Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Sastraadiguna

sedang belajar menulis

Sebenarnya, siapakah Satria Piningit itu?

REP | 21 January 2013 | 18:15 Dibaca: 10985   Komentar: 15   0

Abstrak

Satria Piningit menurut bahasa artinya , satria = ksatria  seorang tokoh yang berjiwa luhur, membela kebenaran, peduli  sosial, mengedepankan Negara dan bangsanya, piningit bhs. Jawa, dari kata dasar pingit artinya simpan, kurung, rahasia. Sisipan / in/ mengandung  maksud kata kerja pasif.

Jadi Satria Piningit artinya seorang tokoh yang  diidolakan tetapi masih dirahasiakan, disembunyikan atau disimpan, gampangnya tokoh misterius.

Satria Piningit

Istilah satria Piningit itu muncul, ketika keadaan masyarakat sedang  kacau, resah masyarakat awam kehidupannya tertekan, mereka ini berada pada era milleniarisme [ Slamet Riyadi, 2000]. Dan ini terjadi pada masa kerajaan Surakarta, seperti yang ditulis oleh Ranggawarsita dalam kegalauannya di  Serat Kalatida.

Hamenangi jaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Milu edan nora tahan

Yen tan milu hanglakoni

Boya kaduman melik

Kaliren wekasanipun

Beja-bejane kang lali

Maksih beja kang eling klawan waspada

Dari sinilah awal muncul sebuah pengharapan masarakat atas kehadiran tokoh yang disebut dengan Satriya Piningit. Spekulasipun beraneka ragam, nyatanya dari masa Surakarta sampai sekarang juga tidak jelas siapakah yang dianggap Satria Piningit ?

Ratu Adil

Di tahun 50-60 an muncul isu tentang kehadiran Ratu Adil,  di pulau Jawa  semua  tokoh spiritual mencoba menerawang tentang datangnya Ratu Adil. Spekulasi bermunculan  yang dilakukan oleh orang yang tak berpendidikan maupun yang memahami disiplin ilmu. Bahkan kala itu, di setiap daerah muncul berbagai aliran kebatinan maupun klenik, yang mencoba mengeksploitir masyarakat untuk mengharap datangnya Ratu Adil. Misalnya saja ;

1] Mbah Sura tahun 1963 di daerah Cepu ada sebuah padepokan yang didatangi  banyak orang dari segala penjuru, yang akhirnya orang-orang itu disuruh membeli Pentung Kolor Iket. Indoktrinasinya orang-orang yang membeli Pentung Kolor dan Iket itu diharapkan menjadi sebuah kekuatan baru untuk menyambut datangnya Ratu Adil dan tokoh yang diidolakan itu adalah Dipa Nusantara Aidit.

2] tahun 1967 di Purwareja Jawa Tengah muncul seorang yang mengaku bernama Pangeran Herucakra, yang memproklamirkan diri menjadi Ratu Adil di Tanah Jawa. Padahal Pangeran Herucakra itu nama lain dari Pangeran Dipanegara.

Imam Mahdi

Pada tahun 70-an ramai dibicarakan tentang akan datang Imam Mahdi, dan juga bermunculan orang-orang yang mengaku sebagai Imam Mahdi, meski mereka sebenarnya tidak tahu persis tentang sejarah dan istilah Imam Mahdi.

Imam al Mahdi atau Imam Mahdi adalah satu nama yang cukup megah di kalangan umat Islam seluruh dunia, sejak dahulu hingga hari kiamat kelak. Imam Mahdi sudah mendarah daging di kalangan umat Islam.

Semua umat Islam yang mencintai kebenaran, sudah pasti menantikan bilakah akan muncul Imam [ pemimpin] yang benar itu, tangan yang cukup kuat untuk melakukan tangkisan ghaib untuk semua umat Islam terhadap segala perkara, dari yang sekecil-kecilnya sampai pada perkara yang sebesar-besarnya, sehingga hidup mereka menjadi sangat aman, makmur, bahagia, penuh berkat dan mencapai kepuncak keemasan bagi segala zaman keemasan.

Akhirnya bertebaran pendapat –pendapat yang telah dibukukan dan menghiasi catalog di toko-toko buku.

Saya masih ingat ketika tahun 1967-1969 banyak kelompok-kelompok spiritual yang membicarakan tentang datangnya Imam Mahdi.  Kegiatan yang semula hanya di sebuah rumah dan dilakukan rumah-ke rumah, akhirnya membawa kelompok itu mendatangi pusat kegiatan di sebuah kota di Jawa Timur.

Apa yang terjadi di pusat kegiatan ? Topiknya memang mengenai Imam Mahdi, tetapi uraian penjelasnya adalah tentang calon pemimpin Negara. Kalau istilah sekarang, semacam jajak pendapat tentang ‘ siapakah yang patut menjadi kepala Negara.’

Satria Piningit, Ratu Adil, Imam Mahdi dan Pemilu

Ketiga istilah ini memang merupakan sebuah isu yang hangat ketika menjelang PEMILU [Pileg/Pilpres]

Nama Ratu Adil, dan Imam Mahdi tidak muncul dalam era reformasi, tetapi untuk makna yang sama dengan istilah Satria Piningit, kembali ke zaman Kerajaan Surakarta.

Apakah ketiga istilah itu merupakan sebuah siklus kepemimpinan di Indonesia? Jika sekarang orang mendambakan atau lebih ekstrimnya menebak tebak tokoh yang diidolakan sebagai Satria Piningit ? itupun tidak salah. Sebab diera sebelum reformasi, isunya adalah imam al Mahdi.

Mengapa sekarang tidak mengharap turunnya  Imam Mahdi seperti di era 50-60 an? karena sudah terkuak bahwa istilah Imam Mahdi lebih cenderung kepada Islamisme. Sehingga tak ada salahnya jika sekarang  yang di blow up adalah Satria Piningit.

Sekarangpun   orang dengan cepatnya menyebut seorang pemimpin dengan mengandai-andaikan sebagai Satria Piningit. Apakah tidak boleh ? ya itu sih, sah-sah saja. Yang perlu dicatat disini, bahwa istilah Satria [ksatria] pada masa sekarang itu bisa sipil atau militer.

Nah persoalannya sekarang ; siapakah sebenarnya Satria Piningit itu ?

Maka jawabannya adalah ; siapapun mereka yang jadi pemimpin, bisa datang dari Sipil tetapi juga bisa saja dari  Militer …

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Satu Malam di Tanjung Bira …

Abdul Rahim | 7 jam lalu

Unjuk Rasa Tuntut Upah Layak di DIY …

Musfingatun Sakinat... | 7 jam lalu

Cody Simpson - Java Sounds Fair 2014 …

Tari Nadya | 7 jam lalu

Unek-unek untuk Presiden Baru …

Folly Akbar | 8 jam lalu

Risalah 365 Doa & Zikir Sehari-Hari …

Nur Hadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: