Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ismail Elfash

orang biasa yang sedang belajar menulis, mengungkapkan isi hati dan sekedar berbagi

Mas Danet, Selanjutnya Apa yang Anda Inginkan dari Dahlan Iskan?

OPINI | 13 January 2013 | 20:18 Dibaca: 2020   Komentar: 0   3

Kontroversi Tucuxi semakin hangat. Diantara penyebabnya adalah pengakuan dari sang pencipta, Danet Suryatama. Ditambah blow up dari media,  Tucuxi menjadi semakin seksi. Beritanya melebar kemana-mana, semakin jauh dari tujuan semula  penciptaannya. Sang pembuat merasa kebakaran jenggot, sang Menteri merasa jadi korban tes drive. Tapi apes, bagi sang Menteri, sudah celaka malah tak soraki.

Tes Drive, adalah salah satu tahapan pengujian keandalan sebuah produk. Namanya lagi di test, ada kendala, ada kekurangan dan ada kesalahan adalah hal wajar. Dan justru hal itulah yang sedang diuji. Kalau sebuah produk sudah sangat sempurna, buat apa lagi ada test drive? Nyatanya dalam test drive ada kecelakaan, berarti jelas ada kekurangan. Kekurangan inilah yang harus diterima oleh semua pihak, untuk dijadikan bahan masukan, sebagai penyempurnaan di masa yang akan datang. Tanpa perlu ada yang merasa kalah ataupun menang, tanpa harus dijadikan bahan cemoohan. Inilah sejatinya arti dari test drive.

Lain kolam, lain pula ikannya. Lain negara lain pula responnya. Inilah yang terjadi di negara kita. Saling menyalahkan. Saling merasa benar. Hasil dari test drive, adalah terjadinya dua kubu yang berseberangan. Yang satu sibuk menyerang, sedangkan yang satu diam saja. Yang diam saja, dengan kesatria, sudah mengaku salah -walau belum tentu salah-, tapi yang satunya terus menyerang, belum terima mobilnya rusak. Terus, mestinya bagaimana???

Fakta sudah bicara. Pak Menteri sudah celaka, sampai-sampai mempertaruhkan nyawa. Mobil sudah ringsek. Bukankah tindakan yang terbaik adalah, segera lakukan perbaikan! Evaluasi dan perbaiki kekurangannya, buat lagi yang lebih sempurna. Demi merah putih berkibar bangga di mata dunia.

Kalau bicara menang-kalah, sampai kapanpun tak akan pernah ada yang menang. Bukankah kata pepatah, “menang jadi arang, kalah jadi abu”.  Sudah menajdi sifat manusia, kalau  senang, banyak orang yang syirik. Kalau susah, banyak yang sorak. Terlebih kalau melihat dari sisi agama; “seorang mukmin, hendaknya menyembunyikan aib saudaranya”.

Kemanakah nilai-nilai luhur kita? Mau sampai kapan semua kontroversi ini terjadi? Apa hasil dari perselisihan kita ini, terhadap masa depan proyek nasional tentang mobil listrik. Kita sibuk, saling menyalahkan, sementara tetangga kita, Vietnam, sudah me launching mobil listriknya. Kita masih bertengkar, padahal semua hanya debat kusir.

Sebentar, kita tengok saudara kita yang lainnya, Dasep Ahmadi. Beliau tenang-tenang saja bahkan sumringah karena produk mobil listriknya yang bernama Evina, diterima pasar. Dijadikan kendaraan dinas PLN, di test drive oleh Menko Perekonomian, Hatta Rajasa. Bahkan, kabarnya 2013 ini, akan diproduksi sebanyak 2.000 unit. Wow keren!

Masih ingatkah kita, bahwa pada awalnya mobil karya Dasep Ahmadi ini, di kenalkan dan di test drive oleh Dahlan Iskan. Masih segar dalam ingatan kita, bahwa mobil ini pun pada awalnya, tidak luput dari masalah. Sempat mogok, di jalan Tamrin. Kita sibuk mengkritisi, Dahlan Iskan membela bahwa ini bukan mogok, tapi baterainya habis. Sang pencipta, merasa legawa dengan kenyataan ini, lalu mengevaluasi dan memperbaiki. Hasilnya seperti yang kita saksikan saat ini.

Lain Evina lain pula Tucuxi. Lain Dasep Ahmadi lain pula Danet Suryatama. Dua hal yang hampir sama, namun penyikapannya berbeda, dan hasilnya pun jauh beda.

Dahlan Iskan, masih siap kerjasama dengan Mas Danet. Bahkan siap membiayai lagi. Dahlan Iskan sudah mengaku salah, walau belum tentu salah. Dahlan Iskan sudah celaka, bahkan hampir kehilangan nyawa. Dahlan Iskan, sudah dicela dan di hina di media. Saya akui, kini Mas Danet, sebagai pemenangnya, sebagai pahlawannya.

So… selanjutnya apalagi yang anda inginkan dari Dahlan Iskan? Kalau tidak ada, segerah kembali ke tujuan semula, niat mulia mengembangkan mobil listrik, demi Indonesia yang lebih sejahtera.

Salam buat Mas Danet dari Rakyat Jelata.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



Subscribe and Follow Kompasiana: