Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

Direktur Pemberitaan : Kluget.Com

Siapa Pemenang Pilkada Jateng Bergantung : Jokowi

OPINI | 29 January 2013 | 18:41 Dibaca: 2657   Komentar: 0   1

135945946912078633

Pilkada Jateng 2013 : Proxy War Jokowi dan Bibit (Sumber Merdeka Online)

Suhu politik di Jawa Tengah kali ini meningkat dengan rencana Pilkada Jateng 2013.  Pilkada kali ini sebenarnya juga menjadi bahan ukuran sejauh mana Partai Demokrat masih memiliki pengaruh di Jawa Tengan setelah Pemilu 2009 mampu merampas banyak kantong politik PDIP di Jawa Tengah, sementara pada Pilkada 2012 Demokrat kalah di kandangnya sendiri Provinsi DKI jakarta, saat itu Partai Demokrat dihabisi PDIP yang berada satu garis dengan Jokowi.

Walaupun banyak analis politik menyatakan bahwa berkibarnya nama Jokowi bukan ditentukan Partai dan kekuatan massif-nya, namun oleh branding personal Jokowi yang disambut luar biasa oleh end user politik yaitu : rakyat banyak, dan nama Jokowi berkibaran dimana-mana, dicintai dihatinya banyak orang, menjadi media darling dan pusar dari segala berita-berita politik serta infotainmen di tiap acara TV serta Radio.

Loyalitas tradisional Politik Jawa Tengah itu ada dua yaitu : Golkar dan PDIP, basis-basis massa mereka-pun unik, biasanya Golkar berada di kalangan priyayi dan keluarga birokrat juga di kelas pengusaha sementara PDIP adalah Partainya rakyat jelata.  Polarisasi ini sebenarnya terbentuk akibat perpecahan dukungan PNI pada tahun 1971 dimana PNI loyalis Sukarnois dipaksa dipindahkan jalur massa-nya ke Golkar, polarisasi ini kemudian menjadi klasik setelah fusi 1973.  Tapi baik akar massa Golkar dan PDIP saat ini menemui satu muara ‘kesenangan’ politik yaitu : “Jokowi Effect”.  Peristiwa  Jokowi Effetct dalam dunia politik di Indonesia kemudian menjadikan salah satu elemen preferensi pilihan politik di Indonesia, dan ini jelas kebanggaan bagi subkultur Mataraman dalam memahami bahasa-bahasa politik Jokowi.

Jokowi adalah fenomena dalam menjelaskan bagaimana keinginan rakyat dibaca : -”Mereka butuh pemimpin yang hadir”. Lalu bagaimana dengan Jawa Tengah dalam konteks hubungan Jokowi, Basis Kultur Mataraman dan Pilkada 2013?

Bila di Jawa Barat, masuknya Jokowi sebagai ikon politik Rieke sekaligus garansi politik Rieke tidak mendapatkan sambutan yang meriah, karena mereka melihat banyak faktor yang tak tersambung antara : -wilayah massa, loyalitas politik dan basis kultur. Membuat PDIP di Jawa Barat tidak mampu menambah luasan massa pendukungnya. Rieke yang kurang mengadaptasi keinginan rakyat Jabar gagal memenuhi gairah publik, walaupun didongkrak Jokowi sekalipun.

Tapi apakah Jawa Tengah, Jokowi bisa memainkan politiknya? Jawabannya : Ya. Jawa Tengah tidak seperti Jawa Barat yang lebih dipengaruhi kekuatan sayap kanan. Jawa Tengah memiliki basis massa Nasionalis berarorama subkultur Mataraman, basis ini adalah kandang bagi loyalis Sukarnois.  Kekuatan massa Sukarnois dan PDIP itu memiliki tiga sentrumnya : Di Tapanuli Utara, Jawa Tengah-Jawa Timur Berbasis subkultur Mataraman dan Bali. Ketiga sentrum ini amat kuat basis pada loyalitas partai, faktor Jokowi akan menambah kekuatan ‘gaung politik’ untuk merambah kepada kelompok yang mengambang.

Kekalahan Demokrat dimana-mana karena pemberitaan negatif soal korupsi tentunya akan mengurangi ‘daya gaung’ kekuatan politik Bibit Waluyo, ini persoalan politik yang amat keras bagi Bibit untuk memenangkan pertarungannya di Jawa Tengah.

Terlepas dari kemungkinan berkurangnya suara demokrat dalam menjaring massa di Jawa Tengah, Bibit memiliki kekuatan personal, sebagai Jenderal ia kerap menjawab persoalan rakyat dengan bahasa-bahasa khas kerakyatan yang egaliter, ini jelas tidak sesuai dengan unggah ungguh priyayi Mataraman tapi disinilah kemudian Bibit menyatukan banyak subkultur di Jawa Tengah, seperti kultur Banyumasan, kultur pesisir, kultur jipangan,  kultur samin dan kultur mataraman sendiri. Namun pesona Bibit Waluyo yang mulai menjadi organik di kalangan rakyat Jawa Tengah runtuh dengan kehadiran Jokowi yang ngglenik dan unik, melawan dengan nada melawak namun menohok.

Kisah Bekas Pabrik Es Sari Petojo adalah kisah klasik pertarungan antara Bibit dan Jokowi yang kemudian justru mencuatkan nama Jokowi ke dalam tataran nasional cantuman ingat publik yang justru memojokkan Bibit Waluyo sementara di sisi lain Jokowi mampu mengembangkan sayapnya dengan kuat dan melesat ke pentas nasional justru berawal dari konflik Bibit dengan Jokowi, dan adalah kerugian besar bagi Bibit Waluyo apabila kemudian PDIP dengan cantik menggunakan bahasa politiknya mengingatkan kenangan publik pada konflik itu, dimana Bibit mengatai Jokowi bodoh, dan Jokowi menjawabnya dengan redaksional yang cerdas ala dagelan Solo.

Setelah memenangkan DKI, Jokowi dengan nada ngglenik-nya mampu membuat tertawa banyak orang dengan adegan cium tangan Jokowi ke Bibit Waluyo ini bukan sekedar cium tangan tapi  membahasakan kemenangan politiknya, adegan itu tentu menjadi referensi pilihan politik bagi rakyat, apakah ini bisa dibaca oleh tim sukses PDIP untuk memperkuat basis dukungan, bagaimanapun Jawa Tengah adalah ‘kandang banteng’ terbesar di Indonesia, pada pilkada 2008 ada 44% pemilih memilih Bibit Waluyo dan itu dipastikan adalah loyalis terbesar PDIP, apabila nanti Jokowi masuk dan menjadikan ‘gaung politik’ lebih besar sebagai jaminan politik cagub dari PDIP maka besar kemungkinan Cagub Incumbet Bibit Waluyo akan tersingkir.

PDIP harus menciptakan ‘ruang pertarungan’ bagi bayang-bayang Jokowi ke dalam pertarungan di Pilkada 2013,  dan harus mampu menggiring cagub DKI sebagai tangan Proxy bagi Jokowi untuk bertarung dengan Bibit Waluyo di masa lalu, karena bila ini bisa tepat bidikannya, maka gain politik terbesar berada di PDIP.

Inilah maknanya dari Pilkada Jateng 2013 sebenarnya adalah ‘invisible hand’ dari kekuatan  Jokowi………

-Anton DH Nugrahanto-.

Ngglenik =  Obrolan Yang Menyenangkan dan Nyaman biasanya diiringi oleh senda gurau (Slank Dialek Solo)

Subkultur Mataraman = Wilayah yang dipengaruhi warisan kebudayaan Sultan Agung Hanyokrokusumo, sebenarnya bukan hanya wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur juga memiliki pengaruh Mataraman seperti di Blitar, Madiun dan Kediri.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 10 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 12 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 13 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 14 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 11 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 11 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 11 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 12 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: