lagi, cara berpikir demikian adalah menyesatkan persis ketika dampak dari tindakan tersebut tidak merugikan publik secara langsung.

Itulah salah persepsi yang diperlihatkan seorang pengamat politik yang tiba-tiba menjadi ahli etika. Meskipun demikian, mengatakan bahwa kehadiran Wanda Hamidah di rumah Rafi Ahmad tidak melanggar etika sama sekali tidak berarti bahwa kehadiran itu pantas (patut). Dalam arti itu lalu kita berbicara mengenai patut tidak patutnya sebuah tindakan berdasarkan etiket atau kebiasaan masyarakat. Tentu mengetahui suatu tindakan sebagai tidak patut tetapi “ngotot” melaksanakannya karena siap mengambil berbagai risiko tetap tidak bisa dikategorikan sebagai buruk secara moral. Itulah bentuk tertinggi dari tanggung jawab individu, bahwa dia menginginkan tindakannya sebagai tindakan yang bebas. Bahwa kemudian pamor atau nama baiknya tercemar, itu sudah menjadi konsekuensi dari tindakan yang semua dilakukannya di ruang privat dan yang kemudian merasuk masuk ke ruang publik secara insidentil.

***

Sekarang saya menentukan posisi moral saya. Masalah moral yang saya angkat di atas adalah “apakah dibenarkan secara moral jika Wanda Hamidah yang adalah seorang pejabat publik, mengetahui adanya penyalahgunaan narkoba tetapi tidak melaporkannya?” Dilema moral semacam ini tetap sulit dijawab karena kita belum memiliki informasi yang cukup kuat, apakah memang telah terjadi pembiaran. Kecuali BNN mampu membuktikan bahwa Wanda Hamidah sudah beberapa kali datang ke rumah Rafi Ahmad dan terlibat dalam pesta narkoba. Tetapi ini pun akan dengan mudah dipatahkan oleh penasihat hukum, karena mereka akan mengatakan bahwa kedatangan berkali-kali tidak otomatis berarti mengetahui adanya penyalahgunaan narkoba.

Jika begitu, apakah Wanda Hamida tidak melanggar etika? Mengacu ke dilema moral yang diangkat Dr. Siti Zuhro dalam dialog sore di Televisi, harus dikatakan bahwa Wanda Hamida tidak melanggar etika. Dia hanya menabrak ketidakpatutan perilaku publik yang dampaknya tentu merugikan nama baik dirinya. Sementara terhadap dilema moral yang menjadi posisi saya, Wanda Hamida dapat dianggap melanggar etika jika memang terbukti bahwa dia membiarkan terjadinya penyalahgunaan narkoba. Apakah dengan begitu, kita sebaiknya mencari tahu apakah telah terjadi pembiaran atau tidak supaya bisa memvonis Wanda Hamida sebagai melanggar etika?

Menurut saya, ini tidak perlu dilakukan. Kalaupun Wanda Hamida bersaksi bahwa dia tidak melakukan pembiaran, kita mengandaikan bahwa dia jujur. Kalau pun dia tidak jujur, persepsi publik akan tetap mengatakan bahwa dia jujur karena pengakuannya sendiri bahwa dia tidak melakukan pembiaran. Taruhlah bahwa Wanda Hamidah berbohong, kebohongannya mungkin saja dapat menyelamatkan nama baik dan karir politiknya, tetapi justru akan mencoreng kesadaran moral dan keutuhan dirinya sendiri. Sampai kapan pun suara hatinya akan terus mengatakan kepada dia, bahwa dirinya pernah berbohong, dan itu sebuah beban moral yang sangat berat.

Dalam konteks inilah saya melihat bahwa sebenarnya kredibilitas seorang Wanda Hamidah sedang dipertaruhkan. Terlepas dari apakah dia melanggar etika atau tidak, tindakannya sendiri telah menimbulkan dilema moral yang sangat berat dalam dirinya: apakah dia seorang yang jujur atau tidak. Hanya Wanda Hamidah yang bisa menjawab pertanyaan ini.[]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selintas Mengenang Taufik H Mihardja …

Dwiki Setiyawan | | 27 August 2014 | 15:21

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta ( Love in The Train ) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 12 jam lalu

Pak Jokowi, Buka Hubungan Diplomatik dengan …

Ninoy N Karundeng | 13 jam lalu

Persaingan Para Istri Bersuamikan WNA …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

“Tuhan, Mengapa Saya Kaya?” …

Enny Soepardjono | 14 jam lalu

DPRD Jakarta Belum Keluar Keringat, tapi …

Febrialdi | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: