Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Berthy B Rahawarin

berthy b rahawarin, aktivis.

Surya Paloh “Post Power Syndrome” Akut?

OPINI | 22 January 2013 | 09:45 Dibaca: 3659   Komentar: 3   4

1358822019168760717

Surya Paloh Tinggalkan Golkar (sumber: jaringnews.com)

Situasi Partai Nasdem seperti sekarang akan sulit dipahami, dan tidak terbayangkan, bahkan oleh mereka sendiri. Terutama setelah Hary Tanoe (HT) dan beberapa sejawat politik mengundurkan diri, meninggalkan Suya Paloh (SP) yang ‘kesepian’ dan terkejut (mungkin) dengan langkah “Anak-anak” muda ini.

Pelbagai faktor lain akan sulit menjelaskan langkah “bunuh diri” politik SP yang ditinggal, maupun mereka yang ‘pergi’ membawa ‘bendera putih’ menyerah berlaga di medan Partai Nasdem. Kalau semuanya hanya dipandang dari kaca-mata politik dan perspektif lainnya, sulit menerangkan spekulasi politik SP dan Nasdem, yang terbangun dan capaiannya seperti sekarang.

Kita berusaha memahami dari aspek psikologi, transaksional SP yang sudah senior dan HT dan rekan-rekan yang dikategorikan sebagai “masih” anak-anak muda dalam politik. Karena, akhir-akhirnya, ini soal mehamai atau dipahami dan saling menghargai, seperti dikatakan psikolog Abraham Maslow.

Paham akan Surya Paloh

Satu faktor yang mungkin akan memberi penjelasan untuk secara rasional untuk situasi Partai Nasdem seperti sekarang adalah memahami keadaan Pemimpin Group Media yang juga Pemimpin Partai Demokrat itu. Pendekatan psikologis, terhadap transaksionalnya SP dengan SP maupun mereka yang berada di seputarnya. Dari perkembangan pemberitaan media maupun berjumpa secara fisik, fenomena SP terindikasi sedang dalam kondisi puncak Post Power Syndrome Acute (PPS-A).

Sebenarnya, ada tiga ranah orang yang dalam keadaan PPS, yaitu pada gejala fisik, emosi, dan perilaku. Untuk kondisi fisik, pada pengalaman saya, atau Anda yang bertemu hanya sekali-sekali dengan SP, Anda akan lebih obyektif tahu bahwa SP tidak sedang dalam stamina prima seperti ‘ditampilkan’ di TV. SP terkadang sudah menggunakan tongkat, dalam arti seharafiahnya. Dalam ranah ini, SP mendapati diri tidak seperkasa gambar layar, dan realita fisiknya yang sebenarnya. Tidak menerima kenyataan bahwa tubuh terus “bertambah” usia, adalah suatu kenyataan PPS.

Dalam ranah emosional, tentu tidak langsung tampak bagi publik. Orang dengan fenomena akut PPS adalah mudah tersinggung, pemurung, senang menarik diri dari pergaulan, atau sebaliknya cepat marah untuk hal-hal kecil, tak suka disaingi dan tak suka dibantah. Dalam keadaan seperti ini, mereka yang memahami keadaannya dan “memenuhi kehendak hati”-nya, akan mendapat perhatian SP, misalnya.

Memang, dalam keadaan sehari-hari SP tampak hebat di podium, diberi applause massa, penuh tawa-canda, tetapi seorang yang mengalami PPS, menyimpan semua keadaan sebenarnya dalam dirinya yang sebenarnya pemurung, menarik diri dari pergaulan, cepat emosional, dan tak suka dibantah.

Dalam ranah emosional ini, tentu lebih kedalam koleganya, mereka akan mengisahkan indikator PPS itu. Tapi, sekali lagi, apa yang tampak di permukaan penampilannya, SP sebenarnya seorang “kesepian” di tengah keramaian partainya Nasdem baru dinyatakan lolos sebagai Pemilu 2014.

Ranah perilaku adalah ranah lain di mana PPS menjadi seorang pendiam, pemalu atau sedang bernostalgia hebat tentang kesuksesan. Mudah bagi mereka yang berada di dekatnya untuk memahami lebih baik perilaku PPS pada keseharian.

Tapi, dalam seorang politisi seperti SP, semuanya “tampak” TIDAK seperti yang disebutkan sebagai indikasi PPS. Jika lebih dalam masuk kedalam ‘ruang pribadi’ SP, sebenarnya, amat mungkin PPS-A justeru sedang hebat mendera keadaan SP.

PPS, SP dan HT

Harus segera diingatkan, bahwa kondisi PPS bukan monopoli SP. PPS adalah kondisi wajar yang dialami warga senior di atas 60-an tahun, ya, kita semua kelak. Menjadi tidak wajar kalau, PPS tidak disadari dalam pergaulan, baik oleh orang yang mengalami, maupun mereka yang hidup bersamanya. Kalau tidak ada kesadaran diri pada yang mengalami di satu sisi, dan ketidak-pahaman orang sekitarnya di lain pihak, maka segera menjadi bencana. Itulah yang dialami Partai Nasdem.

Jadi, orang-orang Partai Nasdem, termasuk HT, membutuhkan orang ketiga ketika keadaan ketidak-sepahaman itu memuncak. Karena, SP tidak akan melakukan bunuh diri, jika menyadari keadaannya.

Tinggal pertanyaan: Mungkinkah HT dan teman-temannya di Nasdem dapat kembali melakukan pembicaraan alternatif? Pada hemat saya, ada saling pengertian pada keadaan ini, semuanya dapat menghormati secara dewasa. HT dan teman-teman tidak perlu merasa digurui atau dikuasai oleh SP. Hanya itu yang mungkin membuat kita paham pada kondisi Nasdem.

Betapa pun misalnya tidak dapat bersatu kembali sebagai satu Partai Nasdem, hemat saya, HT dan Tim-nya dapat menunjukkan kebesaran jiwanya dengan mengunjungi SP dan rekan-rekan se-Nasdem. Islah psikologis, tidak harus berarti islah politik. Syukur alhamdulilah saja, kalau itu terjadi.

Bagi mereka yang dewasa politik, HT akan tampak dengan mudah diundang ke partai mana pun. Tetapi, bagi mereka yang matang (personality) politik, pintu tidak mudah dibukakan begitu saja. Karena, HT dapat dipandang belum memiliki courage dan kematangan personality politik. Karena, memang baru dari pengusaha yang “mengambil resiko terjun ke politik”. Tidak sekedar untung rugi, tetapi matang atau belum secara personal, adalah hal berbeda.

Secara psokologis, semua berkontribusi pada keadaan pelik Nasdem seperti sekarang, baik SP maupun HT Cs. Semua berkontribusi. Itu hasil akhir sebuah Tim, begitu juga dampaknya sekarang. Tidak ada yang sangat salah, atau sangat benar. Dalam politik, untung ruginya senantiasa relatif. Begitu juga kontribusi kematangan kepribadian, senantiasa adalah kontribusi bersama sebagai ” a Team”. SP juga tidak dalam keadaan PPS sangat akut.

*) Penulis, Ketua Kelompok Senior Citizens (Lansia) di Jakarta

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Hukum Prabowo-Hatta, Jangan Merusak …

Daniel H.t. | | 20 August 2014 | 11:53

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Keluarga Pasien BPJS: Kenapa Dokter Tulis …

Posma Siahaan | | 20 August 2014 | 12:48

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 5 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 9 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 9 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: