Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Syaripudin Zuhri

Saya senang bersahabat dan suka perdamaian. Moto hidup :" Jika kau mati tak meninggalkan apa-apa, selengkapnya

Anak-Anak Macan SBY

OPINI | 16 January 2013 | 20:57 Dibaca: 1500   Komentar: 0   0

13583441841133305534

Nazarudin sudah mangaum begitu keras, satu demi satu anak-anak macan SBY mencakar dan mencabik-cabik SBY. begitulah politik, yang ada hanya kepentingan, kawan jadi lawan. Ilustrasi:satuntukindonesia.com

Politik dan lagi-lagi politik, memang asik bagi yang suka politik, ya maklum, setiap manusia kan berbeda satu sama lainnya, yang tak suka politik, politik itu menjengkelkan, hanya membuat sesuatu yang sederhana menjadi sulit dan rumit, pergantian kekuasaan yang mestinya mudah dan murah, akhirnya menjadi begitu rumit dan mahal. Dan itu terlihat ketika di era reformasi politikus kesiangan berlomba-lomba mendirikan partai politi, alasanya sih katanya mau membela rakyat.

Tak tahunya “ada  udang di balik batu”, apa lagi kalau bukan dana yang dikucurkan oleh negara untuk partai politik yang ikut pemilu dan bila menjadi anggota legislatif di tingkat pusat atau daerah, sudah terbayang di depan matanya dari mulai gaji pokok, dan berbagai tunjangan serta fasilitas negara lainnya, sampai ke uang rapat, pembahasan undang-undang atau peraturan daerah lainnya, pokoknya bisa menjadi kaya mendadak atau OKB(orang kaya baru). Dan ini bukan omong kosong, banyak sekali anggota legislatif di tingkat pusat dan daerah tiba-tiba menjadi kaya mendadak, dan heranya sudah kayapun masih juga korupsi!

Unik memang, kalau di luar negeri orang berpolitik setelah kaya, di Indonesia orang justru mencari kekayaan dalam politik, maka jabatan eksekutif dan legislatif di kejar-kejar dan diusahakan dengan berbagai cara agar terpilih, sampai-sampai ada yang utang sana-sini, dan ketika tidak terpilih menjadi anggpoa legislatif pada tingkat pusat  atau daerah, ibarat jatuh ketingga tangga pula, sudah kalah, eh mesti bayar hutang sana-sini dan bahkan ada yang sampai gila, gila beneran!

Yang lebih repot lagi kalau sudah duduk orang nomor satu di eksekutif, di tingkat pusat dan daerah, maka diusahakan, lagi-lagi dengan berbagai cara , agar yang menggantikan dirinya itu ya dari keluarganya sendiri, entah itu istri, anak, saudara, mantu dan lain sebagainya, maka lahirkan kekuasaan dinasti, kekuasaan yang turun temurun. Padahal, yang namanya negara demokrasi mestinya tak terbentuk dinasti, kecuali kalau memang bentuk negaranya kerajaan, kekaisaran, kesultanan dan yang sejenisnya.

Begitulah kalau politik dijadikan alat untuk mencari kekayaan dan maraup kekuasaan, niat awalnya sudah salah! Bukan menjadi anggota legislatif atau eksekutif untuk membela rakyat, membela kepentingan rakyat atau mensejahterakan rakyat, tapi untuk membentuk dinasti. Okelah kalau memang tak ada lagi yang mau maju atau tampil. Namun kalau yang terjadi pemerintahan dinasti yang nantinya bertujuan untuk saling menutupi, agat tidak tetbongkar segala macam kecurangannya selama berkuasa, wah ini yang payah.

Yang terjadi kemudian,  justru uang takyat di curi dengan cara korupsi di berbagai proyek yang sengaja di bangun dan dengan harga yang sudah ditinggikan berkali lipat! Senigga terlihat anggaran proyek tersebut tidak logis, seperti yang dikerjakan oleh koruptor pada proyek Hambalang, yang menjerat tokoh-tokoh di Partai Demokrat, partai pemerintah yang sedang berkuasa.

Begitulah kalau politik dijadikan alat untuk memperkaya diri, bukan untuk mensejahterakan rakyat, rakyat  yang sering di atasnamakan pada saat kampanye dengan janji-janji muluk, angin surga dan lain sebagainya. Namun ketika sudah menjadi anggota terhormat di badan legislatif di tingkat pusat maupun daerah, maka janji tinggal janjji, rakyat pun hanya bisa gigit.

Lalu apa yang terjadi dengan “anak-anak macan SBY” , apakah “anak-anak macan” ini akan menerkam bapaknya atau ditunggu sampai “sang macan” tak lagi menjadi” raja hutan”.  Kalau ini yang terjadi, maka Partai Demokrat akan senasib dengan PKB. Anda mungkin masih ingat, PKB didirikan oleh Gus Dur dan ketika Gus Dur menjadi Presiden, anaknya Yeni Wahid, mendapat pendidikan politik gratis dari bapaknya, Gus Dur, dengan demikian secara tak langsung  Gus Dur sedang memeprsiapakan anaknya.
Tapi apa boleh buat, politik yang kejam, telah menjungkirbalikan nasib Gusdur, dan Gus Dur didongkel kekuasaannya oleh MPR tanpa bisa melawan, lalu Gus Dur lengser. Bagaimana nasib PKBnya? PKB pun pecah berantakan, terbentuklan dua kubu, PKB kubu Muhaiman dan PKB kubu Yeni Wahid. Namun karena PKB sudah berkoalisi dalam pilpres 2009, dan SBY menang dari Partai Demokrat, maka ketika SBY kembali menjadi RI1, sebagai”tanda terima kasih” karena PKB sudah berkoalisi, dihadiahkanlah beberapa menteri di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II ( KIB II).

Dengan demikian PKBnya Muhaimin jelas  mendapat dukungan pemerintah, maka ketika PKBnya Yeni Wahid ikut verifikasi partai calon peserta pemilu 2014, kalah, alias tak lolos verifikasi! Dengan demikian PKBnya Muhaimin, yang dulunya pnuya Gus Dur, di atas angin. “Anak macan” Gus Dur telah makan bapaknya sendiri. Inilah yang  ditakuti SBY! Jangan-jangan ketika SBY tak lagi menjadi Presiden pada 2014 nanti, Partai Demokrat dikuasai “anak-anak macan” SBY, ini yang mungkin saja ditakuti SBY, harusnya Partai Demokrat di pimpin oleh keluarga dekatnya, kini di pegang oleh “anak-anak macan” SBY!

Kalau ini terus menerus terjadi, kemungkinan besar Partai Demokrat akan sama nasibnya dengan PKB, sama-sama Partai yang didirikan oleh Bapaknya lalu dikuasai oleh anak didiknya sendiri, yang kemudian karena suatu dan lain hal mereka melawan, Muhaimin melawan Gusdur dan Anas  Urabningrum melawan SBY! Bila   “anak macan’ SBY semakin kuat, akan terjadi perlawanan hebat! Persis seperti orang-orang negro, orang kulit hitam yang menjadi budak dan pelayan orang kulit putih, yang kemudian mereka sudah begitu tertindas dan digilas, tak tahan lagi, merek berontak, mereka melawan dan dar der dor!

Peluru pun dimuntahkan ke arah tuan tanah yang kejam itu, tubuh-tubuh penguasa penindas itupun habis satu demi satu dihajar peluru panas dan nyawapun melayang! Dan berdirilah sang Django dengan penuh penuh senyum kemenangan, membawa kekasihnya dengan kuda yang menawan! Itu bisa Anda lihat di film terbarunya Quint Tarantino” Django Unchained” Akan nasib SBY seperti para tuan tanah atau kaum bangsawan yang dibantai oleh orang-orang yang merasa terindas di masa kekuasaannya? Akankah SBY “diterkam” bahkan “dimakan” oleh “anak-anak macan” peliharaannya? Nazarudin dan Anggie  sudah “bernyanyi” dan suara mereka mengaum demikian kerasnya, siapa lagi yang akan tercabik dan terobek oleh “auman” mereka. Hanya waktu yang dapat menjawab nanti.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 8 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 9 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 15 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak …

Wahyu Indra Sukma | 8 jam lalu

Gerakan Desa Membangun: Sebuah Paradigma …

Yulio Victory | 8 jam lalu

Berbagai Pandangan “Era Baru Polri Dibawah …

Imam Kodri | 9 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: