Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ridwan Fasih Rasyid

Ekspresi rasa dengan tulisan. Suka Baca Tulisan Orang.

Pilgub Sulsel 2013: Real Count vs Quick Count

OPINI | 25 January 2013 | 16:02 Dibaca: 3003   Komentar: 0   2

Seorang kawan menyodorkan ke saya, secara detil — bahkan amat sangat detil — tentang keabsahan sebuah hasil dini (quick count) penghitungan suara Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan 2013. Ia, secara panjang lebar menuliskan bahwa ‘hitung cepat’ (milik lembaga survei dan by order?) dapat membantu kita untuk menghemat waktu penghitungan karena hanya menghitung 300 hingga 400 sampel suara (dari sejumlah “sample TPS”), ketimbang harus menghitung semua objek hitung (lebih dari 6 juta suara, tersebar di lebih dari 15.000 TPS,  jika ditarik ke soal pemilihan gubernur Sulsel 2013) .  Kawan saya ini –  ia hebat dalam hal hitung-hitungan –  juga berusaha meyakinkan saya, dengan menyebut teori kemungkinan (probability/avarage) yang pernah diajarkan di bangku SD (kawan saya  ini baru mendapatkannya di  SMU).  Ya, ya, ya……

Semua, kita, paham bahwa survei beserta metodologinya, termasuk “cara pemilihan sampel/responden” adalah sebuah ilmu pengetahuan yang memiliki keabsahannya sendiri. Itu tak terbantahkan. Tapi, dalam konteks pilgub sulsel kali ini quick count seharusnya juga dikaitkan dengan integritas dan independensi — termasuk cara rekrutmen? — para ‘data collector-nya’ yang bekerja di lapangan (baca: di TPS). Jadi, bukan ilmu hitung-cepatnya yang bersoal melainkan “manusianya” yg menghitung cepat itu. Lembaga survei sekaliber AC Nielsen pun acap kali, terpeleset dalam hal rating. Tapi ini bukan soal sinetron TV atau produk sabun mandi, melulu bermuara di ujung pencitraan. Ini adalah soal proses mencari pemimpin melalui pesta bernama pemilukada. Hasil akhir hendaknya tidak mengabaikan prosesnya begitu saja. Apa pun metodologinya, ada manusia di belakangnya, bukan?

13591129471706396889

Sayang sekali, memang (kembali ke soal kawan saya tadi) ia lupa menyertakan sebuah frase bahwa sebaik-baiknya ilmu pengetahuan, ada sejumlah manusia  yang dapat mereduksi kebaikan ilmu pengetahuan itu sendiri. Yang ingin saya katakan apakah pekerjaan hitung-cepat itu dilakukan oleh sekelompok orang  demi dan untuk memenuhi keinginan sekelompok orang lainnya. Jika jawabnya “ya”, apakah teori kemungkinan dapat berubah menjadi sebuah “teori sengaja dimungkinkan”? Karenanya, para cendekiawan era Romawi kuno telah mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan amatlah sangat berbahaya jika digunakan tidak semestinya.

Frase tadi, tentu saja tetap berlaku bagi sekelompok orang yang melakukan penghitungan semua sampel (atau semua kertas suara, di semua TPS pada pilgub Sulsel). Jika mereka melakukan pekerjaan itu,  kita namakan saja sebagai “real count” dengan sebagaimana mestinya, lalu hasilnya berberda dengan versi hitung-cepat, ke mana kita sebaiknya mengarahkan pilihan? Walau   tidak efisien waktu, biaya dan tenaga menurut versi kawan saya tadi, apresiasi apa yang patut kita berikan kepada mereka yang telah melakukan itu? Resistensi seperti apa yang bakal terjadi atasnya? Adakah pihak (baca: pasangan calon) yang bersedia melerai pertarungan antara ‘para pendukung’ The Real Count vs The Quick Count itu? Seberapa banyak ban bekas terbakar lagi di tengah jalan kota, haruskah  pagar-pagar kantor beruntuhan terkapar? Haruskah urusan mereka yang tak tahu-menahu urusan soal teori kemungkinan terhambat akibat jalan macet? Berapa banyak anak sekolah matanya nanar karena telat datang penjemputnya?

Perjalanan masihlah panjang. Masih banyak tahapan yang harus dilalui oleh pemangku kewenangan (KPUD Sulsel). Kita tunggu mereka menuntaskan pekerjaannya.

Demokrasi, termasuk ilmu pengetahuan, tak akan banyak  bermanfaat jika berada di tangan yang salah.[Teks: Iwan R Rachman-Foto: Repro]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 7 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 8 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 9 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: